Jet lag kerap menjadi momok bagi para wisatawan. Menurut para ahli ada cara paling efektif untuk menyesuaikan tubuh adalah mengikuti ritme cahaya di tempat tujuan.
Dalam sebuah wawancara dengan Travel+Leisure, ahli neurologi bernama Dr. Lynette Gogol menjelaskan semakin banyak zona waktu yang dilintasi, maka semakin terganggu pula sistem tubuh manusia.
"Perjalanan ke arah timur biasanya terasa lebih berat bagi tubuh dibanding perjalanan ke barat, karena jam biologis harus bergeser lebih awal, dan itu secara alami lebih sulit daripada bergeser lambat. Semakin banyak zona waktu yang dilintasi dan semakin lama perjalanan, semakin terganggu sistem sirkadian tubuh," ujar Dr. Lynette Gogol seperti dikutip dari New York Post, Minggu (2/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gogol menekankan kunci pemulihan cepat dari jet lag adalah paparan cahaya pada waktu yang tepat.
"Cahaya dapat langsung mengatur ulang jam biologis. Tapi waktunya sangat penting. Salah waktu bisa memperpanjang jet lag, sedangkan tepat waktu bisa mempercepat tubuh menyesuaikan diri," jelasnya.
Secara praktis, saat bepergian ke timur, cahaya pagi membantu tubuh menyesuaikan diri lebih cepat, sehingga tidur dan bangun sesuai waktu lokal lebih mudah. Sementara itu, cahaya sore sebaiknya diredupkan satu jam sebelum tidur.
Jika perjalanan ke barat, cahaya sore atau awal malam justru membantu menunda jam biologis, membuat tidur lebih larut terasa alami. Paparan cahaya terang tepat sebelum tidur sebaiknya dihindari.
"Tubuh menyesuaikan diri lebih mudah ketika mendapat sinyal yang jelas tentang arah perubahan jam biologis," kata Gogol.
Kalau cahaya alami sulit didapat, cahaya buatan yang terang bisa menjadi alternatif. Paparan sekitar 10.000 lux selama 20-30 menit di pagi hari dapat membantu menyesuaikan jam biologis setelah perjalanan ke timur tapi waktunya harus diperhatikan.
Adapun, perawat dan peninjau medis di Cerebral Palsy Center, Kelsey Pabst, menekankan bahwa jet lag sebenarnya masalah cahaya, bukan tidur semata. Ia menyarankan penggunaan 0,5-3 mg melatonin saat tidur dan penutup mata untuk menghalangi cahaya, terutama pada penerbangan malam atau perubahan zona waktu lebih dari 6 jam.
"Jet lag bukan cuma soal kurang tidur. Itu terjadi saat jam biologis internal tubuh tidak selaras dengan siklus terang-gelap di tempat tujuan. Cahaya adalah sinyal terkuat bagi jam biologis utama di otak, jadi jet lag bisa memengaruhi energi, suasana hati, pencernaan, bahkan ketajaman berpikir," ujarnya.
Dengan mengikuti cahaya di tempat tujuan, wisatawan bisa lebih cepat menyesuaikan diri, tetap bugar, dan menikmati perjalanan tanpa terganggu jet lag.
(upd/ddn)












































Komentar Terbanyak
Dulu Viral, Community Center Pamulang Kini Tak Terawat
Kinerjanya Cuma Diberi Nilai 50 oleh DPR, Apa Kata Menpar Widiyanti?
Wisatawan ke Bali Turun, Koster Janji Temui Kemenhub Minta Harga Tiket Dipangkas