Perjalanan Ke-3 Negara Tetangga (Part 2)
Tafrid Huda - detikTravel
Kamis, 10 Nov 2011 16:02 WIB
Jakarta - Meneruskan cerita perjalanan dari Brunei dalam cerita "Perjalanan Ke-3 Negara Tetangga (Part 1)" sorenya sehabis dari Chinatown aku langsung ke Harbourfront Centre mencari kapal fery yang akan menuju ke Batam. Enaknya di sini, Stasiun MRT di Harbourfront itu dekat banget sama Pelabuhan Ferrynya, nggak satu gedung sih tapi dekat banget, soalnya stasiun MRT itu biasanya di basement, dan begitu kita naik keluar langsung ketemu Harbourfront Plaza. Nah, di situlah tempat membeli tiket kapal ferrynya yang pelabuhannya berada di sebelahnya.Hanya untuk sekadar info, Harbourfront ini dekat dengan Sentosa Island yang di dalamnya ada Universal Studio, Hard Rock Cafe, dan lain-lain. Jadi, kalau mau ke Sentosa ya memang harus ke Harbourfront dulu, terus transfer menggunakan monorail. Berhubung waktu sudah mepet aku nggak ke Sentosa.Tiket kapal ferry harganya sekitar 47 dollar Singapore, untuk perjalanan pulang pergi, ditambah pajak di kedua terminal, dan untuk tiket baliknya itu pakai sistem open tiket yang berarti tiket itu bisa dipakai kapan saja, sebelum tanggal expirednya. Perlu diketahui masa aktif tiket tersebut adalah satu tahun.Ferry berangkat pukul 16.50 waktu Singapora. Kata temanku perjalanannya hanya 5 menit, dan dia bisa menjemput aku jam 5 sore. Wah, pas berarti, jadi aku nggak akan menunggu lama. Rencananya, karena memang sudah lelah seharian jalan seperti gelandangan tersesat di kota, di kapal aku mau tidur ditambah dengan kemampuan bertahan saya melihat laut itu agak kurang membanggakan.Tapi pas sudah di kapal aku bareng sama rombongan travel ibu-ibu dari China atau entah dari belahan dunia bagian mana yang jelas etnis China dan ngomong pakai bahasa Sunda (lho?) pakai bahasa Chinalah. Ibu-ibu itu berisik banget, nggak bisa diem, pada jalan-jalan gitu di kapal yang gedenya gak segede ruang tamu di rumah. Pengen rasanya aku teriak terus dengan beringas membuang mereka satu persatu dari kapal. Tapi, dengan jumlah mereka yang segitu banyak, kekuatan superku pasti tidak akan berguna. Apalagi melawan mereka saat hari masih sore. Kekuatan bulan tidak akan membantuku.Untuk menanggulangi masalah ini aku memasang earphone dan menyetel musik. Mencoba menikmati perjalanan dan perlahan terlelap. Dan, setelah 3 menit kemudian aku kebangun gara-gara mereka pada teriak-teriak nggak jelas.Sesampainya di Batam pukul 16.50 WIB, bagus kan, berangkat jam 16.50 WIB datang juga 16:50 WIB, "Hehehehe." Temanku ternyata belum datang, ya aku nunggu dulu. Oya, temanku ini cewek, tepatnya teman semasa SMA dulu, dari kelas 1 sampai kelas 3 kami satu kelas. Rangking di kelas juga nggak jauh beda, kalau misalnya dia rangking 5 aku juga sama tapi depannya kasih angka 3, padahal muridnya 36. Namanya Pipit, dia juga berasal dari daerah antah berantah di Gunungkidul sana, entah kenapa dia bisa terdampar di pulau Batam ini, hanya dia dan Tuhan yang tahu.Aku pengen ke Batam dari zaman SMA, katanya di sana itu banyak barang-barang murah, baju juga murah, alat-alat elektronik murah tapi ternyata baru aku tahu, murah di sana itu maksudnya murah bagi para orang Singapura. Setelah Pipit datang, kami langsung ke tempat teman omnya yang rumahnya akan aku inaokan.Lumayanlah gratisan daripada mencari hotel yang ternyata orang Jawa juga. Habis ngobrol-ngobrol mandi dan beberes, aku diajak oleh Pipit muter-muter Batam. Dan, sudah jauh-jauh sampai Batam, makanya tetap masih ayam penyet yang pas aku di Jogja malah jarang banget beli ayam penyet. Aku ingin foto-foto dulu tapi ini sudah malam jadi agak susah mencari tempat. Mau ke jembatan antar pulau itu kejauhan dan sudah malam. Hari itu, Pipit juga lagi flu dan akhirnya kami ke Masjid Utama Batam.Karena hari sudah gelap kita memutuskan untuk kembali besok paginya. Padahal kata paranormal auraku itu gelap, jadi aku kelihatan gantengnya kalau berada di tempat-tempat gelap. Habis itu, aku diajak Pipit muter-muter kota di Batam, dari Batam Centre, Nagoya, tapi lumayan lama sih muter-muternya, Harbourbay juga.Aku sempat bertanya pada Pipit, "Apa sih yang khas dari Batam kalau malam?"Dia pun menjawab, "Diskotik." Saat itu keadaan menjadi hening.Masih muter-muter akhirnya mampir di Nagoya Hill yang menurut saya namanya mall dimana-mana itu sama yang beda cuma penjaga-penjaganya. Dan, itu pun sudah jam setengah sepuluh, udah mau tutup juga. "Ngapain ya aku ke situ?hehehe," Yah, buat check in di 4square aja. Kembali ke rumah dan tidur karena aku akan mengejar ferry ke Singapura yang pagi. Biar bisa dapat kereta api dari Singapura ke Kuala Lumpur siangnya.Paginya aku dijemput lagi oleh Pipit sekalian dia berangkat kerja dan aku minta menyempatkan dulu foto-foto di dekat tulisan "Wellcome To Batam", sekadar buat kenang-kenangan gitu. Jam setengah 8 pagi aku diantar ke Pelabuhan Batam Centre, dan ternyata ferrynya berangkat jam setengah 8 sedangkan ferry selanjutnya pukul 09.50 WIB yang berarti waktu Singapure itu pukul 10.50 dan perjalanan ini membutuhkan waktu 45 menit. Berarti sampai Singapura pukul 11:35. Yang aku tahu kereta itu berangkat dari Woodlands pukul 13:00. Berarti cuma punya waktu satu setengah jam, dan aku belum punya tiket, dan gak tahu stasiun kereta api di Woodlands itu sebelah mana.Oke, sebelumya terima kasih banget buat temanku Sari Puspitaningrum yang sudah mencarikan penginapan dan ngajak muter-muter, traktir makan, dan lain-lain. Berapa tahun nggak ketemu dia, "She still cute as always. See you next year at home."Serunya Perjalanan Singapure-KL-Brunei akan aku ceritakan dalam postingan selanjutnya...
(travel/travel)












































Komentar Terbanyak
Koster: Wisatawan Domestik ke Bali Turun gegara Penerbangan Sedikit
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Koster Akui Jumlah Wisatawan Domestik ke Bali Turun di Libur Nataru