×
Ad

Kisah Abadi Pembuat Perahu Kayu Kemujan

- detikTravel
Rabu, 03 Jun 2026 07:03 WIB
Perahu kayu buatan suku Bugis yang menetap di Karimunjawa.
Karimunjawa, Jepara, Jateng -

Menjelajahi Pulau Karimunjawa dengan mengayuh sepeda bagaikan menjaring berbagai pengalaman baru yang penuh warna. Jalan beraspal yang tidak begitu lebar menyatukan para pelancong dengan penduduk setempat dengan sapaan ramah setiap kali bertemu.

Perjalanan bersepeda ini menuju ke barat Pulau Karimun, tepatnya ke Desa Kemujan. Desa ini merupakan tempat tinggal berbagai kelompok etnis yang memiliki beragam adat istiadat, budaya, dan seni tradisional yang telah berkembang, antara lain suku Makassar, Bugis, Mandar, Buton, Batak, Madura, dan Jawa.

Tepatnya di sepanjang pantai Merican Beach, banyak keturunan suku Bugis telah menetap sejak beberapa dekade lalu. Deretan rumah panggung kayu akan menjadi pemandangan yang berbeda di desa ini.

Di tengah hamparan samudra biru yang luas di Desa Kemujan, Pulau Karimunjawa, kehidupan masyarakatnya tak terlepas dari tradisi maritim yang telah lama berakar. Desa ini sebagian besar dihuni oleh keturunan suku Bugis yang dikenal karena keahlian mereka dalam mengolah kayu dan membangun perahu.

Suasana tenang desa, yang dihiasi dengan suara ombak yang menyentuh pantai, menunjukkan kedalaman hubungan antara masyarakat Kemujan dan laut. Perahu kayu yang menjadi andalan para nelayan di desa ini bukan hanya alat transportasi, tetapi juga simbol budaya dan kekuatan tradisi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Di Kemujan, seni pembuatan perahu dimulai dengan pemilihan kayu yang cermat, sebuah proses yang membutuhkan perhatian dan kebijaksanaan yang maksimal. Kayu jati dan kayu besi, yang dihormati karena kekuatan dan ketahanannya terhadap kekuatan air laut yang tak kenal ampun, adalah pilihan yang disukai.

Hanya potongan kayu yang paling istimewa yang dipilih, karena para pembuat perahu yang berpengalaman tahu bahwa fondasi sebuah kapal terletak pada materialnya. Kayu yang tepat tidak hanya memastikan kekuatan perahu yang tahan lama tetapi juga kemampuannya untuk menahan tantangan laut, menjanjikan warisan daya tahan dan keanggunan di atas air.

"Ini pesanan saudara saya. Saya hanya diminta membuatnya. Kami membawa kayu ini dari Kalimantan, mengirimkannya dengan perahu dan butuh lima hari untuk sampai di sini. Kami menggunakan kayu Ulin untuk lambung kapal karena kuat dan kedap air. Untuk bagian lain, kami bisa menggunakan kayu jati," kata Jarna, seorang pria yang telah menjadi tukang perahu di desa itu selama hampir 20 tahun.

Di tengah semilir angin pantai yang lembut, dengungan alat-alat pertukangan kayu elektrik tak pernah berhenti. Dengan tangan terampil dan hati yang sabar, mereka memotong, mengukir, dan membentuk kayu menjadi perahu yang kokoh.

Tangan kuat Jarna terlihat sedang membuat pasak kayu, berbentuk seperti paku, untuk mengikat perahu. Pasak ini, tidak seperti paku besi tradisional, terbuat dari kayu dikenal karena daya tahannya, sehingga menjamin kekuatan dan keutuhan perahu yang tahan lama.

Dalam setiap pukulan palu dan pahat, mereka mengingat ajaran leluhur mereka, yang mengajari mereka cara merakit perahu dengan ketelitian luar biasa. Setiap inci kayu yang dipasang dengan rapat dan hati-hati merupakan bentuk penghormatan terhadap tradisi yang telah ada sejak zaman leluhur mereka. Satu perahu dengan panjang 20 meter dan lebar 6 meter dapat diselesaikan dalam 60 hari.

Ini berarti dalam dua bulan perahu akan siap berlayar. Setelah perahu selesai, proses yang memakan waktu sedikit lebih lama mungkin adalah proses pengecatan. Bagi masyarakat Kemujan, pembuatan perahu adalah upacara budaya yang melibatkan banyak tangan dan jiwa.

Bukan hanya para pembuat perahu yang terlibat, tetapi juga keluarga dan tetangga. Seiring waktu, proses ini menjadi momen untuk mempererat ikatan, berbagi cerita, dan mengenang masa lalu.

Setiap perahu yang selesai dibuat membawa cerita dan harapan baru bagi pemiliknya yang akan berlayar di laut, mencari sumber daya alam yang tak terhitung jumlahnya. Salah satu aspek menarik dari pembuatan perahu kayu ini adalah cara mereka menggunakan alat-alat tradisional.

Semuanya dikerjakan dengan tangan, dengan presisi, dan keterampilan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Bahkan di setiap goresan pada kayu, ada cerita yang ingin disampaikan, tentang perjuangan para nelayan yang melawan ombak ganas, tentang kecintaan mereka pada laut, dan tentang bagaimana mereka menjaga tradisi tetap hidup.

Ketika perahu kayu selesai dibuat, ia menjadi lebih dari sekadar alat penghidupan, ia berubah menjadi sebuah mahakarya, yang dipenuhi dengan semangat dan jiwa masyarakat Kemujan.

Sebagai cerminan kekuatan, ketahanan, dan keindahan budaya Bugis yang tak tergoyahkan, perahu ini berdiri teguh melawan arus waktu. Perahu-perahu ini berlayar melintasi samudra luas, membawa serta kisah dan tradisi yang tak pernah pudar, simbol perjuangan abadi suatu bangsa.

Mereka mengarungi perairan dengan bangga dan teguh, melestarikan warisan leluhur mereka dari generasi ke generasi, sebuah bukti nyata kebanggaan dan ketekunan hati masyarakat Kemujan.




(ddn/ddn)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork