Detik.com dan Program ACI Membangunkan Macan yang Tertidur

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Endro Catur Nugroho|5772|PAPUA 1|27

Detik.com dan Program ACI Membangunkan Macan yang Tertidur

Redaksi Detik Travel - detikTravel
Jumat, 18 Mar 2011 11:06 WIB
loading...
Redaksi Detik Travel
Jakarta -

Orang yang paling berjasa selama perjalanan ke Papua adalah pendamping kami, Boby Woisiri. Kami biasa panggil dia pung nama Kak Boi. Alya bahkan sering panggil Mas Boi, dengan gaya merajuk seperti karakter Emon memanggil tokoh bernama sama di film Catatan si Boi. Di balik suaranya yang pelan dan santun, Kak Boi punya cita-cita yang luar biasa akan pariwisata di Biak. Kesempatan menjadi pendamping tim Papua 1 di program Aku Cinta Indonesia ini bahkan menurutnya bersinggungan dengan cita-citanya.

Lahir dari keluarga Papua asli, Kak Boi menghabiskan masa kecilnya di Waropen (dulu masih kabupaten Yapen-Waropen). Namun sebagian besar hidupnya ia habiskan di Biak, kota dan pulau yang melekat di hatinya bagai kampung halamannya sendiri.

"Biak itu seperti macan yang tidur," katanya di sore terakhir kami di Biak. "Tempat ini punya banyak keunggulan. Wisata lautnya jelas. Selain itu juga wisata sejarah. Tidak cuma yang berukuran besar seperti gua, benteng, bangunan. Tapi juga benda-benda kecil yang penuh nilai historis."

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia sempat menunjukkan sebuah peneng (emblem nama logam yang tergantung di kalung pejuang Amerika saat Perang Dunia II) bergrafir nama 'Roswell B. Dorsett'. Menurutnya, dari benda seukuran lima kali tiga sentimeter ini tersibak cerita panjang Perang Dunia (PD) II. Cerita sedih, kelam, roman hingga perjuangan yang mengobarkan semangat. Begitu juga dengan kalung, alat cukur, jam tangan, cangkir minum dan benda antik lain. Bisa dibilang, Biak adalah tempat yang pas untuk memutar kembali seluruh memori itu.

Di rumahnya, ada lebih banyak lagi benda-benda kecil sehubungan dengan PD II. Tahun 2006 ia bahkan sempat mengajukan anggaran ke Dinas Pariwisata Kabupaten Biak-Numfor untuk mengadakan pameran sejarah PD II. Sayangnya, musibah yang menimpa keluarga mengurungkan niatnya hingga hari ini.

Kini keadaan jadi lebih menantang. Pihak-pihak yang lebih berkepentingan nampaknya tidak lagi perduli dan mengurus dengan benar aset negara yang satu ini. Untung lah masih ada secercah harapan dalam benak Kak Boi untuk mewujudkan cita-cita itu. Dan program ACI ini nampaknya bisa jadi salah satu pembuka keterkungkungan Biak dari peta wisata Indonesia.

"Detik.com mengirimkan petualang yang cocok dengan gaya wisata di Biak," akunya. Tidak mudah bertualang di tempat ini, ia melanjutkan. Selain karena gegar budaya yang kerap dialami pendatang, jumlah obyek wisata yang 'terlalu' banyak dibandingkan luas daerahnya sendiri bikin semua orang jadi bingung: mana yang mesti didahulukan.

"Saya senang petualang ACI yang datang tidak canggung berbicara langsung dengan penduduk lokal. Ini sangat mempermudah tugas saya," ujarnya.

Selanjutnya, ia berharap ACI tak hanya membuka mata orang Indonesia dan warga dunia tapi juga orang-orang Biak sendiri. "Di ujung timur laut Indonesia, tersimpan kekayaan yang pernah menjadi aset wisata dunia. Para petualang dan pemerintah bisa bekerjasama untuk membangunkan macan yang tidur. Jangan sampai keasyikan tidur malah akhirnya mati," katanya menutup perbincangan kami.

(travel/travel)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads