Di Jl. Sulaiman, Sukabumi Utara, Kb. Jeruk, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Pasar Bunga Rawa Belong tanpa ragu menjadi destinasi utama. Namun, apakah traveler tahu di tengah keramaian pasar bunga potong segar, terdapat sebuah blok unik yang memancarkan aroma pengantin yang memikat.
Di Blok C Rawa Belong, dapat dilihat aktivitas sibuk para perajin karangan bunga melati. Di ruang ini, aksesori suci untuk pernikahan tradisional seperti suku Sunda, Jawa, dan Batak dibuat dengan perhatian detail yang teliti.
detikTravel berbincang dengan Sule (45), perajin dan pedagang di kios unik bernama 'Mumuh Melati Florist'. Sule mencatat bahwa area tempat ia menjual barangnya berbeda dengan toko di seberang jalan Blok A dan Blok, yang fokus pada penjualan fresh flowers.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Oh yang di seberang kan blok B, A. Buat itu dekorasi taman, taman buat stik merek segala macam kembang di sono. Kalau di sini khusus buat pengantinan, buat kawinan. Contohnya seperti ini, melati. Kalau yang ini kan buat pengantin," ujar Sule kepada detikTravel sembari meronce melati, Rabu (11/2/2026).
Pasar Bunga Rawa Belong (Hans Wilhem/detikcom) |
Meronce melati bukan perkara mudah. Traveler mungkin berpikir ini hanya menusuk bunga dengan jarum, tapi nyatanya butuh kesabaran tingkat dewa. Sule menceritakan bahwa untuk membuat satu paket lengkap aksesoris adat, waktu yang dibutuhkan sangat lama.
"Mendingan kita jadi itu mending beli daripada bikin. Tusuk, lama bikinnya, makan waktu sejam. Sejam, apalagi kita kerja sendiri. Ngerjain sendiri, satu set adat juga makan lima jam," kata Sule.
Jenis ronceannya pun beragam sesuai permintaan adat. Untuk adat Sunda misalnya, ada cengkehan untuk di dada kanan, hingga sarung konde dan pasung.
"Kalau adat Sunda cengkehan tuh di dada buat yang di kanan. Lewehang buat di kiri itu pengasih. Terus sarung konde yang ini nih satu paket, terus pasung pakai, pasung pakai. Cuman kalau buat lakinya cuma makainya keris sama kalungan. Yang dua macam buat lakinya keris kalung," kata dia.
Pasar Bunga Rawa Belong (Hans Wilhem/detikcom) |
Karangan bunga melati ini tidak hanya digunakan untuk pernikahan, sering diminta untuk upacara pemotongan pita dan sebagai karangan bunga selamat datang untuk pejabat.
Meskipun bunga melati terlihat menakjubkan, situasi saat ini menimbulkan tantangan besar bagi para pelaku usaha di sektor perdagangan. Sule mengungkapkan bahwa harga bunga melati telah melonjak secara signifikan, mencapai tiga kali lipat dari harga normal.
Alasan di balik kenaikan ini tidak hanya terkait dengan kondisi cuaca atau musim pernikahan, permintaan ekspor juga memainkan peran penting. Menariknya, melati dari kebun-kebun di Jawa juga diminati di Singapura.
"Lagi melonjak harganya. Ini barengan sama Valentine, Imlek, dan mau puasa orang banyak nyekar. Terus ngaruh juga sama Singapura," kata Sule.
"Orang Singapura berani beli mahal buat sembahyang atau teh. Kalau Singapura harga mahal, (pasar) ke sini ikut mahal. Kita yang di sini mau nggak mau harus berani ngikutin harga sono," dia menambahkan.
Bagi pedagang seperti Sule, harga bunga yang mahal justru membuat keuntungan menipis karena modal yang dikeluarkan sangat besar.
"Mendingan murah daripada mahal. Kalau murah untungnya gede. Kalau mahal ya Allah, kitanya yang ketiban (rugi). Aturan bakal kebeli sirup Marjan, ini mah boro-boro," dia berkelakar menutup pembicaraan.
Bagi traveler yang sedang merencanakan pernikahan atau sekadar ingin melihat proses unik pembuatan roncean melati, datanglah ke Pasar Bunga Rawa Belong, di blok C ya.
(fem/fem)














































Komentar Terbanyak
Waspada! Ini Daftar Pangkalan Militer AS di Seluruh Dunia yang Harus Kamu Tahu
Garuda Indonesia Tidak Lagi Berstatus Bintang 5
Daftar Negara Teraman Andai Terjadi Perang Dunia III, Ada Indonesia?