Galau? Mendaki Semeru Bisa Mengajarkan Banyak Hal
Minggu, 12 Okt 2014 13:52 WIB
Baron Traveler
Jakarta - Pendakian ke Semeru bukan sekadar petualangan, namun lebih dari itu. Ada banyak hal yang dapat membuat kita belajar lebih dewasa, mulai dari solidaritas, hingga melupakan ego pribadi, dalam perjalanan menuju puncaknya.Mungkin Anda pernah nonton film 5 Cm itu? Film yang membuat gunung ini berubah dan lebih komersil. Dulu, kata rekan pendaki saya, para pendaki tidak perlu menghitung bawa kamera berapa, tenda berapa, berapa potong baju, dan tak perlu membayar beberapa barang itu.Ada kegamangan untuk percaya, bahwa setelah jerih payah yang tak terhitung lagi letihnya, saya bisa menggapai puncak yang menjulang di timur Pulau Jawa, Gunung Semeru. Perjalanan untuk sampai ke puncak mungkin membutuhkan waktu paling sedikit 3 jam. 3 jam ini notabene adalah gunung yang tak terlalu tinggi. Padahal para pendaki saat di puncak, tak sampai satu jam kadang-kadang.Kurang lebih pukul 05.00 WIB pagi, saya dan beberapa rekan saya kala itu berjumlah 8 orang, berhasil sampai puncak Semeru. Di puncak, banyak pendaki telah sampai lebih awal. Ada yang sampai pukul 04.00 bahkan, untuk apalagi kalau bukan demi matahari terbit yang hingga pukul 05.00 WIB ini tak muncul juga.Kabut menjadikanya seperti panggung pertunjukan yang tertutup tirai. Saya berdoa agar kabut itu terbuka dan menunjukan keajaiban. Benar saja, sebuah keindahan tersibak. Sekilas saja, sekilas yang membuat mulut saya menganga. Dan saya dapati, banyak pendaki menggumam dalam takjub serupa. Lautan awan yang begitu putih dengan bias biru langit yang begitu bersih.Belum genap gumaman itu berakhir, kabut mengunci pertunjukan itu lagi. Berulang-ulang, lagi dan lagi. Sepertinya, puncak Semeru tak menginginkan dinikmati dengan rakus. Ia juga tak ingin membuat kecewa, ia hanya ingin dinikmati dengan bersahaja. Itu saja.Di puncak tak lebih dari 1 jam, dan kamu harus menyusuri medan berpasir yang curam selama kurang lebih 4-5 jam. Ditempuh dari jam 1 malam jika kemah di Arcopodo. Sedangkan jika kau kemah di Kalimati, kau harus berangkat lebih awal, jam 11 paling tidak untuk menikmati matahari pagi yang lahir. Dan pendakian di jalur berpasir itu, kawan, begitu mengharu biru. Kadang juga perlu merayap untuk melewatinya.Ya, memang jalur pendakian berpasir seperti itu, bahkan lebih. Hanya saja, di film itu settingannya terang dan seolah-olah yang mendaki cuma 5 orang. Anda akan takjub akan banyaknya pendaki yang merayap rayap seperti tahanan dalam hukuman ketika malam begitu pekat dan lampu senter menjadi satu-satunya cahaya yang menerangi jalan.Belum lagi teriakan, "Batu⦠batu⦠batu!" dalam pekat yang menuntut kita waspada. Ingat, dalam pekat ini apa pun bisa terjadi, karena di samping medan berpasir, ada jurang yang curam dan batu yang menggelinding yang bisa saja menimpa.Kalau lengah, Anda akan seperti batu itu, menggelinding. Karena memang, ada dua pendaki wanita yang cedera dalam perjalanan turun dari puncak. Kala itu saya kurang tahu persis kapan mereka cedera, pas mendaki atau pas turun. Tapi dua perempuan itu memang cedera.Mereka harus digendong. Ya, digendong. Bahkan sebenarnya membawa beban sendiri pun telah susah. Satunya hanya terkilir biasa, jadi kadang hanya dipapah, satunya lagi agak parah karena saya mendengar rintihanya. Di sinilah saya merasakan solidaritas yang tak dapat terkatakan.Buanglah siapa Anda, darimana asal, apa agama, dan apa status sosial. Di sini semua sama. Maka ada pendaki yang menjulurkan tali untuk kita berpegangan ketika medan berpasir itu kian menanjak. Saya berpegangan pada tali itu ketika jalur begitu menanjak.Siapakah gerangan si pembawa tali itu? Tapi begitulah, itu membuat saya terharu. Ada baik yang memang baik, tidak tersamar. Maka, ada juga yang menggendong rekannya, meskipun membawa diri sendiri juga telah penat.Ah, itu sungguh manis. Kebaikan yang manis. Saya perlu mendaki gunung untuk melihat kebaikan-kebaikan semacam itu.












































Komentar Terbanyak
Dugaan Pungli Petugas Imigrasi Batam Jadi Pemberitaan Heboh Media Singapura
3 Kota di ASEAN Paling Murah Versi Turis AS
Macet Puncak Bogor, Masalah Klasik Bikin Semua Pusing Tujuh Keliling