Backpacker Dikira Kurir Narkoba di Singapura

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Backpacker Dikira Kurir Narkoba di Singapura

zaki yamani - detikTravel
Minggu, 11 Mei 2014 12:07 WIB
loading...
zaki yamani
Esplanade
Marina Bay Sands
Backpacker Dikira Kurir Narkoba di Singapura
Backpacker Dikira Kurir Narkoba di Singapura
Jakarta - Bila dibandingkan, ternyata imigrasi di Singapura lebih ketat daripada Malaysia yang menjadi negara tetangga paling dekat. Backpacker terkadang bisa dicurigai sebagai kurir narkoba yang memang kerap menggunakan jalan darat.Terkejut setelah sopir bus jurusan Kuala Lumpur-Singapura setengah berteriak membangunkan para penumpang termasuk saya. Dalam keadaan bingung saya mengikuti arahan sang sopir. "Tulun, tulun... everybody tulun,"Β  teriak pak sopir dengan logat China campur-campur.Sepertinya kebanyakan warga negara Singapura memang bisa berbagai bahasa yaitu China, Inggris, dan Malaysia.Β  Malam itu kami tiba di Woodland Check Point atau tempat pemeriksaan paspor perbatasan negara antara Malaysia dan Singapura.Setelah mengambil tas ransel di bagasi, bergegaslah kami menuju ke tempat pemeriksaan. "Hey, you!" seru petugas sambil mengarahkan telunjuknya kepada kami berdua. "Follow me!" lanjutnya lagi.Tidak tahu, kami termasuk dicurigai sebagai apa. Yang jelas hanya kami berdua yang disuruh masuk ke dalam sebuah kotak dan secara otomatis kotak yang bagi saya mirip kotak alien itu menyemprot."Kotak yang aneh" pikirku.Tapi tak terjadi apa-apa, kami pun disuruh berlalu ke tahap pemeriksaan selanjutnya. Menurut penuturan petugas check pasport di tempat kami mengisi formulir, akhir-akhir ini banyak penyelundup narkoba yang memanfaatkan lewat jalur darat. Jadi mungkin alat yang menyemprot kami tadi adalah pendeteksi narkoba. Mungkin lho! Yang jelas gaya backpaker kami mungkin terlihat seperti kurir-kurir narkoba.Pihak Singapura juga mewajibkan kita mengisi kartu migrasi dan scan Auto Pass card sebelum masuk Singapura. Tas dibongkar dan clear! Sekitar pukul 5.30 waktu setempat kami memasuki pusat kota Singapura.Semua penumpang yang tersisa diturunkan di pinggir jalan tanpa alasan yang jelas. Sebenarnya bagi penumpang yang lain mungkin jelas saja. Tapi karena si sopir ngomongnya China campur Inggris maka bagi kami berdua itu jadi tidak jelasSuasana pagi itu masih sangat sepi, tapi memang Singapura tidak kekurangan listrik, jadi di mana-mana terlihat terang saja. Satu hal yang bagi saya Singapura memang hebat, tidak ada kesan ada preman! Tiba-tiba jadi teringat Indonesia.Wow, ternyata kami turun persis di depan masjid. Alhamdulillah. Di pintu gerbang tertulis Hajjah Fatimah Mosque. Tak lama setelah kami masuk ke halaman masjid, adzan subuh pun berkumandang merdu. Alhamdulillah, jadi rindu Indonesia!
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads