Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 15 Nov 2019 18:17 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Mengenal Stasiun di Utara Jakarta sebagai Cagar Budaya

Syanti Mustika
detikTravel
Stasiun Tanjung Priok  (Syanti Mustika/detikcom)
Stasiun Tanjung Priok (Syanti Mustika/detikcom)
Jakarta - Tidak hanya sebagai sarana transportasi saja. Stasiun Tanjung Priok juga cagar budaya yang perlu dijaga.

Terletak di ujung utara Jakarta, mungkin tidak banyak yang sadar bahwa Stasiun Tanjung Priok adalah salah satu cagar budaya. Statusnya ini juga diperjelas dengan papan plakat yang menyebutkan 'Bangunan Ini Dinyatakan Sebagai Benda Cagar Budaya'.

detikcom pun datang ke Stasiun Tanjung Priok dan mengamati langsung bangunan bergaya Belanda ini. Berdiri megah berwarna putih diantara kesibukan para penumpang terminal dan aktivitas pelabuhan.

Mengenal Stasiun di Utara Jakarta Sebagai Cagar BudayaFoto: (Syanti Mustika/detikcom)

Di bagian depan, juga terdapat plakat yang menjelaskan asal mula pembangunan stasiun hingga pergerakannya sekarang.

"Stasiun Tanjung Priok ditetapkan sebagai cagar budaya sejak tahun 1993 oleh Gubernur DKI Jakarta melalui Keputusan Gubernur DKI no.475 Tahun 1993. Dan ditetapkan sebagai benda cagar budaya berdasarkan SK Menbudpar No.PM.13/PW.007/MKP/05 tanggal 25 April 2005," kata Reynold Parulian Napitupulu, Assistant Manager Documentation, Education, and Promotion KAI saat menemani detikcom di Stasiun Tanjung Priok.

Stasiun Tanjung Priok bisa menjadi cahar budaya karena memenuhi kualifikasi cagar budaya berdasarkan pasal 5 UU Cagar Budaya. Salah satunya karena usia bangunan telah lebih dari 50 tahun.




"Stasiun Tanjung Priok memenuhi kriteria suatu bangunan untuk ditetapkan sebagai cagar budaya seperti yang tertera dalam pasal 5 Undang-undang Cagar Budaya yang berusia lebih dari 50 tahun,"

"Juga bangunan ini mewakili gaya arsitektur kolonial dan memiliki nilai penting bagi perkembangan Indonesia termasuk kereta api, transportasi, perdagangan dan pariwisata. Berdasarkan sejarah, Stasiun Tanjung Priok yang menjadi pintu atau gerbang masuk ke Indonesia," jelas Reynold.

Mengenal Stasiun di Utara Jakarta Sebagai Cagar BudayaFoto: (Syanti Mustika/detikcom)


Tentu sebagai cagar budaya, bangunan dan isinya haruslah dijaga. Namun statusnya tidak membuat Stasiun Tanjung Priok menutup diri dari wisatawan yang ingin mengenal sejarahnya.

"Setelah menjadi cagar budaya tidak ada larangan khusus dan tidak boleh menyentuh bagian-bagian tertentu. Asal jangan mengacu kepada tindakan perusakan saja, tentu hal ini dilarang," tambah Reynold.

Mengenal Stasiun di Utara Jakarta Sebagai Cagar BudayaFoto: (Syanti Mustika/detikcom)


Faktor usia dan alam tentu sulit terelakkan dalam ketahanan suatu benda maupun bangunan, begitu juga Stasiun Tanjung Priok. Terdapat beberapa bagian kecil dari bangunan yang telah diganti karena rusak.

"Secara keseluruhan bentuk bangunan masih asli, sayap bangunan maupun overkaping. Namun terdapat beberapa adaptasi guna peningkatan fasilitas stasiun seperti pemasangan AC, toilet, musala dan lainnya. Benda yang masih asli sebagian besar meliputi ornamen stasiun seperti pintu, jendela, kaca patri, tiang overkaping. Namun terdapat beberapa ornamen yang sudah diganti replika," ucapnya.




Untuk keberlangsungannya sebagai cagar budaya dan juga sarana transportasi, pihak KAI akan menunaikan amanat dalam menjaga Stasiun Tanjung Priok.

"Kami akan melestarikan bangunan Stasiun Tanjung Priok sesuai amanat Undang-undang Cagar Budaya no 11 Tahun 2010," tutup Reynold.





Simak Video "Kompor Meledak di Kereta, 74 Penumpang Tewas"
[Gambas:Video 20detik]
(sym/krs)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA