Pertumbuhan pariwisata Indonesia mencatat angka yang positif. Tapi, pertumbuhan itu harus diperkuat lagi agar ekosistem pariwisata berjalan sehat.
Angka kunjungan wisatawan mancanegara selama tahun 2025 melampaui target yang ditetapkan dalam Rencana Kerja Pemerintah. Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada Senin (2/2) menunjukkan bahwa angka kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia selama 2025 mencapai 15,39 juta atau naik 10,80 persen dibandingkan tahun 2024.
"Dengan pencapaian aktual sebesar 15,39 juta, ini berarti melampaui target, dan hasilnya lebih baik dari yang kami proyeksikan sebelumnya," kata Widiyanti dalam Rapat Kerja dengan Komisi VII DPR RI dikutip dari Antara, Rabu (4/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintah sendiri telah menargetkan angka kunjungan wisatawan mancanegara berkisar 14 juta sampai 15 juta pada tahun 2025. Itu artinya ada pertumbuhan yang cukup signifikan.
Sementara itu, angka perjalanan wisatawan nusantara sepanjang tahun 2025 mencapai 1,20 miliar perjalanan atau tumbuh 17,55 persen dari tahun sebelumnya.
Meski mencatat pertumbuhan, namun capaian tersebut terus dievaluasi dari sisi dampaknya terhadap pelaku industri pariwisata.
Pertumbuhan pariwisata nasional perlu terus diperkuat melalui tata kelola ekosistem yang lebih terintegrasi agar dampaknya semakin dirasakan oleh para pelaku industri.
"Kalau dibilang pertumbuhan pariwisata, kacamata saya adalah bagaimana ekosistem pariwisata itu bergerak baik semuanya. Karena enggak bisa dilihat dari satu sisi bahwa pertumbuhan ini baik," kata Andhy Irawan, Founder dan CEO Mora Group.
Menurut dia, pertumbuhan pariwisata pada praktiknya menunjukkan dinamika yang beragam di lapangan. Ia menyebut ada hotel yang mencatatkan pertumbuhan, namun ada pula yang belum tumbuh optimal.
"Di satu sisi ada yang tumbuh, tapi di sisi yang lain ada yang tidak tumbuh. Dan ini kan harus equal sebenarnya," ujarnya.
Ia menjelaskan ekosistem pariwisata mencakup berbagai unsur yang saling terkait, mulai dari hotel, agen perjalanan, hingga asosiasi dan pemerintah. Perbedaan cara pandang antar unsur tersebut, menurut dia, perlu disatukan agar tujuan pertumbuhan pariwisata dapat tercapai.
"Kalau cara pandang ekosistem berbeda-beda, pasti output-nya juga agak tidak seperti yang diharapkan. Karena tidak mudah memang dan itu harus duduk bareng," ujarnya.
Kolaborasi antara seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat ekosistem pariwisata nasional. Ia menilai pariwisata tidak dapat berjalan hanya oleh satu pihak. Sementara pemerintah memiliki peran penting sebagai pengatur dan pengarah.
"Bahasa saya adalah kayak orkestra. Orkestranya itu negara, sedangkan ekosistem yang dibentuk itu alat-alat musiknya. Jadi negara itu tidak menjual, tapi mengatur," kata Andhy.
(wsw/wsw)












































Komentar Terbanyak
Viral Bule Protes Keras Upacara Adat di Bali, Terganggu Suara Musik
Dulu Viral, Community Center Pamulang Kini Tak Terawat
Kinerjanya Cuma Diberi Nilai 50 oleh DPR, Apa Kata Menpar Widiyanti?