Saat menjelajahi kawasan bersejarah Depok Lama, muncul sebuah pertanyaan, mengapa di kawasan ini berdiri banyak gereja?
Di wilayah Pancoran Mas, Depok, traveler bisa menyaksikan pemandangan yang tidak biasa. Deretan gereja berdiri dan berjejer dengan rapat.
Di sepanjang ruas jalan, pemandangan gereja yang mengapit sisi kiri dan kanan sepanjang jalan Pemuda, Dahlia, Kamboja, dan lainnya, sudah menjadi hal yang biasa. Saat detikTravel berkunjung kawasan itu pada 25 Desember 2025, begitu banyak gereja, disebut-sebut hampir 200 gereja yang mewakili berbagai denominasi ada di area itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perkumpulan tempat ibadah di area tertentu memunculkan pertanyaan penting. Apa yang menjadi penyebab konsentrasi gereja di Depok Lama, sedangkan wilayah lain di Depok tidak sebanyak memiliki gereja sebanyak itu?
Menurut Boy Loen, tokoh terkemuka di komunitas lokal, jumlah gereja yang di Depok Lama bukanlah sekadar kebetulan. Hal itu merupakan hasil dari keputusan politik yang dipimpin PKS selama dua puluh tahun terakhir.
Baca juga: Sejarah Tradisi Natal Warga Belanda Depok |
Ia menduga ada upaya terkoordinasi untuk membatasi penyebaran tempat ibadah Kristen di wilayah lain di Depok.
"Pemerintah Kota Depok selama 20 tahun belakangan dikuasai oleh PKS. Mereka mempraktikkan politik yang mirip dengan apa yang terjadi di Turki di masa lalu," ujar Boy kepada detikTravel, Senin (22/12).
Dia mencontohkan hal tersebut seperti terjadi di masa lampau pada era Ottoman. Di era tersebut, gereja-gereja dibatasi hanya pada area tertentu saja, untuk mencegah perluasan mereka ke wilayah lain.
"Jadi, Wali Kota Depok itu mempraktikkan politik yang terjadi di Turki. Turki sebelumnya itu kan negara Kristen. Cappadocia itu ada di sana. Daerah situ dulu namanya belum Turki kan. Sekarang udah jadi masjid. Nah si Ottoman itu mempraktikkan mengisolasi. Gereja-gereja di Turki hanya boleh ada di satu tempat yang sekarang masih ada sisa-sisa gereja di era Rasul Paulus, hanya boleh di situ. Itu dipraktikkan di Depok" dia menambahkan.
Deretan gereja di Jalan Sumur Batu, Depok, Jabar (Hans Wilhem/detikcom) |
Pengurus Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC) tersebut menyatakan bahwa kebijakan ini telah menyebabkan 'titik jenuh' di Depok Lama. Umat Kristen yang berusaha mendirikan tempat ibadah di luar wilayah ini seringkali menemui hambatan.
"Suatu jemaat yang terbentuk di luar Pancoran Mas, mereka ditolak dan diarahkan untuk membangun di sini (Depok Lama). Akibatnya, di sini bisa maju sedikit ada gereja kanan-kiri," ujar dia.
Melansir pemberitaan detikNews pada 2023 dengan tajuk '3 Tahun Berturut-turut Depok Jadi Kota Intoleran Versi SETARA', SETARA Institute menilai kota tersebut memiliki keberpihakan terhadap agama tertentu. Adapun, kebijakan untuk penganut agama lain di kota itu belum tercermin secara jelas.
Sudah Mulai Ada Perubahan
Namun demikian, Boy melihat secercah optimisme dalam kepemimpinan yang sedang berkembang sekarang. Ia menyoroti Wali Kota Depok saat ini, Supian Suri, sebagai tokoh kunci yang memicu proses memudahkan pembangunan gereja.
"Kalau sekarang dengan Pak Supian Suri, Pak Supian Suri sudah memberikan izin. Sepanjang memenuhi persyaratan. Cuma ada sekian-sekian dan dapat pengakuan Pak Supian di lingkungan, bangun. Sudah cukup banyak yang belakangan ini mendapat izin dari Pak Wali Kota yang baru" kata dia.
Melansir artikel detikNews dengan tajuk 'Depok Naik Peringkat, Bukan Lagi Kota Paling Intoleran Versi Setara', predikat Kota Depok sudah mulai berubah, tidak lagi terkenal sebagai Kota Paling Intoleran.
Konsekuensi Logis Sejarah Masa Lalu
Di sisi lain, Tour Guide Wisata Kreatif Jakarta, Mutia Azzahra menyebut banyaknya gereja di Depok Lama adalah konsekuensi logis dari status wilayah ini sebagai tanah partikelir milik Cornelis Chastelein pada abad ke-17.
"Menurutku banyaknya gereja di kawasan Depok lama tidak lepas dari latar sejarah kawasan, seorang tuan tanah Cornelis Chastelein, salah satu pejabat VOC yang membebaskan dan mengkristenkan para budaknya. Hal ini yg menjadi akar masyarakat Depok lama, yang sejak awal juga memiliki identitas kristen yang kuat. Gereja yang pada mass itu tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah tapi juga menjadi pusat sosial," kata Mutia saat dihubungi detikTravel, Kamis (24/12).
Deretan gereja di Jalan Sumur Batu, Depok, Jabar (Hans Wilhem/detikcom) |
Ia menjelaskan gereja di kawasan Depok Lama tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat interaksi sosial antara 12 Marga asli Belanda Depok.
Seiring berjalannya waktu, migrasi membawa berbagai kelompok etnis, termasuk Batak, Toraja, dan Sunda, ke wilayah tersebut.
Karena Depok Lama telah lama menganut agama Kristen, para pendatang baru ini sering memilih untuk mendirikan gereja-gereja baru di sekitar wilayah tersebut, sejalan dengan sinode dan tradisi budaya masing-masing.
"Banyaknya gereja di Depok lama merupakan hasil kesinambungan sejarah, perkembangan masyarakat, sosial budaya. Bukan muncul secara tiba-tiba," kata dia.
Mutia mengakui faktor administratif pemerintahan PKS di Depok memang sedikit banyak berpengaruh, tetapi akar sejarah tetap menjadi faktor determinan yang utama.
"Menurut saya, era pemerintah PKS bisa disebut sebagai salah satu faktor, terutama dari sisi kemudahan dan pengelolaan administratif, seperti perizinan dan penataan kota. Namun faktor utama keberadaan dan banyaknya gereja di kawasan Depok Lama tetap berakar pada sejarah panjangnya Depok sendiri sebagai wilayah dengan kontinuitas jemaat Kristen sejak masa kolonial. Apalagi keberadaan gereja Immanuel juga sudah ada jauh sebelum Indonesia merdeka," kata dia.
Deretan gereja di, Depok, Jabar (Hans Wilhem/detikcom) |
Banyaknya gereja yang berdiri di kawasan Depok Lama menggambarkan interaksi yang kompleks antara konteks historis dan dinamika politik Kota Depok. Sejarah yang ditulis oleh Chastelein memberikan latar belakang budaya yang kokoh.
Sementara kebijakan perencanaan tata kota dan perizinan yang diterapkan selama dua dekade terakhir juga tak kalah memainkan peran penting dalam berdirinya banyak gereja di daerah tersebut.
Seiring dengan perkembangan lanskap politik di Depok, masyarakat akan dengan mudah dan cermat mengamati apakah kebijakan pemimpin baru mencerminkan komitmen baru terhadap keragaman atau tidak.
Simak Video "Video Menyingkap Isi Rumah Gubernur Jenderal VOC Reiner de Klerk"
[Gambas:Video 20detik]
(wsw/wsw)















































Komentar Terbanyak
Waspada! Ini Daftar Pangkalan Militer AS di Seluruh Dunia yang Harus Kamu Tahu
Garuda Indonesia Tidak Lagi Berstatus Bintang 5
Gara-gara Monyet, Komodo di Singapore Zoo Telan Boneka yang Dilempar