Kebakaran hutan yang meluas di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, membuat kondisi di sekitar Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) semakin mengkhawatirkan. Kawasan yang dikenal sebagai salah satu destinasi wisata alam dan rumah bagi orang utan itu kini ikut berada dalam ancaman kebakaran.
Selain TNTP, titik kebakaran juga terdapat di sepanjang ruas Jalan Pangkalan Bun-Kotawaringin Lama. Asap yang ditimbulkan mulai berdampak pada kehidupan masyarakat, termasuk kesehatan, pelayanan publik, perekonomian, hingga aktivitas penerbangan.
Bupati Kobar Nurhidayah meminta pemerintah pusat segera memberikan bantuan untuk memperkuat penanganan karhutla. Menurutnya, kondisi di lapangan sudah membahayakan dan tim membutuhkan tambahan personel maupun peralatan pemadaman.
"Kondisi karhutla saat ini sudah tahap membahayakan. Mengganggu kesehatan masyarakat, pelayanan publik dan ekonomi. Bahkan penerbangan ke Bandara Iskandar beberapa hari terakhir sudah banyak yang di-cancel atau dibatalkan," ujar Nurhidayah, Senin (12/10/2026), dikutip dari detikKalimantan.
Pemkab Kobar telah menentukan tiga kawasan yang menjadi prioritas karena menghasilkan asap cukup besar. Lokasi tersebut meliputi Jalan Pangkalan Bun-Kotawaringin Lama, Desa Tanjung Putri, dan kawasan TN Tanjung Puting.
Bagi sektor pariwisata, kondisi ini menjadi perhatian serius. Tanjung Puting merupakan kawasan yang dikenal sebagai destinasi wisata berbasis alam, terutama untuk melihat kehidupan orang utan di habitatnya.
Ya, Tanjung Puting merupakan salah satu habitat penting orang utan, dengan populasi yang diperkirakan mencapai sekitar 6.000 individu. Kawasan ini sekaligus menjadi magnet ekowisata.
Sepanjang 2025, hampir 80 ribu wisatawan tercatat berkunjung ke Tanjung Puting, sebagian besar wisatawan mancanegara yang datang untuk melihat orang utan dan satwa liar di habitat alaminya.
Nah, jika kebakaran dan asap terus meluas, ancamannya bukan hanya terhadap ekosistem hutan, tetapi juga terhadap aktivitas wisata di kawasan tersebut.
Nurhidayah pun meminta pemerintah pusat tidak menganggap kondisi tersebut sebagai persoalan biasa.
"Kondisi ini jangan dianggap sepele. Kami harapkan pemerintah pusat turun langsung ke wilayah Kobar dan Provinsi Kalimantan Tengah, bantu kami dan segera turunkan bantuan," kata dia.
Permintaan itu disampaikan Nurhidayah ketika meninjau langsung lokasi kebakaran hutan di jalur Pangkalan Bun-Kotawaringin Lama. Ia didampingi Sekretaris Daerah, Kepala Pelaksana BPBD, serta sejumlah pimpinan perangkat daerah.
Tim yang turun ke lapangan juga melibatkan Dinas Sosial, Dinas Pemadam Kebakaran, Dinas Kesehatan, Direktur RSUD Sultan Imanudin Pangkalan Bun, dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa. Koordinasi lintas instansi dilakukan untuk menangani kebakaran sekaligus dampaknya terhadap masyarakat.
Menurut Nurhidayah, luasnya area yang terbakar membuat personel harus dibagi ke banyak titik. Sementara itu, keterbatasan peralatan menjadi kendala dalam melakukan pemadaman secara maksimal.
Dia mengingatkan bahwa penanganan karhutla bukan hanya soal memadamkan api, tetapi juga melindungi masyarakat yang mulai terdampak kabut asap.
"Mari kita tingkatkan sinergi untuk bersama-sama saling menyadari tugas kita menyelamatkan keluarga dan masyarakat dari kabut asap ini. Kita berupaya maksimal supaya api bisa padam," ujar dia.
Ancaman terhadap kawasan Tanjung Puting sebelumnya juga membuat relawan yang terlibat dalam pemadaman memilih menarik diri dari lapangan.
Tim gabungan Yayasan Orang utan Hijau Kalimantan (YOHK) dan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kobar menghentikan sementara kegiatan pemadaman. Mereka meminta pemerintah segera mengerahkan water bombing untuk membantu mengatasi kebakaran yang mengancam hutan dan habitat orang utan di TN Tanjung Puting.
Keputusan tersebut terekam dalam video yang kemudian beredar di media sosial. Penarikan personel dilakukan setelah sejumlah pihak menyepakati penghentian sementara upaya pemadaman langsung di lapangan.
Para relawan menilai penanganan yang dilakukan sejauh ini belum memberikan perubahan berarti. Di sisi lain, kemampuan mereka untuk terus melakukan pemadaman secara manual juga sudah mencapai batas.
Salah satu perwakilan YOHK-HPI Kobar, Moncos, mengatakan pihaknya memilih mundur sementara karena dukungan yang tersedia belum cukup untuk menghadapi kondisi kebakaran. Pernyataan tersebut disampaikannya melalui video yang diunggah pada Minggu (11/10).
Simak Video "Video Viral Karhutla di TN Tanjung Puting Saling Berhadapan"
(fem/fem)