Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 13 Des 2020 05:02 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Harmonisasi Beragama dari Tanah Borneo di Perbatasan

Syanti Mustika
detikTravel
Salah satu fasilitas publik yang tersedia di PLBN Aruk adalah gereja dan masjid. Kedua tempat ibadah itu pun berdiri berdampingan di kawasan tersebut.
Aruk, perbatasan Indonesia-Malaysia Rengga Sancaya
Jakarta -

Walau berbeda tetaplah satu. Mungkin kalimat itu bisa kita pelajari dari kehidupan beragama di Aruk, Kalimantan Barat.

Aruk menjadi perbatasan dan juga gerbang masuk Indonesia-Malaysia yang ada di Kalimantan Barat. Di sana, terdapat pos lintas yang disebut menjadi terbaik di Kalimantan Barat, bahkan di Indonesia.

Tim Tapal Batas detikcom bersama BRI datang ke Aruk beberapa waktu lalu. Kami pun berkunjung ke Aruk pasar Wisata untuk beristirahat setelah 2 jam berkendara dari Kota Sambas.

Ada yang menarik perhatian kami saat di Aruk Pasar Wisata. Dua tempat beribadah, masjid dan gereja berdiri dengan megah berdampingan. Sangat dekat.

"Beginilah kami di Kecamatan Sajingan Besar. Walau berbeda agama tapi kami akur-akur saja. Buktinya bangunan masjid dan gereja di PLBN Aruk ini," kata Supardi, Camat Sajingan Besar.

Salah satu fasilitas publik yang tersedia di PLBN Aruk adalah gereja dan masjid. Kedua tempat ibadah itu pun berdiri berdampingan di kawasan tersebut.Salah satu fasilitas publik yang tersedia di PLBN Aruk adalah gereja dan masjid. Kedua tempat ibadah itu pun berdiri berdampingan di kawasan tersebut. Foto: Rengga Sancaya

Supardi pun mengungkapkan bahwa Suku Dayak yang beragama Katolik menjadi mayoritas di Sajingan Besar. Hampir 90 persen di sana adalah Katolik. Namun itu tidak masalah bagi Muslim dan begitu sebaliknya.

"Mayoritas Suku Dayak beragama Katolik, jumlah mendekati 90 persen. Tetapi kita bisa lihat masjid dan gereja jaraknya tidak sampai 10 meter dan tidak ada masalah," dia menambahkan.

Tidak hanya dari tempat ibadah saja. Toleransi dalam sosial juga begitu kuat di Sajingan Besar, khususnya Aruk.

"Ketika ada acara adat umpamanya tidak sengaja ada di sini dan bertepatan dengan hari Jumat, ya mereka tidak azan. Toh hanya 1 hari dalam 365 hari, masa kita tidak bisa bertoleransi sesama saudara?" kata dia.

"Apapun suku, agama tidak menjadi pemicu perselisihan. Begitu aja perselisihan tengah masyarakat regulasi adat muncul jadi ada hukum adat. Misalnya berkelahi, maka hukum adat dulu dan kalau perkelahian menjadi kriminal murni baru ke polisi," kata dia.

Bukti bahwa perbedaan agama dan suku menjadi pembeda bisa dilihat dari momen Natal dan Lebaran. Kedua beragama saling berkunjung di hari raya masing-masing.

"Kalau Idul Fitri banyak juga yang Non Muslim berkunjung ke yang merayakan, begitu juga sebaliknya saat momen Natal. Jadi, agama dan suku bukanlah pemisah di sini," Supardi menambahkan.

---

Ikuti terus jelajah Tapal Batas detikcom bersama BRI di tapalbatas.detik.com!



Simak Video "Kisah Petani di Perbatasan Aruk yang Kini 'Merdeka'"
[Gambas:Video 20detik]
(sym/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA