Rumah ini berada di Jalan Soekarno-Hatta, Kecamatan Guguk Panjang, Bukittinggi. Menurut cerita, setelah dilahirkan pada 12 Agustus 1902, Bung Hatta disebutkan tidak lama tinggal di rumah tersebut.
Seperti banyak anak lelaki kecil di Bukittinggi, dia lebih sering tidur di Surau. Bung Hatta tinggal rumah ini sampai berusia 11 tahun, atau hingga bersekolah ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, setara SMP).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bangunan aslinya terbuat dari struktur kayu dan diperkirakan dibangun pada tahun 1860-an. Kemudian mengalami kerusakan hingga akhirnya runtuh pada tahun 1960-an.
Melihat itu, pembangunan duplikat rumah Bung Hatta dilakukan oleh Pemerintah Kota Bukittinggi dan Universitas Bung Hatta. Bentuknya pun masih berpedoman pada bangunan aslinya.
"Beberapa perabotan rumah yang terpajang hingga kini adalah asli milik keluarga Bung Hatta," kata petugas yang menjaga rumah tersebut, Widya kepada detikTravel minggu lalu.
Beberapa perabotan tersebut termasuk meja tamu dan kursinya, beberapa ranjang, dan perlengkapan dapur. Disebutkan juga kalau beberapa kelengkapan rumah seperti kunci-kunci, gerendel hingga tiang-tiang kuno didapat dari masyarakat sekeliling. Inilah yang membuat rumah duplikat Bung Hatta dianggap memiliki suasana seperti aslinya.
Masuk ke dalam, wisatawan bisa melihat tiga bangunan utama rumah Bung Hatta. Yang pertama adalah rumah dua lantai, lalu kamar mandi yang merangkap dapur dan garasi untuk pedati di bagian belakang.
Bangunan ketiga yang diperuntukkan sebagai kandang empat ekor kuda berada di sisi kanan. Selain itu ada juga dua buah lumbung di bagian belakang.
Memasuki rumah ini, wisatawan akan menemui sebuah kamar di sisi kiri yang sejajar dengan teras. Kamar ini disebut dengan nama Kamar Bujang. Inilah kamar Bung Hatta. Di dalamnya bisa dilihat beberapa foto-foto kuno Bung Hatta serta buku-buku.
Masuk ke ruang tengah, akan terlihat dua buah set meja dan kursi sebagai tempat menerima tamu. Ruang tengah rumah ini cukup lega dengan luas sekitar 6x10 meter. Sementara di sisi kanan dan kiri terdapat kamar tidur.
Ruang makan berada di sisi kanan belakang bangunan utama ini. Di ruang makan tersebutlah traveler bisa melihat tangga untuk naik ke lantai dua.
Jangan hentikan penelusuran Anda di rumah Bung Hatta hanya sampai di lantai dasar, naiklah ke lantai dua. Sama seperti di lantai dasar, ruang tengah yang cukup luas juga ada di lantai atas. Di kedua sisinya juga terdapat kamar, termasuk kamar tempat Bung Hatta dilahirkan.
Berkeliling, pengunjung bisa melihat balkon panjang di lantai kedua, juga sebuah kursi goyang yang kabarnya merupakan milik Bung Hatta dan sering dia gunakan. Dari balkon ini, di kejauhan bisa terlihat indahnya Gunung Marapi, salah satu dari dua gunung yang mengelilingi Kota Bukittinggi.
Terus langkahkan kaki Anda berjalan ke arah belakang rumah, kita akan mendapati sebuah taman kecil dan dua buah lumbung padi yang keduanya terpisah jarak satu meter. Sementara di sebelahnya terdapat kamar bujang lain yang juga milik Bung Hatta. Berderet dengan kamar bujang kedua ini adalah kamar mandi, dapur, gudang serta garasi untuk memarkir kereta kuda atau bendi.
Tak jauh dari garasi tersebut pengunjung bisa melihat kandang kuda. Ya, keluarga Bung Hatta memang termasuk golongan terpandang dan berkecukupan. Karena itulah mereka memiliki banyak kuda dan rumah berukuran besar.
Berniat mampir ke rumah Bung Hatta? Rumah yang kini jadi museum ini bisa dikunjungi setiap hari Senin sampai Minggu mulai pukul 08.00 WIB. Tak ada biaya dipungut bagi pengunjung yang datang.
(din/aff)












































Komentar Terbanyak
Viral Bule Protes Keras Upacara Adat di Bali, Terganggu Suara Musik
Investor Serbu Gunungkidul, GKR Mangkubumi: Kita Adalah Jogja, Bukan Bali
Cerita Pilot Wanita Garuda Terbangkan Bryan Adams dan Diundang ke Konsernya