Wuss! Meluncur dengan Gondola Maut di Pantai Timang

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Wuss! Meluncur dengan Gondola Maut di Pantai Timang

- detikTravel
Rabu, 18 Jun 2014 08:51 WIB
Wuss! Meluncur dengan Gondola Maut di Pantai Timang
Gondola maut di Pantai Timang (Ken/detikTravel)
Gunungkidul - Selain pemandangan lautnya yang menawan, ada satu hal lagi yang menarik perhatian saat berkunjung ke Pantai Timang, Gunungkidul. Ada gondola tradisional dari kayu yang ditarik secara manual. Bahaya, tapi bikin penasaran!

Tunggu, mungkin bukan tradisional. Saat detikTravel pekan lalu melihat materialnya yang dari kayu dan terlihat agak bapuk, mungkin gondola ini bisa disebut primitif. Hmm, bahaya nggak ya ini?

Setelah selesai mengagumi pemandangan, saya pun mendekati area gondola di salah satu tebing setinggi 50-60 meter. Beberapa pria setengah baya tampak duduk-duduk di sekitar gondola itu.

Saya lalu bertanya kepada mereka. Dari hasil bincang-bincang itu, saya tahu kalau gondola itu pertama kali dibangun pada tahun 1997. Awalnya untuk membantu nelayan mencari lobster di karang besar yang berada di tengah laut.

Karang besar itu berjarak kira-kira 50 meter dari pantai. Dulunya, para nelayan mencari lobster ke karang itu dengan cara berenang melewati arus laut yang tinggi dan ganas. Lalu pada tahun 1997, gondola itu dibangun.

"Kalau berenang kan bahaya, jadi dulu ada salah satu nelayan yang melihat gondola di Taman Mini, lalu ada ide untuk membangun ini," kata salah satu nelayan di sana.

Dengan adanya gondola itu, para nelayan memang tak perlu lagi berenang. Tapi apakah gondola itu aman? Entahlah. Yang jelas, gondola itu hanya terbuat dari kayu dan digantung di tambang plastik dengan diameter lumayan besar.

Tali-tali itu dikaitkan ke tiang kayu yang ditancapkan ke karang-karang. Meski tak yakin dengan kekuatannya, saya sempat mencoba menaiki dan menyeberang ke karang di tengah laut gondola itu. Agak deg-gegan juga karena nyaris tidak ada pengaman.

"Berdoa dulu, Mbak," kata salah satu nelayan yang membantu menarik tali untuk menyeberangkan saya. Saya pun makin deg-deg-an.

Tak lama, saya pun meluncur. Wusss..! Ternyata rasanya tak menyeramkan yang saya bayangkan. Paling-paling hanya tiga menit di perjalanan. Di tengah-tengah perjalanan saya sempat diguyur air lair. Basah...

Di karang besar itu, tidak ada apa-apa. Bahkan sesuatu untuk berteduh pun tidak ada. Karena saya berada di sana kurang lebih selama dua jam, kulit saya pun gosong terbakar.

Saya juga sempat turun di karang-karang kecil di bawah karang besar itu. Ada tangga kayu untuk turun. Agak mengerikan sih, tapi saya ingin melihat sendiri di mana lobster-lobster itu berada.

Tapi sayang, saat saya di sana sedang tidak musim lobster. Hanya ada beberapa ekor yang tersangkut di jala nelayan. "Iya, memang sedang tak musim," kata salah satu nelayan berambut gondrong yang malu-malu saat ditanya namanya.

Setelah sekitar dua jam, saya pun kembali ke tebing untuk makan siang. Perjalanan pulang ini sama sekali tidak mendebarkan meski saya tidak yakin dengan keamanan gondola itu. Berani mencoba?

(sst/sst)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads