Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Selasa, 28 Des 2021 17:26 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Raden Soejono, dari Penyelamat Nyawa Hingga Pionir Pariwisata

bonauli
detikTravel
Vila Soejono di Tetebatu
Surdini memegang foto dokter Raden Soejono (Bonauli/detikcom)

Pada tahun 1928, dokter Soejono membangun sebuah vila di Desa Tetebatu. Tujuannya sebagai tempat peristirahatan di akhir pekan.

Saat itu Tetebatu begitu sunyi, hanya ada 10-13 kepala keluarga yang tinggal di sana. Hamparan hutan dan ladang menjadi suguhan utama. Bahkan akses jalan ke sana pun tidak ada.

Inilah yang dicari oleh dokter Soejono, tempat terpencil untuk mengasingkan diri dari penatnya juga sebagai tenaga medis. Dokter Soejono mempekerjakan seorang arsitek Belanda untuk mendesain vila tersebut.

Vila tersebut dibuat dengan gaya Eropa dengan struktur bangunan batu. Oleh karena itu, pekerjanya adalah orang-orang China, karena hanya merekalah yang mengerti soal bangunan batu.

Berjalannya waktu, dokter Soejono tak liburan bersama keluarga saja. Koleganya yang adalah orang-orang Belanda ikut menginap di sana. Suasana alam yang sangat indah dan sejuk membuat dokter-dokter Belanda ikut jatuh cinta dengan Tetebatu.

Vila Soejono di TetebatuPenghargaan Pemerintah Hindia Belanda untuk dokter Soejono Foto: (Bonauli/detikcom)

"Dokter-dokter Belanda senang berenang-berenang ke sini, terus Minggu sore mereka kembali," cerita Surdini.

Begitu pulang dari sana, para dokter Belanda kerap menceritakan pengalaman berlibur yang menyenangkan kepada orang-orang Belanda. Dari mulut ke mulut, keindahan Tetebatu tersiar dan terkenal di Belanda.

"Sejak saat itu mereka sering datang ke sini. Untuk menjaga silaturahmi keturunan mereka datang ke sini tiap tahun," ungkapnya.

Pada tahun 1940a, Jepang masuk ke Lombok. Dokter Soejono telah pensiun dan menetap di Tetebatu. Namun, dokter Soejono masih tetap berperan besar karena menjadikan rumahnya sebagai pusat logistik tentara Jepang yang ditugaskan ke Lombok Timur.

Raden Soejono menghembuskan napas tanggal 16 Februari 1944 karena diabetes. Bagi Tetebatu, dokter Raden Soejono bukan hanya penyelamat nyawa, tapi juga pendiri pariwisata. Berkat dirinyalah turis-turis datang dan mengenal keindahan Desa Tetebatu hingga saat ini.

[Gambas:Video 20detik]

Halaman
1 2 Tampilkan Semua

(bnl/bnl)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA