Beberapa hari mendatang, Indonesia merayakan ulang tahun kemerdekaan yang ke-70. Wisatawan harus tahu, perjalanan negara ini berawal hanya dari selembar kertas di sebuah rumah di Jakarta Pusat. Inilah kisahnya...
Kisah kertas bukan sembarang kertas, di atasnya tertulis naskah Proklamasi yang menjadi tanda kemerdekaan Indonesia. Sebuah gedung tua di Jakarta Pusat adalah saksi bisu perumusan teks proklamasi.
detikTravel mengunjungi Museum Perumusan Naskah Proklamasi ada di Jl Imam Bonjol No 1, Jakarta Pusat, Kamis (13/8/2015). Bangunan dua lantai ini seakan menjadi saksi bisu salah satu peristiwa penting dalam kemerdekaan Indonesia, yaitu perumusan naskah Proklamasi. Berbagai benda di dalamnya menyiratkan semangat proklamasi dan tentu saja kemerdekaan bangsa Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akhirnya, naskah proklamasi pun dirumuskan dengan lancar di bangunan itu. Seiring berjalannya waktu, rumah Maeda mengalami beberapa pergantian kepemilikan dan fungsi. Hingga akhirnya sekitar awal tahun 1990-an gedung ini ditetapkan sebagai Museum Perumusan Naskah Proklamasi.
Hari ini, bangunan museum masih bergaya kuno, kontras dengan gedung-gedung modern lainnya di ibukota. Ketika memasuki museum, terlihat berbagai ruangan dan benda bersejarah, yang seperti membawa wisatawan kembali ke masa lalu. Bendera hias Merah Putih dipasang memanjang di pagar dan depan museum menandai kemeriahan jelang HUT RI.
"Semua disetting untuk mendekati 16 Agustus tahun 1945. Dengan ada barang-barang, pengunjung dapat suasananya. Kaca dibikin agak gelap, lampu temaram agar mirip seperti dulu yang peristiwanya (perumusan naskah proklamasi-red) terjadi di malam hari," ujar Jaka Perbawa, kurator Museum Perumusan Naskah Proklamasi.
Jaka menjelaskan bahwa keadaan di lantai satu museum sengaja ditata sedemikian rupa agar sama seperti suasana perumusan teks tahun 1945. Pihak museum dulu sempat mendatangkan sekretaris Laksamana Tadashi Maeda dari Jepang untuk membantu dalam hal penempatan dan benda apa saja yang ada di rumah Laksamana Maeda ini pada malam perumusan naskah.
"Orang Jepang Satsuki Mishina, sekretarisnya Laksamana Maeda yang masih hidup kita datangkan langsung. Beliau membawa foto-foto zaman dulu. Di ruang ini ada apa saja, kemudian dibuat replika," jelas Jaka.
Peletakan meja, kursi, piano, lukisan dan lain sebagainya disusun berdasarkan foto-foto dan gambaran dari Mishina serta catatan sejarah lainnya. Di lantai 1, wisatawan bisa melihat ruang pra perumusan, ruang perumusan, ruang pengetikan, ruang pengesahan dan hasil scan naskah proklamasi yang telah diperbesar.
Ada patung Soekarno, Hatta dan Ahmad Soebardjo yang sedang merumuskan naskah proklamasi. Ada pula patung Sayuti Melik yang sedang mengetik naskah proklamasi ditemani BM Diah. Di depan ruang pengetikan ada sebuah replika piano yang dipakai sebagai landasan saat Bung Karno menandatangani teks proklamasi
"Setelah proses pengetikan, mencari meja sudah crowded, kerumunan orang. Melihat ada landasan yang cukup langsung saja, tanda tangan di atas piano," tutur Jaka.
Kalau benda di lantai 1 adalah replika, barang-barang di lantai 2 museum kebanyakan asli. Traveler bisa melihat radio Phillip yang dulu digunakan warga untuk mendengar berita kemerdekaan, scan teks proklamasi, barang-barang sumbangan dari keluarga tokoh kemerdekaan, serta papan yang menggambarkan sejarah perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah. Di halaman belakang museum juga ada bunker rahasia Belanda yang boleh dimasuki.
Setelah puas keliling museum, wisatawan bisa menyaksikan film detik-detik kemerdekaan di sebuah ruangan. Film itu cukup edukatif dan berdurasi sekitar 15 menit. Menarik bukan!
Museum Perumusan Naskah Proklamasi buka setiap hari kecuali hari Senin. Wisatawan bisa datang sejak sekitar pukul 08.00-16.30 WIB. Biaya masuknya pun terjangkau, yaitu Rp 2.000 dewasa.
(sst/sst)











































Komentar Terbanyak
Viral Bule Inggris Menangis Lihat Sampah, Bukit Pergasingan Langsung Ditutup
Viral Sawah Bergaya Sabana di Prambanan, Petani Protes Lahan Jadi Tempat Bikin Konten
Terpopuler: Pendaki Bawa Sapi ke Gunung Rinjani untuk Disembelih,Berujung Dikecam