Danau Rotomairewhenua atau dikenal Blue Lake di Taman Nasional Nelson Lakes, Selandia Baru yang diganjar dengan predikat danau paling jernih di dunia terancam kejernihannya. Ancaman itu salah satunya datang dari wisatawan.
Dikutip dari CNN, Rabu (18/2/2026), danau tersebut pertama kali ditemukan oleh suku Maori dari iwi Ngati Apa. Kini, danau itu diganggu alga mikroskopis invasif yang dikhawatirkan merusak kejernihan air yang selama ini menjadi daya tarik utamanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski alga tersebut sudah terdeteksi di bagian hilir, ada kekhawatiran organisme itu terbawa ke hulu melalui sepatu bot pendaki atau botol minum yang tidak dibersihkan. Untuk mencegah penyebaran, badan konservasi setempat bersama Te Araroa Trust dan iwi Ngati Apa ki te Ra To menerapkan langkah biosekuriti di sepanjang jalur pendakian menuju danau.
Setiap wisatawan diwajibkan membersihkan sepatu dan perlengkapan di pos yang telah disediakan sebelum mendekati area danau. Sejumlah papan peringatan juga dipasang untuk mengingatkan pendaki agar memastikan peralatan mereka bebas dari kontaminasi alga.
Aturan paling tegas adalah larangan menyentuh air danau dalam bentuk apa pun. Wisatawan tidak diperbolehkan berenang, berendam, bahkan sekadar membasuh handuk untuk menyegarkan diri.
Pengunjung juga dilarang menggunakan kamera bawah air dengan cara mencelupkan perangkat ke dalam danau, termasuk kamera aksi seperti GoPro, demi mencegah risiko pencemaran. Larangan tersebut bukan semata soal biosekuriti.
Ada pula alasan budaya yang melatarbelakanginya. Dalam tradisi Maori, Rotomairewhenua dipandang sebagai perairan yang sangat sakral dan memiliki nilai spiritual tinggi.
Selama musim panas, petugas dari Departemen Konservasi atau perwakilan Ngati Apa berjaga di lokasi. Mereka bertugas mengawasi sekaligus memberikan edukasi kepada pendaki mengenai bahaya biologis serta pentingnya menjaga nilai luhur danau tersebut.
Sejauh ini, tingkat kepatuhan wisatawan menunjukkan tren positif. Insiden turis yang nekat menceburkan diri setelah pendakian panjang pun dilaporkan menurun.
Meski begitu, hasil survei mengungkap masih ada sebagian kecil pengunjung yang merasa risiko pencemaran hanya berasal dari orang lain, bukan dari diri mereka sendiri. Otoritas setempat menilai pembatasan jumlah wisatawan bukan solusi utama.
(upd/fem)












































Komentar Terbanyak
Viral Bule Sebut Bali 'Neraka Dunia', Dispar Badung Bereaksi
Cair! Desa Wunut Bagikan THR untuk Seluruh Warga, Termasuk Bayi Baru Lahir
Garuda Indonesia Tidak Lagi Berstatus Bintang 5