Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 04 Mei 2021 14:03 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Berburu Cita Rasa Nasi Kapau Langsung di Daerah Asalnya

DEDY NURDA
d'Traveler
Uni penjual Nasi Kapau menunggu pembeli di hadapan hidangannya
Uni penjual Nasi Kapau menunggu pembeli di hadapan hidangannya
Pembeli bebas memilih beragam jenis lauk yang berbeda
Pembeli bebas memilih beragam jenis lauk yang berbeda
Gerbang penanda masuk Nagari Kapau
Gerbang penanda masuk Nagari Kapau
Pembeli mulai berdatangan, mencari hidangan untuk berbuka puasa
Pembeli mulai berdatangan, mencari hidangan untuk berbuka puasa
Aneka lauk dengan harga terjangkau tak menguras isi kantong
Aneka lauk dengan harga terjangkau tak menguras isi kantong
detikTravel Community -

Nasi Kapau adalah hidangan yang sangat menggugah selera. Berburu nasi Kapau langsung ke daerah asalnya sungguh menggoda iman di bulan Ramadan. Begini kisahnya:

Memburu satu jenis tradisi dan budaya, termasuk tradisi soal "selera" hingga ke asal muasalnya, tentu saja merupakan satu pengalaman yang menantang, menyenangkan dan lebih pasti lagi adalah "mengenyangkan".

Banyak di antara pencinta kuliner nusantara, terutama penikmat cita rasa masakan Padang, yang tak asing lagi dengan salah satu "varian" hidangan asal tanah Minang, yaitu nasi Kapau atau masakan Kapau.

Namun banyak orang yang tidak menyadari bahwa "Kapau" itu sebenarnya adalah nama salah satu desa atau kampung kecil, yang dalam bahasa Minang diistilahkan dengan "nagari", yaitu Nagari Kapau.

Nagari Kapau terletak tak seberapa jauh dari Kota Bukittinggi, dapat ditempuh dalam hitungan menit dari kota jam Gadang itu, sekitar 8 km ke arah utara. Dan di masa bulan Ramadhan ini adalah saat yang paling tepat untuk berburu cita rasa di desa yang masih kental mempertahankan tradisi kulinernya hingga kini.

Hanya perlu memakan waktu sekitar 15 menit dari Bukittinggi, kami sudah memasuki gerbang desa yang bertuliskan "Selamat Datang di Nagari Kapau".

Kampung kecil yang berada dalam wilayah administratif Kabupaten Agam ini, terasa begitu tenang dan tentram, dengan luasnya hanya sebanding dengan luas satu atau dua kelurahan di daerah perkotaan dengan tingkat kepadatan penduduk yang terhitung rendah.

Tidak ada ciri khas tersendiri dibandingkan kampung-kampung lain di sekitarnya, kecuali tentu saja tentang nama besar "Kapau" yang sudah mendunia. Hanya ada satu jalan raya utama yang membelah kampung, dengan didominasi areal persawahan di pinggir jalan yang tampak menghijau dan sebagian menguning.

Di balik hamparan lahan pertanian yang membentang itu, di beberapa tempat terlihat kelompok-kelompok kecil pemukiman yang di antaranya dihiasi dengan rumah-rumah bercorak tradisional Minang dengan gonjong tanduknya yang seperti hendak menembus langit.

Tak berapa jauh dari gerbang kampung, sampailah kami di sebuah pertigaan yang merupakan kawasan yang menjadi pusat aktivitas perekonomian dan pemerintahan di Nagari Kapau ini. Kawasan ini ditandai dengan sebuah tugu kecil yang tepat didirikan di pertigaan jalan, dengan deretan toko-toko tradisional di kiri kanan jalannya.

Lalu di manakah pusat kuliner itu? Jangan pernah bayangkan Anda akan menemui pusat kuliner selevel food court yang banyak ditemui mall-mall di kota-kota besar. Atau jangan juga membayangkan akan menemui tempat makan setara rumah makan dan restaurant Padang yang banyak ditemui di kawasan Bendungan Hilir atau di kawasan Tanah Abang atau tempat lainnya di Jakarta.

Di sini, hanya ada terlihat beberapa lapak-lapak yang teramat sederhana, lebih mirip pondok-pondok "darurat" yang didirikan di pinggir jalan. Dengan beratapkan terpal yang ditopang oleh tiang bambu di tiap sudutnya, lalu spanduk dan baliho bekas kampanye caleg pada pemilu beberapa tahun lalu, di pasang melingkar sebagai pengganti dinding.

Atau bisa juga berupa deretan meja beralaskan plastik tipis berwarna-warni, yang di letakkan berjejer "menumpang" di depan pelataran toko warga, menghadap ke jalan. Sungguh sangat jauh dari bayangan akan sebuah kawasan kuliner dengan namanya yang sudah sangat termasyhur di mana-mana.

Sungguh kontras dengan kenyataan bahwa di kota-kota besar banyak rumah makan Padang, khususnya masakan Kapau dengan penampilan gedungnya yang elite dan mentereng, lantai marmer yang mengkilap lengkap dengan meja kursinya yang mewah.

Tak ada di sini gambaran etalase rumah makan yang terang benderang, penyajian yang ekslusif oleh karyawan yang berbaju seragam serta parkiran luasnya yang dipenuhi oleh sederetan mobil-mobil mewah nan berkilau di pusat-pusat kota.

Bukan, bukan suasana seperti itu yang akan kita temui di sini. Sungguh jauh dari kenyataan rumah makan Kapau di negeri perantauan itu bila hendak dibandingkan dengan keadaan di negeri asalnya.

Di sini, semuanya tak berbeda dengan kios-kios kecil ala pedesaan. Tak ada lantai marmer, namun cukup lantai semen atau bahkan lantai tanah pinggiran bahu jalan. Tak ada etalase berkilap, namun cukup hanya meja kayu beralaskan plastik usang dengan pelayanan uni-uni berbaju sederhana yang menyapa ramah.

Semua hal mengenai tetek bengek penampilan itu tidaklah begitu penting di sini. Karena yang paling utama dicari di tempat ini adalah isi dari baskom-baskom serta kuali besar yang disusun berjejer rapi dan bertingkat-bertingkat, yang berisi belasan jenis hidangan lauk pauk yang menjadi semacam "ujian keimanan" di tengah hari di bulan puasa ini.

Siapa yang tak tergoda dengan hidangan gulai kepala kakap penuh santan dan lemak berwarna kuning kemerah-merahan yang berpadu dengan aneka rempah. Atau "kerlingan mata" dari Tambunsu, usus besar sapi yang padat montok berisi dengan racikan isian tahu dan telur plus bumbu rahasianya dengan aromanya yang khas.

Jangan lupakan juga menu khas sekaligus unik yang selalu ditemui jumpai di kedai nasi Kapau, yaitu gulai ikan "batalua". Gulai Ikan nila dengan perutnya yang sedang "hamil besar" berisi telur dengan bumbu ini adalah menu yang tak akan dijumpai di rumah makan manapun selain di kedai nasi Kapau.

Belum lagi menu dendeng kering balado yang kriuk dan krispi yang dimakan beriringan dengan paduan sayuran Kapau dengan formasi lengkap terdiri dari potongan nangka, irisan rebung, lobak serta potongan kacang panjang yang tenggelam dalam kuah gulai kuning kental dengan rasa yang sedikit kecut keasam-asaman sebagai pendampingnya.

Maka terbayang sudah nanti tatkala sepiring nasi putih dengan asap yang mengepul disiram dengan kuah Kapau dan lauk tambunsu, gulai ayam dan dendeng balado yang bertumpuk di atasnya, ditingkahi dengan sedikit sambal "lado hijau".

Ah, ingin rasanya sekarang juga ku pukul beduk masjid sekuat-kuatnya.

Nagari Kapau, awal Mei 2021.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA