Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Sabtu, 04 Des 2021 06:43 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Desa Munduk, Tempat Singgah Favoritnya Tuan-tuan Belanda

Putu Intan
detikTravel
Kopi Blue Tamblingan di Desa Munduk
Kebun kopi di Desa Munduk. Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom
Singaraja -

Pada masa penjajahan, Desa Munduk di Kabupaten Buleleng menjadi tempat peristirahat orang-orang Belanda. Desa ini dipilih karena lokasinya yang strategis.

Desa Munduk dapat disebut sebagai salah satu desa tertua di Bali. Tokoh masyarakat Munduk, Putu Ardana, menjelaskan Desa Munduk bersama tiga desa lainnya, yakni Desa Goblek, Desa Gesing dan Desa Umajero, diperkirakan sudah berdiri sejak tahun 900 Masehi.

Masyarakat keempat desa ini dulunya bermukim di Danau Tamblingan, sebelum akhirnya pindah untuk menjadikan tempat itu kawasan suci. Ratusan tahun kemudian, Desa Munduk lebih dikenal sebagai penghasil kopi.

"Sebetulnya Munduk dan sekitarnya adalah daerah kopi sejak zaman Belanda. Pertengahan 1800-an sudah menjadi terkenal sebagai kawasan kopi. Lalu pada awal 1900-an, kawasan ini dikenal sangat makmur," kata Putu yang pernah menjadi Kepala Desa Adat Munduk sejak 2013-2018 itu.

Kemakmuran masyarakat Munduk tak hanya bersumber dari kopi. Pada periode tahun yang sama, Desa Munduk dipilih Belanda untuk menjadi tempat singgah.

"Belanda pada awal 1900-an itu membuat pesanggrahan atau tempat peristirahatan di dua daerah, di pantai dan pegunungan. Nah yang pegunungan itu di Desa Munduk," ujarnya.

Kopi Blue Tamblingan di Desa MundukMenikmati keindahan Desa Munduk. Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom

Desa Munduk yang terletak di Bali Utara dipilih karena dekat dengan Pelabuhan Buleleng. Pada saat itu, akses masuk Pulau Dewata tak sebanyak sekarang yang juga berpusat di Bali Selatan.

"Belanda menyebut Munduk ini sebagai Kilometer 0 nya Bali. Karena dulu kan pintu masuknya Bali di utara. Di Buleleng itu ada pelabuhan, lalu mereka ke sini untuk istirahat, setelah itu baru memulai perjalanan kemana-mana," ia bercerita.

Kemasyuran Desa Munduk bahkan sampai terdengar ke telinga sastrawan India, Rabindranath Tagore. Ia pernah menginap di Desa Munduk selama dua hari.

"Salah satu kejadian penting yang pernah terjadi, Rabindranath Tagore pada tahun 1927 menginap di sini selama dua hari. Dia rajin menulis surat kepada anak dan sekretarisnya. Dia menulis beberapa surat dari sini," kata Putu.

Begitulah kisah Desa Munduk di masa lalu. Saat ini, Desa Munduk tengah berupaya untuk melakukan konservasi alam dan menjaga pasokan air yang menghidupi sepertiga wilayah Bali. Berbagai cara dilakukan, mulai dari menanam kopi tanpa bahan kimia hingga memperjuangkan status hutan di sana menjadi hutan adat.

(pin/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA