Gunungkidul memang memiliki beberapa gua untuk wisata. Namun, salah satu yang paling terkenal dan berbeda adalah Gua Jomblang.
Tidak seperti gua lain yang bisa dimasuki dengan berjalan kaki atau secara horizontal, Gua Jomblang dimasuki dengan menggunakan tali dan menurun. Ini karena Gua Jomblang masuk dalam deretan gua vertikal.
Gua ini terbentuk akibat amblesnya tanah beserta vegetasi di atas. Lubang yang terbentuk pun langsung menembus dasar bumi dan hal ini terjadi ratusan tahun silam.
Saat ini, turis yang ingin melihat keindahan Gua Jomblang bisa ikut dalam paket wisata. Paket ini menyediakan segala fasilitas untuk turis yang ingin masuk.
"Paket wisata Gua Jomblang sudah ada sejak akhir 2011. Paketnya itu berupa ecotourism, jadi turun memakai tali menuruni lubang sedalam 70 meter," ungkap pengelola paket wisata Gua Jomblang, Cahyo Alkantana saat dihubungi detikTravel, Rabu (5/6/2014).
Usai turun sedalam 70 meter, lanjut Cahyo, wisatawan akan mendarat di atas hutan purba. Hutan ini disebut hutan yang diisi oleh vegetasi purba.
"Sejak zaman dulu sampai sekarang, vegetasinya tak berubah. Banyak vegetasi yang ada di hutan sana tidak ditemukan di atas (gua-red), karena itu saya namakan hutan purba," jelas host acara petualangan ini.
Tiba di hutan purba, wisatawan tidak akan berlalu begitu saja. Anda akan dijelaskan mengenai vegetasi yang ada. Beberapa tumbuhan yang bisa dilihat ada dari jenis beringin atau pakis.
Dari Hutan Purba, wisatawan diajak menuju gua lain yang masih bagian dari Gua Jomblang. Begitu masuk ke dalam, turis akan diajak berhenti di satu titik dengan lubang menganga di bagian atas.
Ketika matahari tepat berada di tengah, cahayanya akan masuk melalui celah gua ini. Cantik, siapapun yang melihat pasti terpesona dengan cahayanya.
"Kita sebut dengan Ray of Light. Ray of Light adalah bias-bias tabir sinar yang terjadi karena adanya uap air yang cukup tinggi. Uap air ini merefleksikan cahaya," terang Cahyo.
Nah, untuk bisa mendapatkan cahaya terbaik, sebaiknya turis tiba sekitar pukul 11.00-13.00 WIB. Ketika itu, matahari akan tepat di atas kepala, dan sinarnya akan sempurna memasuki lubang gua.
"Best timenya pukul 12.00 WIB lah," imbuh Cahyo.
Biasanya, usai dari melihat cahaya, turis sudah merasa lelah. Ada sebagian yang kembali ke atas, tapi tak sedikit pula yang melanjutkan perjalanan.
"Bagi yang belum puas, akan diajak menelusuri sungai menggunakan kayaking," kata Cahyo.
Sayangnya, harga paket ini cukup mahal karena jumlah peserta yang bisa ikut hanya dibatasi. Satu paket hanya berlaku untuk maksimal 25 orang.
"Harganya USD 50 (Rp 594 ribu)/orang. Biasanya turun pukul 10.00 WIB dan selesai pukul 14.00 WIB," kata Cahyo.
Untuk peserta, paket ini bisa diikuti mulai dari anak usia 7 tahun. Tidak ada batasan maksimal umur, yang penting sehat.
"Kategori sehat ini adalah orang yang sanggup melakukan jalan kaki mengitari lapangan sepak bola sebanyak 2 kali," tutup Cahyo.
(aff/aff)












































Komentar Terbanyak
Koster: Wisatawan Domestik ke Bali Turun gegara Penerbangan Sedikit
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Koster Akui Jumlah Wisatawan Domestik ke Bali Turun di Libur Nataru