Perjalanan yang memakan waktu yang cukup lama hampir sekitar 3 jam karena saya berjalan santai menikmati alam sekeliling yang masih bisa dibilang setengah hutan jati dan hutan tebu, disepanjang perjalanan ada berpuluh-puluh truk pengangkut tebu yang berbaris sepanjang perjalanan yang hanya cukup dilewati 2 mobil pas, karena kondisi jalan perkampungan yang sempit. Tapi semua itu terbayar lunas ketika saya sampai di lokasi pantai Bale Kambang pada pukul 13.30 WIB.
Menuju lokasi sebelum gerbang masuk pantai Bale Kambang, kita melalui hutan-hutan rimbun, dengan pepohonan khas hutan yang tinggi menjulang, sehingga terkesan agak seram dan gelap. Harga Tiket Masuk Pantai kurang lebih sekitar 10.000 rupiah saja per orangnya, untuk harga kendaraan saya kurang begitu ingat, tapi tidak terlalu mahal.
Saya tercengang beberapa saat mengagumi keindahan pantai tersebut yang ternyata masih tersambung dengan laut selatan, terlihat dengan gulungan ombaknya yang besar dan terkesan ganas, namun keindahan gradasi warna airnya yang terdiri dari warna hijau, biru muda, dan biru tua sungguh-sungguh meneduhkan mata yang melihatnya, pasirnya putih bersih di satu sisi dan pasir coklat di sisi lainnya, serta ditambah dengan cuaca yang saat itu cerah sekali, langit biru tak berawan menambah keindahan alam pantai tersebut. Ada satu pemandangan yang mengingatkan saya pada Tanah Lot di Bali, di Bale Kambang juga terdapat satu pura di tengah lautnya yang mirip sekali seperti yang ada di Tanah Lot Bali, namun disini kita disediakan akses jembatan untuk langsung menuju pura tersebut. Satu lagi yang membuat pantai ini berbeda dari pantai lainnya adalah udaranya sangat sejuk dan tidak panas seperti di pantai kebanyakan lainnya. Mungkin karena faktor pantai ini ada dibalik gunung makanya udaranya sejuk dan sama sekali tidak panas meskipun sebenarnya matahari terik bersinar. Pantai ini ternyata tidak hanya sekedar untuk rekreasi semata, tapi ada juga yang memanfaatkan keindahan alamnya sebagai latar belakang foto pre-wedding. Saya melihat dua pasangan beserta crew fotografernya masing-masing sedang melakukan sesi pemotretan untuk pre-wedding mereka pada hari yang bersamaan tersebut, jadi mauuu.....hehehe...
Satu hal yang disayangkan dari pantai wisata ini adalah tidak terawat, sehingga terkesan sedikit kumuh, namun semua itu tertutup oleh keindahan pantai yang total maksimal membuat pikiran kembali fresh.
Sekitar pukul 4 sore ketika sudah puas berfoto-foto disana, saya kembali pulang. Saya sempat tersasar jauh masuk ke pelosok desa, ditambah lagi hari yang semakin gelap, kanan-kiri hutan dan kondisi kampung yang gelap gulita tidak banyak listrik membuat saya semakin kesusahan untuk mencari jalan keluar apalagi peta penunjuk jalan pun sangat minim sekali. Kemudian setelah saya berhenti beberapa kali untuk bertanya pada penduduk setempat barulah sekitar jam 8 malam saya berhasil menemukan jalan utama kota yang ramai, leganyaaa..... dan kemudian next destination saya adalah Gunung Bromo :)
(gst/gst)












































Komentar Terbanyak
Waspada! Ini Daftar Pangkalan Militer AS di Seluruh Dunia yang Harus Kamu Tahu
Garuda Indonesia Tidak Lagi Berstatus Bintang 5
Gara-gara Monyet, Komodo di Singapore Zoo Telan Boneka yang Dilempar