Tren liburan warga Amerika Serikat ke Eropa mulai berubah. Jika sebelumnya musim panas menjadi waktu favorit untuk berlibur, kini semakin banyak wisatawan memilih datang pada shoulder season, yaitu periode di antara musim ramai dan musim sepi.
Perubahan ini dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari suhu musim panas yang semakin ekstrem, kepadatan wisatawan, hingga tingginya harga tiket pesawat dan akomodasi.
Kondisi tersebut mendorong maskapai dan industri pariwisata memperpanjang musim perjalanan demi mengakomodasi permintaan yang terus meningkat.
Mengutip CNBC, Kamis (9/7/2026) sejumlah maskapai besar di Amerika Serikat mulai mengoperasikan rute ke Eropa lebih lama dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Langkah ini dilakukan di tengah tekanan biaya operasional, terutama akibat lonjakan harga bahan bakar pesawat sehingga maskapai berharap dapat mempertahankan tingkat pendapatan dari wisatawan yang memiliki daya beli tinggi. Presiden Delta Air Lines, Peter Carter, mengatakan pola perjalanan internasional kini tidak lagi terbagi jelas.
"Masih banyak destinasi di Eropa yang bisa dinikmati sepanjang tahun. Karena itu kami melihat permintaan perjalanan ke Eropa tetap kuat meski di luar musim panas," ujarnya.
Hal serupa diungkapkan Senior Vice President Network Planning United Airlines, Patrick Quayle. Menurutnya, batas antara musim puncak dan shoulder season kini semakin kabur.
"Periode shoulder season kini semakin panjang dan mulai menyatu dengan musim ramai," kata Quayle.
Fenomena tersebut turut mengubah strategi operasional maskapai. Delta, contohnya, mulai menjadwalkan lebih banyak perawatan pesawat pada musim panas agar armadanya dapat melayani penerbangan pada musim gugur yang kini juga menunjukkan permintaan tinggi.
Selain itu, tiket kelas bisnis pada sejumlah rute dapat mencapai sekitar US$10.000 untuk perjalanan pulang-pergi. Meski harga tiket pesawat masih lebih mahal dibandingkan tahun lalu, tren kenaikan mulai melambat.
Berdasarkan data Kayak, tiket pulang-pergi Amerika Serikat-Athena pada 22 Juni dibanderol sekitar US$988, lebih tinggi dibandingkan tahun lalu sebesar US$810, namun lebih rendah dari dua bulan sebelumnya yaitu US$1.350.
Gelombang Panas Jadi Salah Satu Penyebab
Perubahan pola perjalanan ini juga dipengaruhi cuaca ekstrem yang melanda Eropa dalam beberapa tahun terakhir. Pada akhir Juni, sejumlah kota di Eropa mencatat suhu tertinggi dalam sejarah.
Berbagai langkah darurat dilakukan, seperti penyediaan stasiun pendingin di Warsawa hingga Roma. Di sisi lain, sejumlah kota wisata seperti Barcelona dan Venesia juga menghadapi keluhan warga akibat lonjakan jumlah wisatawan selama musim panas.
Tak hanya cuaca, fleksibilitas pola kerja juga ikut memengaruhi keputusan berlibur. Banyak pekerja muda kini dapat bepergian di luar musim liburan sekolah berkat kebijakan kerja yang lebih fleksibel. Sementara itu, kelompok Baby Boomers yang telah pensiun memiliki lebih banyak waktu untuk bepergian kapan saja.
Sisilia Jadi Andalan Baru di Luar Musim Panas
Selama ini Sisilia identik dengan destinasi musim panas. Namun, maskapai melihat potensi kunjungan pada musim gugur hingga awal musim dingin ketika harga hotel lebih terjangkau dan objek wisata tidak terlalu padat.
Menurut Quayle, keputusan tersebut bukanlah eksperimen berisiko. "Saya justru melihatnya sebagai langkah yang cukup aman," ujarnya.
Meski sejumlah hotel pesisir tutup selama musim dingin, tren kunjungan wisatawan Amerika tetap meningkat pada Maret, April, Oktober, hingga November. General Manager Four Seasons San Domenico Palace di Taormina, Sisilia, Imelda Shllaku, mengatakan bahwa ada peningkatan pemesanan dari wisatawan Amerika pada periode tersebut dalam empat tahun terakhir.
Industri Yakin Tren Akan Terus Berlanjut
Pengamat industri penerbangan sekaligus pendiri Cranky Flier, Brett Snyder, menilai maskapai memang perlu memaksimalkan penggunaan pesawat berbadan lebar sepanjang tahun karena investasi armada tersebut sangat besar.
"Jika sebelumnya pesawat-pesawat itu hanya penuh selama musim panas, kini maskapai memiliki peluang memperpanjang masa operasinya hingga shoulder season," ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan Presiden sekaligus Chief Financial Officer Alaska Airlines, Shane Tackett. Menurutnya, wisatawan kini jauh lebih fleksibel dalam menentukan waktu bepergian.
Bahkan, sebagian orang tua mulai bersedia mengajak anak berlibur di luar jadwal libur sekolah dengan menganggap pengalaman perjalanan bisa punya nilai pendidikan.
Sementara itu, American Airlines melihat Oktober menjadi menjadi salah satu bulan dengan permintaan tertinggi untuk penerbangan ke Eropa. Meski demikian, pihak maskapai menegaskan Januari dan Februari tetap menjadi periode dengan permintaan terendah.
Perubahan pola perjalanan ini menunjukkan bahwa musim liburan ke Eropa semakin panjang. Bagi wisatawan, berkunjung pada shoulder season menawarkan sejumlah keuntungan, seperti harga dan kepadatan pengunjung yang lebih bersahabat, serta cuaca yang lebih nyaman dibandingkan puncak musim panas.
(ddn/ddn)