Meneteskan Air Mata di Tanah Haram

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Meneteskan Air Mata di Tanah Haram

- detikTravel
Jumat, 20 Jul 2012 09:32 WIB
Meneteskan Air Mata di Tanah Haram
(Putri/detikTravel)
Makkah - Teriknya panas matahari terasa begitu membakar kulit, tapi tidak menurunkan semangat orang-orang untuk datang ke Masjidil Haram. Inilah Tanah Haram, tempat berkumpulnya seluruh umat muslim dari berbagai penjuru dunia.

Tak pernah terbayangkan dalam pikiran saya bisa bertamu ke Masjidil Haram, berlutut di depan kabah dan memanjatkan doa penuh khusyuk kepada Tuhan. Tanah Haram yang begitu jauh dari Indonesia ternyata bisa saya capai, dan di sinilah wisata spiritual dimulai.

Saat itu Arab Saudi sudah memasuki musim panas. Tak tanggung-tanggung, suhunya mencapai 45 derajat celcius. Sangat panas memang, sampai-sampai kulit ini terasa seperti terbakar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah membaca niat dan mengenakan ihram, saya bersama orangtua pun mantap melangkahkan kaki masuk ke dalam Masjidil Haram, tempat kiblat umat muslim berada. Sambil terus berjalan, dalam khayal ini terus terbayangkan bentuk kabah yang biasanya hanya dilihat dalam lukisan, atau sekadar foto.

Saya tengok ke kanan-kiri, ada banyak orang lalu-lalang dengan pakaian muslim. Ada yang mengenakan cadar, gamis, atau pun kain ihram. Di sinilah untuk pertama kalinya saya melihat orang dari berbagai penjuru dunia berkumpul di satu tempat. Tidak ada perselihan, yang terpancar hanyalah senyum dengan wajah ramah.

Asyik menikmati suasana, tanpa sadar kaki ini perlahan telah memasuki Masjidil Haram. Angin sejuk dari pendingin ruangan langsung menerpa tubuh. Tampak ada banyak tiang-tiang besar berdiri tegak di dalam masjid.

Sesaat langkah kaki ini tertahan, melihat begitu banyak orang sibuk salat dan membaca Al Quran di dalam masjid. Ayah tampak menganggukkan kepala, memberi petunjuk saya berhenti melangkah, dan memulai salat sunah.

Penuh khusyuk saya angkat kedua tangan memulai salat. Rasa tenteram dan damai langsung masuk ke dalam relung hati ini. Tidak pernah saya merasakan ketenangan seperti ini sebelumnya. Lantunan ayat Al Quran menjadi backsound lembut salat saya.

Sujud saya terasa begitu dalam saat itu di atas karpet merah yang terbentang di dalam masjid. Dua rakaat sudah salat sunah, saatnya memulai tawaf.

Bismillahiallahu Akbar! Terdengar sayup-sayup teriakan orang-orang dari kejauhan. Saya tinggikan pijakan dan berusaha melihat apa yang ada di depan. Gagal! Sumber teriakan tampaknya begitu jauh. Tanpa sabar saya melangkahkan kaki menuju tengah masjid, tempat Kabah berada.

Belum sampai tengah masjid, langkah kaki ini terhenti. Sedetik, dua detik, tiga detik saya terdiam. Tanpa terasa air mata mengucur deras ke pipi, tubuh lemas seketika, raga ini langsung terasa begitu kecil. Tepat di depan saya berdiri tegah Kabah, kiblat seluruh umat muslim seluruh dunia.

Sesaat saya terasa seperti dibawa ke dalam dunia mimpi. Bisa berada di depan Kabah tak ubahnya seperti khayalan yang menjadi kenyataan. Dengan mantap kaki ini perlahan memasuki tempat tawaf.

Mengambil langkah awal di depan Hajar Aswad, bersama dengan orang lain saya angkat tangan, dan bersama-sama berteriak "Bismillahiallahu Akbar," sambil mengecup telapak tangan dan melemparkannya ke kabah. Inilah rumah Tuhan, kiblat umat muslim dari berbagai penjuru dunia.

(ptr/shf)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads