Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 21 Feb 2022 14:02 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Berwisata Memanjakan Mata dan Memuaskan Perut di Pantai Tiku

Dedy Rahmat Nurda
d'Traveler
Tiku di saat pasang surut
Tiku di saat pasang surut
Pantai yang landai dengan deretan cemara
Pantai yang landai dengan deretan cemara
Pantai yang luas, landai dan berpasir halus
Pantai yang luas, landai dan berpasir halus
Aneka warung menjajakan aneka kuliner
Aneka warung menjajakan aneka kuliner
Aneka olahan seafood menggugah rasa
Aneka olahan seafood menggugah rasa
detikTravel Community -

Seorang rekan sekerja pernah berkata, 'Bagi anak-anak, belum berlibur namanya jika belum bermain air'. Meskipun ia bukanlah seorang pakar parenting, namun 'sabdanya' kala itu terdengar cukup masuk akal dan meyakinkan.

Maka berpatokan pada "teori pakar dadakan" itu, di masa liburan singkat imlek kemarin diputuskanlah bahwa tujuan perjalanan kali ini mengarah ke tepian pantai. Adalah kawasan Pasia Tiku tempat yang dituju.

Pasia secara harfiah dalam bahasa Minang berarti pasir, namun pada sebagian daerah di Sumatra barat dapat dimaknai secara lebih luas sebagai daerah tepi laut atau kawasan pantai.

Sedangkan Tiku adalah nama nagari, istilah wilayah setingkat dusun atau negeri di Minangkabau. Pasia Tiku berada sekitar 80 km sebelah barat Kota Bukittinggi, atau lebih kurang 2,5 jam perjalanan dari kota berhawa dingin itu.

Lokasinya berada di Kecamatan Tanjung Mutiara Kabupaten Agam Sumatra Barat, sekitar 10 kilometer dari Lubuk Basung sebagai Ibukota Kabupaten. Jika dilihat dalam konteks sejarahnya, kawasan pantai Tiku pada masa abad ke 15-16 adalah sebuah pelabuhan yang sangat penting, yang berada di bawah pengaruh kerajaan Aceh Darussalam.

Kerajaan Aceh Darussalam tersebut pada masa kejayaannya di bawah perintah Sultan Alauddin Ri'ayat Syah, memiliki pengaruh yang besar terhadap daerah-daerah sepanjang pantai barat Sumatra, memanjang dari Aceh hingga wilayah pesisir Sumatra Barat sekarang, mulai dari daerah Singkil, Barus, Tiku hingga Pariaman.

Namun sayang tak satupun terlihat lagi jejak-jejak sejarah pengaruh kerajaan Aceh itu di masa kini. Tak perlu merogoh kocek dalam untuk berlibur ke sini. Tanpa perlu bayar karcis masuk, cukup hanya membayar uang parkir seikhlasnya.

Lokasi wisata ini benar-benar bersahabat bagi kita-kita yang bermodal tipis namun butuh hiburan, terlebih lagi saat tengah berada ditanggal tua di ujung bulan. Pantainya berpasir putih dan halus, luas terbentang serta landai.

Sejauh mata memandang hamparan putih dipadu biru laut hingga batas cakrawala, sungguh menyegarkan mata. Ombaknya cukup tenang, tidak besar namun cukup menyenangkan serta aman untuk para bocah bermain air.

Angin bertiup kencang, sehingga panas terik yang yang menerpa tak terasa menyengat. Para bocah pun berlarian bertelanjang dada dan berkaki ayam, hilir mudik kesana kemari sembari sesekali melompat ke tengah menghempaskan badannya ke air laut yang setinggi lutut kakinya.

Gelak tawa ceria para bocah bersahut-sahutan dengan suara desir ombak yang menghempas pasir disela-sela deru tiupan angin. Jangan khawatir, para orang tua pendamping dapat beristirahat sambil menunggui para kanak-kanak selesai bermain di pondok-pondok dan payung-payung besar untuk bersantai milik bangunan warung-warung semi permanen yang banyak tersedia di sepanjang pantai.

Jangan pula mencemaskan urusan perut. Ada banyak pilihan makanan yang dapat dicicipi disini, mulai dari yang berstatus cemilan sekadar pengganjal perut, minuman pelepas dahaga sampai pada makanan berat untuk mengisi lambung sekaligus memuaskan selera.

Untuk kategori cemilan, kita mulai saja dari berbagai jenis kerupuk atau rempeyek. Ada rempeyek udang hingga rempeyek kepiting. Jangan lupa juga yang paling khas adalah sala lauak, sejenis gorengan berbentuk bola-bola berwarna kuning menyala berbahan dasar adonan tepung dan daging ikan dengan bumbu khasnya yang cita rasanya tak kan terlupa.

Ada juga sate lokan, yaitu isi kerang yang ditusuk-tusuk seperti sate, gulai langkitang (sejenis siput) atau tumis pensi (remis). Untuk kategori minuman pelepas dahaga, tentu saja predikat juara tetap dipegang oleh air kelapa muda yang baru saja diturunkan dari batang pohonnya.

Peringkat berikutnya dipegang oleh berbagai jenis jus buah yang banyak pilihannya, diikuti kemudian oleh berbagai minuman sachetan yang tak kalah ragamnya. Nah tentu saja kategori akhir ini kemudian yang paling dinanti, yaitu makanan berat.

Untuk makanan utama sebagai pengisi perut yang keroncongan setelah bermain seharian, yang paling pas tentu tak akan lepas dari hidangan-hidangan "bergenre" seafood. Ada berbagai varian masakan berbahan dasar ikan, terutama yang favorit berupa gulai ikan, mulai dari ikan kakap, ikan karang atau beragam jenis ikan lainnya. Atau juga berbagai jenis olahan hasil laut lainnya seperti udang, kepiting ataupun cumi-cumi. Belum lagi aneka kreasi masakan khas pesisir berupa kerang yang biasa disebut lokan yang diolah menjadi gulai atau rendang.

Bagaimana soal rasa ? Tak perlu dipertanyakan lagi. Ingatlah, ini Sumatra Barat, negerinya orang Minang. Masih adakah orang yang meragukan cita rasa hasil racikan tangan uda-uda dan uni-uni Minang dalam mengolah kuliner yang terkenal dengan istilah masakan Padang? Ah sudahlah, rasanya terlalu mubazir untuk dijelaskan berpanjang-panjang.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA