Pakar soal Kecelakaan Kereta Beruntun

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Pakar soal Kecelakaan Kereta Beruntun

Femi Diah - detikTravel
Selasa, 05 Mei 2026 08:11 WIB
Sejumlah petugas SAR gabungan melakukan evakuasi gerbong KRL yang hancur akibat kecelakaan setelah menabrak kereta jarak jauh Argo Bromo di kawasan Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Selasa (28/4/2026). Proses evakuasi berlangsung dramatis dengan melibatk
Sejumlah petugas SAR gabungan melakukan evakuasi gerbong KRL yang hancur akibat kecelakaan setelah menabrak kereta jarak jauh Argo Bromo di kawasan Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Selasa (28/4/2026). Foto: (Pradita Utama/detikfoto)
Jakarta -

Ahli otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB) menyoroti sejumlah faktor yang dapat memicu kecelakaan antara kereta api dan mobil, berkaca pada dua insiden fatal dalam sepekan terakhir. Salah satunya adalah kemungkinan kombinasi gangguan teknis serta faktor pengemudi.

Peristiwa pertama terjadi saat kereta Argo Bromo Aggrek menubrul KRL dan menewaskan tujuh orang di Bekasi, Jawa Barat, pada 27 April 2026. KRL itu berhenti untuk menunggu evakuasi taksi yang tertemper KRL lain di Stasiun bekasi Timur.

Kejadian kedua melibatkan kereta api dan mobil pada 1 Mei 2026 sampai menewaskan empat orang di daerah Grobogan, Jawa Tengah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ahli otomotif dari Institut Teknologi Bandung, Agus Purwadi, mengemukakan bahwa meskipun kecil, ada kemungkinan gangguan medan elektromagnetik di jalur kereta listrik mempengaruhi sistem elektronik kendaraan, termasuk Electronic Control Unit (ECU) pada mobil dengan mesin pembakaran internal.

"Kalau potensi pengaruh gangguan medan magnetik yang ada jalur KA listrik bisa (terjadi) pada mobil EV ataupun pada ECU di mobil BBM," kata Agus dikutip dari Antara, Selasa (5/5/2026).

ADVERTISEMENT

Dia mengatakan bahwa pengaruh kepanikan pengemudi saat berkendara melintasi jalur kereta juga tidak dapat diabaikan.

Pakar otomotif ITB lainnya, Yannes Martinus Pasaribu, mengemukakan bahwa desain infrastruktur perlintasan kereta yang masih bermasalah di banyak wilayah dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kecelakaan. Dia menyampaikan bahwa area perlintasan yang tidak rata dan memiliki elevasi rel tinggi memaksa kendaraan untuk segera menurunkan kecepatan.

"Kondisi ini meningkatkan risiko kendaraan mogok di tengah rel, yang bisa saja terjadi karena kehilangan momentum, penurunan RPM mesin secara tiba-tiba, serta potensi gangguan pada sistem elektronik kendaraan," kata Yannes.

Dia mengatakan bahwa dalam kondisi yang demikian mobil dengan mesin pembakaran internal sangat bergantung pada kestabilan putaran mesin per menit (Revolutions Per Minute/RPM).

Ketika kendaraan melambat ekstrem atau terguncang, RPM bisa turun drastis dan mesin bisa mati, terutama jika pengemudi tidak sigap menjaga performa mesin.

Selain faktor teknis, Yannes mengatakan, kesalahan manusia masih menjadi penyebab dominan dalam banyak kasus kecelakaan di perlintasan kereta api sebidang.

"Seperti kurang waspada saat melewati perlintasan kereta api tersebut, dan tidak menyadari sudah ada kereta yang mendekat, lalu jadi salah memilih gigi akibat panik saat melintas tanpa memperhatikan sering menjadi pemicu utama," dia menjelaskan.

Yannes mengemukakan pentingnya perbaikan infrastruktur perlintasan kereta api sebidang serta peningkatan kesadaran pengendara untuk mematuhi peraturan saat melalui perlintasan api sebidang guna menekan risiko kecelakaan.




(fem/fem)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads