Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 22 Mei 2021 06:42 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Gemar Berburu Buaya, Suku Bauzi Punya Cara Unik Jinakkan Babi

Hari Suroto
detikTravel
Suku Bauzi dan Sungai Mamberamo
Foto: Suku Bauzi di Papua (Hari Suroto/Istimewa)
Mamberamo -

Suku Bauzi di Papua terkenal sebagai pemburu buaya. Mereka ternyata juga bisa menjinakkan babi hutan. Bahkan caranya terbilang unik. Bagaimana kisahnya?

Suku Bauzi yang tinggal di hutan terpencil pedalaman Sungai Mamberamo atau sekitar Danau Bira, Mamberamo Raya, Papua, masih mengenal tradisi berburu di hutan.

Berburu merupakan kegiatan bagi keakraban pria sejak dulu. Para pria suku Bauzi sangat senang menceritakan dan mengulangi cerita perburuan mereka saat pulang ke rumah.

Berburu juga dianggap sebagai kegiatan untuk bertukar pengetahuan dengan alam, dan mempelajari kebiasaan binatang, serta melatih fisik untuk bisa bergerak dengan cepat tanpa menimbulkan suara dan meninggalkan jejak di tengah hutan.

Babi liar atau babi hutan adalah binatang buruan favorit sekaligus musuh utama yang menakutkan bagi suku Bauzi. Para pemburu biasanya membawa babi hasil buruan di punggungnya.

Mereka akan memotong dan mengeluarkan isi perut babi hutan tangkapan mereka agar lebih ringan untuk dibawa. Tetapi jika jarak cukup dekat dengan kampungnya, mereka akan membawanya dalam kondisi utuh.

Babi adalah binatang cerdik serta pengingat yang baik. Binatang liar biasanya hanya menyerang jika terancam, namun babi berbeda. Jika mereka terluka oleh pemburu, dan berhasil melarikan diri, maka ia akan mengingat pemburu itu.

Pada suatu kesempatan, ketika mereka berjumpa lagi di tengah hutan, maka babi tersebut beserta gerombolannya akan mengamuk, berlari kencang dan menyerang dengan taringnya.

Untuk menghindari serangan babi liar, para pemburu suku Bauzi biasanya akan menyelamatkan diri dengan memanjat pohon atau lompat ke dalam sungai.

Suku Bauzi yang tinggal di tepi hutan, dalam tradisinya bisa menjinakan babi hutan. Sehingga ia tidak takut berjalan sendiri di tengah hutan.

Untuk menjinakkan anak babi, mereka akan memeluknya erat selama tiga hari penuh, tanpa sekalipun melepasnya. Mereka mengusap-usap perut babi kecil (bagian tubuh kesukaan babi), memberinya makan, dan bahkan tidur bersamanya.

Setelah melewati masa ini, anak babi dilepas ke alam bebas. Cara ini membuat anak babi terus teringat pada orang suku Bauzi.

Sejak saat itu dan seterusnya, anak babi akan menganggap orang itu sebagai keluarganya. Hewan cerdik ini tetap akan mengenali tuannya. Siapapun akan diserangnya, kecuali sang pemiliknya.


---
Artikel ini dibuat oleh Hari Suroto dari Balai Arkeologi Papua dan diubah seperlunya oleh redaksi.



Simak Video "Petani di Tasikmalaya Diseruduk Babi Hutan Hingga Patah Tulang"
[Gambas:Video 20detik]
(wsw/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA