Melihat benda ini selalu ada di setiap pantai, bentuknya yang kecil menyerupai kayak atau sampan, terkadang merasa takjub juga bahwa perahu ini hampir setiap harinya mengarungi lautan untuk mengangkut nelayan beserta hasil tangkapannya.
Terlebih lagi dengan sampan-sampan yang ada di Teluk Wabudori. Teluk ini terletak di distrik Sabar Miokre, Biak, Papua. Teluk ini merupakan salah satu teluk yang langsung terhubung dengan lautan Samudera Pasifik. Oleh karena itu, di tengah lautan yang terkadang ganas dengan gelombang dan ombak-ombaknya, sampan ini masih bisa terus bertahan untuk mempertahankan awak beserta tangkapannya.
Saya selalu penasaran, bagaimana bisa perahu yang sangat kecil ini bisa bertahan dari lautan lepas di depan sana. Akhirnya saya memberanikan diri untuk bertanya kepada salah satu nelayan megenai seluk beluk perahu ini. Beliau adalah bapak , yang sudah berumur 67 tahun. Di usianya yang terbilang senja bapak ini masih eksis saja melaut. Selain karena tuntutan kebutuhan ekonomi, bagi beliau laut adalah jiwanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ternyata benar-benar menyenangkan sekali. Ukurannya yang kecil memang tidak bisa menampung jumlah orang yang banyak, tetapi sangat nyaman sekali dinaiki dan tidak mudah goyah. Saat mendengar bahwa sampan ini beliau sendiri yang buat, saya merasa takjub sekali. Di usianya yang sudah di kepala enam, beliau sudah menghasilkan ratusan sampan dan di jual kepada penduduk sekitar dan luar daerah.
Angin yang berhembus menyentuh kulit dan cuaca yang sedikit mendung, membuat hari itu terasa tidak terlalu panas dan sangat nyaman sekali untuk berkeliling teluk menggunakan sampan.
Sembari mendayung, saya bertukar pikiran dengan beliau mengenai pengembangan pariwisata di distrik ini. Menurut saya, akan lebih baik jika sampan-sampan ini dihias sedemikian rupa sehingga dapat dijadikan sarana wisata untuk wisatawan yang datang berkunjung ke daerah ini. Tentunya para nelayan yang memiliki
perahu juga bisa mendapat tambahan pemasukan.
Setelah 20 menit berkeliling teluk, akhirnya kami kembali merapat ke daratan. Bapak dengan sigap segera menambatkan perahu agar tidak hanyut ke laut dan menyiapkan segala sesuatunya untuk melaut keesokan harinya. Hari ini sungguh menyenangkan! (travel/travel)












































Komentar Terbanyak
Bukan Hanya Wisatawan, Menkes Juga Merasa Berat Bayar Tiket Pesawat
DPR Beberkan Biang Keladi Harga Tiket Pesawat Domestik di Indonesia Mahal
Terpopuler: Biang Keladi Harga Tiket Pesawat Domestik di Indonesia Mahal