Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 30 Des 2020 15:45 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Hutan De Djawatan, Tempat Hijau Instagrammable Kebanggaan Banyuwangi

Bonauli
detikTravel
Hutan De Djawatan Banyuwangi
Hutan De Djawatan (Bonauli/detikcom)
Banyuwangi -

Panas-panas gini paling enak ke tempat teduh nan hijau royo-royo. Liburan ke Banyuwangi, wajib mampir ke Hutan De Djawatan.

Road Trip Jakarta-Bali yang dilakukan oleh detikTravel berakhir di Banyuwangi. Hutan De Djawatan memang jadi favorit di sana.

Kalau di lihat dari foto, Hutan De Djawatan mirip dengan negeri dongeng Lord of The Rings. Ternyata, aslinya lebih cantik.

Dengan semilir angin yang datang sesekali, wilayah hutan trembesi ini membuat rileks isi kepala yang penat. Rindangnya pepohonan membuatmu ingin terus berjalan menyusuri hutan tanpa henti.

Hutan De Djawatan diisi dengan 805 pohon trembesi. Dari gagah dan rindangnya pepohonan, sudah pasti umurnya ratusan tahun. Ya, pohon-pohon ini usianya sekitar 100-150 tahun.

Hutan De Djawatan BanyuwangiHutan De Djawatan Banyuwangi Foto: (Bonauli/detikcom)

Tentu bukan hal mudah untuk merawat pohon-pohon ini. Di beberapa tempat terlihat papan peringatan untuk wisatawan agar berhati-hati dengan ranting yang jatuh.

Di hutan seluas 9 hektare ini, wisatawan bisa bebas foto-foto, piknik bahkan olahraga. Pagi hari saat akhir pekan, biasanya ada saja warga sekitar yang datang untuk olahraga bersama.

Namun di tengah pandemi ini, Hutan De Djawatan juga ikut terdampak. Jumlah kunjungan dikurangi, protokol kesehatan harus dijalani, para pedagang tampak lesu dan sedih.

Hutan De Djawatan BanyuwangiHutan De Djawatan Banyuwangi Foto: (Bonauli/detikcom)

"Sepi saat pandemi," ujar Saiful, penjual es krim cone di kawasan Hutan De Djawatan.

Menurut Saiful, status zona merah Banyuwangi menjadi salah satu faktornya. Apalagi kawasan hutan ini dulu digandrungi sebagai wisata keluarga.

"Dulu tiap jualan, selalu habis. Sekarang paling hanya 60 cone, paling ramai laku 90 cone," cerita Saiful.

Tak hanya pedagang, dokar dan penyewaan kuda poni juga terlihat sepi. Mereka memarkirkan kereta kuda mereka di sisi jalan sambil duduk atau mengobrol.

Sistem penyewaan dokar haruslah antre. Pengunjung tak bisa memilih mau naik dokar yang mana. Sehingga semuanya tertib tanpa rebutan pelanggan.

"Rame di weekend biasanya," kata Afsari, seorang supir dokar yang sudah bekerja selama empat tahun di Hutan De Djawatan.

Hutan De Djawatan BanyuwangiHutan De Djawatan Banyuwangi Foto: (Bonauli/detikcom)

Hanya dengan Rp 50.000, kamu bisa naik dokar dengan jumlah penumpang maksimal 4 orang. Tuk..tuk..tuk.. suara sepatu kuda dari irama dengan pemandangan hijau yang menenangkan.

"Setelah pandemi ini penghasilan paling hanya Rp 50-100 ribuan," dia mengungkapkan.

Afsari bercerita bahwa supir dokar seperti dirinya harus menyetor penghasilan kepada pemilik dokar. Biasanya penghasilan akan dibagi dua, untuk bos dan dirinya.

"Kerja juga ndak tiap hari, seminggu paling 4 kali ke sini. Harus giliran sama yang lain," dia mengisahkan.

Hutan De Djawatan BanyuwangiHutan De Djawatan Banyuwangi Foto: (Bonauli/detikcom)

Hutan De Djawatan sendiri dibuka dua sesi, pagi pukul 07.00-12.00 WIB dan siang pukul 13.00-17.00 WIB. Wisatawan bisa foto-foto di beberapa tempat yang sudah disiapkan seperti rumah pohon, ayunan, dan sangkar raksasa.

Tempat wisata instagrammable ini memiliki tiket masuk seharga Rp 5.000 per orang, parkir motor Rp 2.000 dan mobil Rp 10.000. Kamu yang datang dari Kota Banyuwangi bisa ke sini dengan waktu tempuh sekitar 45 menit saja.

(bnl/bnl)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA