Kembaran Big Ben London di Bukittinggi
Jumat, 18 Des 2015 11:20 WIB
Muhammad Catur Nugraha
Jakarta - Kalau London di Inggris punya Big Ben yang populer, Bukittinggi di Sumbar punya Jam Gadang yang mirip dan tak kalah keren. Jam Gadang pun menyimpan sejarah yang menarik ditelusuri.Di Bukittinggi, bangunan yang menjadi landmarknya adalah sebuah jam. Tak sembarangan jam, karena yang satu ini berukuran besar dan memiliki tinggi 26 meter. Jam tersebut dikenal dengan sebutan Jam Gadang.Jam Gadang tidak hanya menjadi landmark dari Bukittinggi, tetapi juga merupakan titik nol kota ini. Lokasinya yang berada di tengah kota dan mudah diakses, menjadikan Jam Gadang selalu menjadi incaran para wisatawan yang berkunjung ke Bukittinggi. Dari pagi hingga malam, Jam Gadang selalu ramai terlebih di hari libur.Gerimis yang turun sejak pagi tidak menyurutkan semangat kami untuk berkeliling menikmati keindahan kota ini. Setelah menelusuri sejarah kelam masa pejajahan di Lobang Jepang Bukittinggi, kami beranjak menuju Jam Gadang. Beruntung saat sampai di sana, hujan telah reda dan kami bisa menikmati kemegahan Jam Gadang dari dekat.Hingga saat ini, tidak ada biaya yang dikenakan kepada pengunjung untuk melihat Jam Gadang. Kita bebas menghabiskan waktu di taman yang berada di sekitar untuk memandangi Jam Gadang atau mengabadikan diri dengan latar Jam Gadang yang memiliki 4 jam dengan diameter masing-masing 80 cm.Apabila melihat angka romawi yang menghiasi Jam Gadang dengan teliti, maka kita akan menemukan suatu keunikan yaitu kesalahan penulisan angka Romawi empat (IV) pada masing-masing jam yang tertulis IIII.Dilihat dari sejarahnya, Jam Gadang didirikan pada tahun 1926 sebagai hadiah dari Ratu Belanda kepada Rook Maker. Ia menjabat sebagai Sekretaris atau Controler Fort de Kock (sekarang Kota Bukittinggi) di masa pemerintahan Hindia Belanda.Arsitektur menara jam ini dirancang oleh Yazin Sutan Gigi Ameh, sedangkan peletakan batu pertama dilakukan oleh putra pertama Rook Maker yang pada saat itu masih berusia 6 tahun. Sejak Jam Gadang berdiri hingga saat ini, bentuk atapnya sudah mengalami perubahan sebanyak tiga kali.Awal didirikan pada masa pemerintahan Hindia-Belanda, atapnya berbentuk bulat dengan patung ayam jantan menghadap ke arah timur. Kemudian pada saat Jepang mengambil alih kekuasaan dari Belanda, atapnya berubah menjadi bentuk pagoda dan yang saat ini kita lihat ialah bentuk gonjong yang merupakan atap rumah adat Minangkabau.Jam Gadang selalu dibandingkan oleh jam besar lainnya yang berada di Kota London, yang dikenal dengan sebutan Big Ben. Hal ini memang wajar karena perlu kita ketahui bahwa mesin jam yang ada pada Jam Gadang sama dengan Big Ben.Pabrik pembuat mesin jam tersebut adalah Vortmann Relinghausen dan mesin jam ini hanya dibuat 2 unit di dunia. Sehingga Bukittinggi boleh bangga karena memiliki salah satunya.












































Komentar Terbanyak
Bandara Mencekam, Penumpang Panik-Ketakutan Saat Bos Kartel Tewas
Masjid Jamkaran dan Bendera Merah Balas Dendam
Menhub Usulkan Masjid di Jalur Arus Lebaran Jadi Rest Area Pemudik