Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 17 Sep 2018 17:45 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Kisah Legenda Mistis Gunung Lawu

Sugeng Harianto
detikTravel
Gunung Lawu dari kejauhan (Sugeng Harianto/detikTravel)
Gunung Lawu dari kejauhan (Sugeng Harianto/detikTravel)
Magetan - Gunung Lawu memang erat dengan legenda juga cerita mistis. Awal Muharam atau Suro, gunung ini jadi pilihan para peziarah. Kenapa demikian?

Nama Gunung Lawu sangat tidak asing bagi wisatawan yang hobi naik gunung. Alasannya karena Gunung lawu memiliki legenda dengan unsur magis yang kuat dipercaya sejak zaman Kerajaan Majapahit.

"Dulu puncak Lawu itu memang legendanya ditempati oleh Raja Majapahit Brawijaya yang bertapa dan hingga saat ini dipercaya masih berada di Gunung Lawu jasad dan rohnya. Sehingga pendaki percaya ada kekuatan mistik yang kuat di Gunung Lawu," jelas Kepala Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Sarangan, Kholil kepada detikTravel di Cemoro Sewu, Minggu (16/9/2018).

Legenda mengenai keberadaan Raja Brawijaya tertulis dalam ketikan komputer yang diprint pada selembar kertas. Tulisan berisi legenda Puncak Lawu tersebut lanjut Kholil dimasukan dalam pigura berkaca dan dipasang pada batu besar yang berada di sisi kanan pintu masuk pendakian Cemoro Sewu.

"Cerita legendanya ini ada dipasang di batu besar. Isinya bahwa pada akhir Kerajaan Majapahit tahun 1400 M, saat masa pemerintahan Sinuwun Bumi Nata Brawijaya Ingkang Jumeneng Kaping 5 Pamungkas. Raja Brawijaya punya dua istri yang terkenal ialah Dara Petak, putri dari daratan Tiongkok dan Dara Jingga. Dari istri Dara Petak lahir seorang putra bernama Raden Patah dan dari Dara Jingga lahir Pangeran Katong," katanya.

Kisah Legenda Mistis Gunung LawuCemoro Sewu, pintu pendakian di Magetan (Sugeng Harianto/detikTravel)


Raden patah setelah dewasa kata Kholil beragama islam dan berbeda dengan ayahnya yang beragama Buddha. Bersamaan dengan pudarnya Kerajaan Majapahit, Raden Patah mendirikan Kerajaan Demak yang pusatnya berada di Glagahwangi, Kabupaten Jepara.

Melihat kondisi yang demikian berdasarkan legenda yang tertulis disebutkan Raden Wijaya bermeditasi dan memohon petunjuk kepada Sang Maha Kuasa. Akhirnya dalam meditasi tersebut Prabu Brawijaya mendapat wangsit (wirasat) yang menyatakan bahwa sudah saatnya cahaya Majapahit memudar dan Wahyu Kedaton akan berpindah ke Kerajaan Demak.

Pada malam itu pulalah sang prabu dengan hanya ditemani pembantunya yang setia Sabdopalon diam-diam meninggalkan keraton dan melanglang praja alias berkelana. Pada akhirnya Brawihaya naik ke puncak Gunung Lawu, dan sebelum sampai di puncak dirinya bertemu dengan dua kepala dusun yakni Dipa Menggala dan Wangsa Menggala.

Kisah Legenda Mistis Gunung LawuPara peziarah Gunung Lawu (Sugeng Harianto/detikTravel)


Sebagai abdi dalem yang setia dua orang itu pun tak tega membiarkan rajanya begitu saja. Mereka pun pergi bersama ke Puncak Hargo Dalem. Saat itu Prabu Brawijaya bertitah.

"Wahai para abdiku yang setia sudah saat nya aku harus mundur. Aku harus muksa dan meninggalkan dunia ramai. Dipa Menggala karena kesetiaanmu kuangkat kau menjadi penguasa Gunung Lawu membawahi semua makhluk gaib. Dengan wilayah Gunung Lawu, Gunung Merapi, Gunung Merbabu ke timur hingga Gunung Wilis. Ke selatan hingga pantai selatan. Dan ke utara hingga sampai pantai utara dengan gelar Sunan Gunung Lawu. Dan Kepala Wangsa Menggala kau kuangkat sebagai patihnya dengan gelar Kyai Jalak," titah sang prabu.

Sabdopalon pun pamit berpisah untuk naik ke Hargo Dumilah dan meninggalkan Prabu Brawijaya. Sang prabu muksa (bertapa) di Hargo Dalem dan Sabdopalon moksa (bertapa) di Hargo Dumilah.

Tinggalah Prabu Brawijaya atau disebut Sunan Lawu sang penguasa gunung dan Kyai Jalak di puncak Gunung Lawu. Karena kesaktian dan kesempurnaan ilmunya kemudian menjadi makhluk gaib yang hingga kini masih setia melaksanakan tugas sesuai amanat Prabu Brawijaya.

Gunung Lawu berada di tiga kabupaten yakni Magetan dan Ngawi Jawa Timur serta Karanganyar Jawa Tengah. Gunung Lawu dengan ketinggian 3.265 mdpl memikiki tiga jalur pendakian yakni dua di Karanganyar Jawa Tengah yakni Cemoro Kandang dan Candi Cetho. Sedangkan satu pintu masuk pendakian berada di Magetan yakni Cemoro Sewu. Ketiga jalur ini menjadi favorit para pendaki. (msl/fay)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED