Perjalanan kereta api di Indonesia dimulai sejak masa kolonial dan terus berkembang hingga kini. Moda ini menjadi bagian penting dalam sistem transportasi nasional.
Pembangunan jalur pertama dimulai pada 17 Juni 1864 di Semarang oleh perusahaan Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) di masa kepemimpinan Gubernur Jendral Hindia-Belanda, L.A.J Baron Sloet van de Beele. Jalur ini dibangun untuk mendukung distribusi hasil perkebunan ke pelabuhan.
Operasional kereta dimulai pada 1867 dengan rute Semarang-Vorstenlanden (Solo-Yogyakarta). Pada 1875, pemerintah kolonial membentuk Staatsspoorwegen (SS) untuk memperluas jaringan kereta negara, rute awal mereka adalah Surabaya-Pasuruan-Malang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam beberapa dekade, jaringan rel berkembang pesat dan menjadi tulang punggung transportasi darat. Kereta api saat itu digunakan untuk angkutan penumpang dan barang.
Para investor swasta mulai ikut membangun jalur-jalur di berbagai wilayah Indonesia, bukan cuma di Jawa tapi juga menyebar ke Sumatera dan Sulawesi. Di tahun 1876, pembangunan jalur kereta api di Aceh mulai dilakukan, Sumatera Utara pada tahun 1889, Sumatera Barat tahun 1891, Sumatera Selatan 1214, dan Sulawesi di tahun 1922.
Perkembangan yang begitu masif hingga tahun 1928, panjang jalur kereta api dan trem di Indonesia tercatat hingga 7.464 kilometer dan rincian rel yang dimiliki pemerintah sepanjang 4.089 kilometer. Adapun yang dikuasi oleh swasta sepanjang 3.375 kilometer.
Di masa Jepang menguasai Indonesia, perkeretaapian pun diambil oleh bangsa mereka. Di masa tersebut, Rikuyu Sokyuku (Dinas Kereta Api) operasional kereta api hanya dipergunakan untuk kepentingan perang saja.
Setelah kemerdekaan, pengelolaan kereta api diambil alih oleh Indonesia. Peristiwa 28 September 1945 ini kemudian diperingati sebagai Hari Kereta Api.
Pada masa awal kemerdekaan, kondisi perkeretaapian sempat mengalami kerusakan akibat perang. Jalur dan sarana transportasi harus diperbaiki secara bertahap untuk kembali beroperasi.
Memasuki era Orde Baru, pemerintah mulai melakukan rehabilitasi besar-besaran. Peremajaan sarana dan pembangunan jalur baru dilakukan untuk meningkatkan layanan.
Selain di Jawa, jaringan kereta juga berkembang di Sumatera, terutama untuk mendukung angkutan hasil tambang dan perkebunan. Jalur ini masih digunakan hingga sekarang.
Kini, kereta api tidak hanya berfungsi sebagai transportasi massal, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah panjang perjalanan Indonesia dari masa ke masa.
(upd/ddn)












































Komentar Terbanyak
Bisa-bisanya Predator Seks Pati Ngaku Lagi Jalani Ritual di Makam Raden Gunungsari
Pesawat Garuda Berputar-putar 4,5 Jam di Langit India, Terhalang Uji Coba Rudal
Bukan Cuma Riau, Ini Deretan Kota Penghasil Minyak Bumi Terbesar di Nusantara