Jelajah Pulau Tidung Kecil
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Citra Rahman|5419|JAKARTA & KEP. SERIBU|45

Jelajah Pulau Tidung Kecil

Redaksi Detik Travel - detikTravel
Rabu, 04 Mei 2011 13:50 WIB
loading...
Redaksi Detik Travel
Jembatan Cinta
Semak di Pulau Tidung Kecil
Jalan setapak menuju makam Panglima Hitam
Wayang di pagar makam
Makam Panglima Hitam
Jelajah Pulau Tidung Kecil
Jelajah Pulau Tidung Kecil
Jelajah Pulau Tidung Kecil
Jelajah Pulau Tidung Kecil
Jelajah Pulau Tidung Kecil
Jakarta - Kesehatan saya mulai membaik di hari kedua di Tidung. Walaupun masih lemah dan pusing. Tapi saya abaikan saja karena rugi kalau tidak jalan-jalan. Singgah di Puskesmas sebentar untuk cek darah, kami bersepeda ke Pulau Tidung Kecil yang berjarak sekitar satu kilometer dari rumah.

Selagi bersepeda, kami berpapasan dengan penjual buah keliling dengan gerobak; yang sepertinya memang khas orang pulau dengan cara menjualnya yang unik. Semua penjual keliling di beberapa pulau yang saya perhatikan adalah perempuan. Baik itu penjual sayur maupun penjual buah. Mereka juga menggunakan gerobak kecil dan rendah yang didorong. Yang paling unik adalah cara mereka menyebut nama dagangannya, nadanya unik sekali dan hanya ada di Kepulauan Seribu.

Semakin ke ujung pulau, rumah-rumah penduduk semakin jarang. Terakhir ada sebuah sekolah dengan arsitektur berbentuk kapal. Setelah itu hanya ada kios-kios kecil yang semrawut di pinggir jalan.
Untuk ke Pulau Tidung Kecil, ada sebuah jembatan panjang untuk menyeberang yang dikenal dengan sebutan Jembatan Cinta. Pada bagian pangkal jembatan dibuat melengkung setinggi 7 meter karena perairannya dalam. Nah, biasanya di atas jembatan bagian ini biasa orang melakukan ritual melompat ke laut. Sebagai simbol sudah 'sah' ke Pulau Tidung. Sayang sekali saya masih sakit dan belum bisa beraktivitas berat-berat.

Di sebelah kiri jembatan, terumbu karang dapat dilihat dengan jelas. Koral di sini dijaga dengan sangat baik oleh warga dan menjadi lokasi andalan untuk snorkeling. Sayangnya kndisi jembatannya sudah mulai rusak. Ada beberapa papan yang hilang dan keropos dan berlubang. Tapi dengan sepeda sewaan, kendala ini tidak menjadi masalah. Semoga saja ke depan, sarana ini bisa diperbaiki oleh pihak terkait.

Sesampai di Pulau Tidung Kecil, kembali kami menemukan jalan setapak yang terbuat dari paving block. Jalan setapak yang dibangun hanya sampai di kantor kehutanan yang berjarak sekitar 200 meter dari jembatan. Selebihnya hanya jalan setapak tanah yang di kiri-kanannya bersemak. Dengan sepeda yang ada keranjangnya itu rasanya seperti sedang trekking di hutan tapi dengan gaya yang sok imut. Haha..

Kami menemui sebuah makam yang dipugar. Pada nisannya tertera nama Panglima Hitam. Penjaganya mengatakan bahwa beliau adalah pejuang pada jaman Belanda dulu yang konon berasal dari Kalimantan. Cerita punya cerita sih, katanya pernah ada orang Kalimantan yang khusus datang untuk berziarah ke pulau ini dan mengatakan kalau Panglima Hitam ini masih punya keluarga di Kalimantan.

Dari cerita si penjaga makam, memang ada hubungan antara warga di beberapa pulau di Kep. Seribu dengan beberapa suku di Kalimantan. Sayangnya saya tidak mendapatkan data konkrit tentang hal ini. Hanya teman sepetualangan saya yang memastikan bahwa logat warga di Pulau Pramuka hampir sama dengan logat orang Banjar. Sama seperti orang di Pulau Simeulue dengan orang di Pulau Nias. Ada beberapa kesamaan baik logat dan karakter.

Perjalanan kami terhenti sampai di makam tersebut. Setelah berpamitan, kami memutar sepeda dan kembali mengayuh di jalan setapak yang dirimbuni semak belukar di kiri-kanan jalan. Dari semua pulau di Kepulauan Seribu, saya sangat merekomendasikan Pulau Tidung ini untuk kalian kunjungi. Pulau ini tidak hanya menyajikan keindahan pulau dan lautnya, tapi juga keramahan penduduk yang membuat kita betah berlama-lama tinggal di homestaynya.
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads