Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 13 Agu 2018 14:25 WIB

D'TRAVELERS STORIES

3 Hari yang Sungguh Indah di Banyuwangi

Yasuspade
d'travelers
Foto 1 dari 5
Snorkeling di Pantai Bangsring, ditemani ratusan ikan  terumbu karang
Snorkeling di Pantai Bangsring, ditemani ratusan ikan terumbu karang
detikTravel Community - Banyuwangi di Jawa Timur memiliki berbagai destinasi indah yang menarik untuk dikunjungi. Seperti ini, 3 hari yang sungguh indah di Banyuwangi.

Banyuwangi, sebuah Kabupaten yang terletak di ujung timur pulau Jawa tepatnya di propinsi Jawa timur yang juga menjadi Kabupaten terluas di Jawa Timur sekaligus di Pulau jawa. Di Kabupaten yang luas ini tersimpan banyak sekali keindahan alam yang mengagumkan, sangat disayangkan jika destinasi-destinasi mengagumkan ini tidak saya kunjungi.

Berbekal kuota internet, saya mencoba mencari informasi tentang Banyuwangi, mulai dari lokasi, destinasi, jarak masing-masing destinasi, biaya, penginapan, rute, hingga transportasi menuju Banyuwangi. Sebelum berangkat saya menyusun rencana matang selama 1 bulan bersama kelima teman saya yang juga tertarik mengunjungi Banyuwangi untuk menjadi saksi bahwa indahnya alam Banyuwangi bukan sekedar isapan jempol.

Karena belum ada satupun dari kami yang pernah menginjakkan kaki di Banyuwangi, kami hanya mengandalkan internet sebagai modal awal kami menuju Banyuwangi, termasuk pemesanan tiket kereta api pulang-pergi dari Yogyakarta menuju Banyuwangi.

Memesan tiket kereta api melalui @pegi_pegi menjadi pilihan kami, karena tampilannya mudah dipahami sehingga tidak ada kesulitan dalam proses pemesanan tiket kereta api, dan yang tidak kalah penting, selain memesan tiket kereta api, pesawat, dan pemesanan hotel, Pegipegi juga memiliki menu 'Travel Tips' yang berisikan tips-tips seru seputar traveling yang sangat menginspirasi dan berguna untuk kita yang gemar melakukan aktifitas traveling

Saya dan 5 teman saya berkumpul di stasiun Lempuyangan Yogyakarta jam 07.00 pagi untuk naik kereta api Sri Tanjung yang berangkat jam 08.00 pagi. Perlu waktu 13 jam untuk sampai stasiun Karangasem, Glagah, Banyuwangi, Jawa Timur. 13 Jam duduk dikereta adalah waktu yang sangat lama, awal keberangkatan penuh canda dan 6 jam setelahnya kami sudah kehabisan kata-kata dan hanya menunggu sisa waktu untuk sampai tujuan.

Setelah melewati puluhan stasiun & puas memandangi keindahan alam diluar jendelan kereta dari terang hingga gelap sampailah kami di stasiun Karangasem pukul 21.00. Rasa lelah membuat kami ingin segera merebahkan badan agar keesok paginya kami bisa memulai petualangan kami mengunjungi keindahan ditiap sudut Banyuwangi, beruntung tempat kami menginap sekaligus tempat persewaan motor lokasinya hanya sekitar 50meter dari stasiun, sehingga kami bisa segera beristirahat karena 3 hari kedepan menjadi hari yang sangat menyenangkan dan tak terlupakan.

Hari Pertama

Hari pertama kami mulai dengan berangkat pukul 04.00 pagi untuk melihat matahari terbit di Pantai Watu Dodol lalu dilanjut ke Pantai Bangsring dan terakhir ke Taman Nasional Baluran. Pada hari pertama ini saya akan menceritakan tentang Pantai Bangsring yang membuat saya ingin berkunjung lagi di kemudian hari.

Pantai Bangsring terletak di Dusun Krajan, Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, hanya sekitar 20 menit dari tujuan pertama kami, Pantai Watu Dodol. Kami tiba di pantai Bangsring jam 07.00 pagi dan bersiap untuk menyelami dan melihat langsung indahnya terumbu karang sekaligus berenang bersama ikan di Pantai Bangsring

Setelah kami registrasi, selanjutnya menuju loket untuk membayar tiket yang berupa tiket masuk, tiket kapal menyebrang menuju rumah apung tempat dimana kami akan melakukan snorkeling, sewa peralatan snorkeling, dan jasa seorang guide yang akan menemani dan memberikan arahan kepada kami selama snorkeling di Pantai Bangsring. Setelah semuanya siap lantas kami segera menuju tepian pantai untuk menaiki kapal menuju rumah apung yang letaknya sekitar 50 meter dari bibir pantai.

Rumah Apung Pantai Bangsring memiliki ukuran 27 meter x 7 meter, dan di sanalah tempat kami melakukan aktivitas snorkeling. Pemandangan dari rumah apung ini tidak kalah indah dengan panorama bawah airnya, dari rumah apung terlihat pantai pasir putih yang berselimut rimbunnya pepohonan dengan latar Gunung Ijen yang gagah.

1,5 Jam kami menikmati keindahan bawah air Pantai Bangsring, mengamati beragam terumbu karang dan ikan, berbagai teknik snorkeling pun diajarkan oleh pemandu kami sehingga kami bisa bertahan cukup lama di air yang berombak. Sungguh pengalaman yang berkesan dan tak terlupakan di hari pertama ini.

Setelah puas menikmati bawah air Pantai bangsring, kami melanjutkan perjalanan menuju Taman Nasional Baluran, perjalanan menuju utara dengan waktu tempuh sekitar 40 menit menggunakan kendaraan roda 2. Sesampainya di TN Baluran kami harus registrasi dahulu sebelum masuk TN Baluran. Perjalanan dimulai dengan trek berbatu, berharap setelah ini menjadi jalan aspal halus dan ternyata sampai kami kembali lagi kontur jalannya tetap sama, berbatu dan membuat pinggang pegal.

TN baluran memiliki beberapa titik yang populer dikalangan pengunjung, sebut saja Savana Bekol, Tengkorak Banteng, Pantai Bama dan masih banyak lainnya. Kala itu kami singgah di Savana Bekol dan Pantai Bama, perjalanan sore ini memberikan pengalaman pahit yang tak terlupakan hingga sekarang. Dikarenakan selama berkendara didalam TN Baluran kami menjadi incaran, kawanan monyet yang berusaha mengambil bekal kami.

Benar saja, ketika kami lengah sedikit saja tas kami menjadi korban rasa lapar monyet di pantai Bama. Kami 6 remaja rentang usia 23-27 tahun hanya bisa diam terpaku ketika tas kami digeledah 1 ekor monyet. Kami tak berdaya, karena dan pasrah ketika tas kami diporak-porandakan seekor monyet, untunglah tidak ada barang penting yang diambil karena kebetulan bekal kami sudah habis ketika kami berada di Pantai Bangsring.

Hari Kedua

Setelah puas menikmati keindahan Pantai bangsring, kami makan siang dan melanjutkan perjalanan ke Taman Nasinal baluran hingga sore hari dan dilanjut pulang ke penginapan untuk mengistirahatkan badan karena masih ada 2 hari lagi yang pastinya akan menguras tenaga seperti hari pertama. Malam itu kami briefing untuk hari kedua dan mengemas barang-barang dilanjut dengan tidur pulas agar rasa capek d ihari pertama dapat hilang dan kembali semangat dihari kedua.

Dihari kedua kami bangun kesiangan karena tidur terlalu pulas, sehingga kami harus memundurkan jadwal yang sudah kami buat, di hari kedua ini kami berencana pergi ke air terjun Telunjuk Dewa Raung yang terletak di kaki Gunung Raung, tepatnya di Desa Sumberarum, Kecamatan Songgon, Kabupaten banyuwangi.

Di hari kedua ini masalah kami tidak hanya bangun kesiangan, di tengah perjalanan ban motor yang dikendarai salah satu teman saya bocor dan sialnya tidak ada jasa tambal ban di sekitar lokasi di mana motor teman saya bocor, kami harus membuang banyak waktu untuk mencari jasa tambal ban, beruntung beberapa kilometer dari lokasi kejadian kami menemukan jasa tambal ban.

Dari Desa Sumberarum menuju air terjun Telunjuk Dewa Raung kami harus melewati area perkebunan yang sangat luas, karena tidak ada petunjuk arah dan di sekeliling kami hanya ada pepohonan yang sama maka kami hanya bisa percaya pada jalan selebar 1,5 meter yang membelah perkebunan.

Kontur jalan yang bergelombang dan berkelok-kelok membuat keseimbangan kami diuji, dan benar saja ketika hampir sampai area parkiran air terjun, motor salah satu teman saya jatuh karena teman saya tidak bisa menjaga keseimbangannya, dan sialnya lututnya mengenai kaca spion motor sehingga kaca spionnya pecah dan kaki teman saya berdarah-darah, malang sekali nasib kaca spionnya.

Sesampainya di parkiran kami mengobati luka teman kami terlebih dahulu, lalu berganti pakaian dan bersiap untuk trekking menuju air terjun Telunjuk Dewa Raung. Untuk menuju air terjun, kami harus trekking sekitar 20 menit menuruni bukit yang tertutup rimbunnya pepohonan, pemandangan indah ini membuat rasa lelah dan tumpukan masalah dihari kedua teralihkan dan berganti rasa bahagia.

Seperti namanya, air terjun Telunjuk Dewa Raung bentuknya memang seperti tangan telunjuk yang sedang menunjuk keatas. Air terjun ini memiliki ketinggian sekitar 20 meter dengan volume air sangat banyak sehingga air yang jatuh mengeluarkan suara gemuruh dan cipratan airnya berterbangan sejauh puluhan meter.

Tidak hanya mengabadikan momen melalui kamera, kami pun menjajal segarnya air dari air terjun Telunjuk Dewa Raung yang seperti private waterfall karena hari itu hanya ada rombongan kami yang berkunjung ke air terjun Telunjuk Dewa Raung. Air terjun Telunjuk Dewa Raung memiliki segudang cerita, salah seorang warga yang tidak sengaja kami temui di lokasi air terjun bercerita banyak tentang legenda dan semua hal mengenai air terjun Telunjuk Dewa Raung. Kami senang, karena kami tidak hanya menikmati keindahan alam Banyuwangi saja, tetapi kami mendapat pengetahuan lebih dan pengalaman baru yang kami dapat dari orang-orang disekitar lokasi wisata yang kami kunjungi.

Hari Ketiga

Di hari kedua setelah mengunjungi air terjun Telunjuk Dewa Raung seharusnya kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Pulau Merah, tetapi karena ada insiden kaki berdarah-darah akhirnya kami memutuskan hari kedua hanya 1 lokasi saja. Di hari ketiga kami harus berangkat lebih pagi untuk singgah terlebih dahulu ke Pantai Pulau Merah dan dilanjut ke Green Bay/Teluk Hijau yang terletak di Taman Nasional Meru Betiri.

Berangkat pukul 05.30 pagi menuju Pantai Pulau Merah untuk menikmati indahnya pantai dikala pagi, tak ingin kehilangan momen kami mencoba surfing di pantai Pulau Merah hingga siang menjelang. Usai puas diterjang ombak berkali-kali dan tak kunjung berhasil berdiri di atas papan surfing lebih dari 5detik kami putuskan untuk menuju lokasi berikutnya yang berada di TN Meru Betiri, tepatnya berada di Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggrahan, Banyuwangi untuk melihat panorama indah dari Green Bay/ eluk Hijau yang sebelumnya hanya bisa kami lihat dari Feed Instagram.

Untuk menuju lokasi kami harus menempuh perjalanan sekitar 3 jam dengan trek yang beragam, mulai dari jalanan perkotaan tanpa hambatan, lalu memasuki perkampungan dan dilanjut dengan area perkebunan yang sangat panjang dengan kontur bebatuan yang terjal. Sesampainya di Taman Nasional Meru Betiri jalanannya menjadi lebih brutal, selain dipenuhi bebatuan besar jalannya pun menanjak, sehingga dibeberapa titik kami harus turun dari motor untuk meringankan beban motor.

Sesampainya di parkiran kami disambut beberapa ekor monyet liar yang berharap kami lengah dan mereka bisa mengambil bekal kami. Untuk mencapai lokasi Green Bay/Teluk Hijau kami harus trekking membelah perbukitan dengan trek naik turun yang cukup menguras tenaga, sesekali kami berhenti untuk istirahat sejenak.

Selama perjalanan kami diintai dan diikuti oleh beberapa ekor kera dari belakang maupun dari samping/ atas dengan melompati pepohonan. Setelah trekking kurang lebih 30 menit sampailah kami di Green Bay/ Teluk Hijau, sebuah surga tersembunyi dengan panorama yang luar biasa indah layaknya wallpaper pada kalender gratisan perusahaan dengan gambar pemandangan alam, tak ada kata yang bisa mengambarkan keindahannya, tiap sudutnya membuat kami terkagum-kagum.

Siang itu matahari bersinar cukup terik dan kami mengurungkan niat untuk bermain air karena harus menghemat tenaga mengingat kami harus trekking lagi menuju parkiran dan kembali ke penginapan dengan waktu tempuh sekitar 4 jam. Akhirnya kami hanya duduk santai menikmati panorama Green Bay/Teluk Hijau sambil sesekali mengabadikan momen indah ini.

Ketika kami sedang asik mengabadikan momen dan terpaku akan indahnya Green Bay/Teluk Hijau, ternyata rombongan monyet yang mengintai kami sejak diparkiran menyerbu tas kami dan mengambil bekal kami. Untung yang diambil hanya beberapa makanan ringan, karena di dalam tas juga ada handphone, dompet, dan barang penting lainnya.

Bukannya kesal, kami malah geli sendiri karena dalam 3 hari ini kami sudah berurusan dengan 2 ekor monyet di 2 lokasi Taman Nasional, ingin dilupakan pun, peristiwa ini akan terus terkenang. Hari semakin sore, waktunya pulang ke penginapan untuk berkemas dan beristirahat karena pagi dihari berikutnya kami harus pulang ke Yogyakarta dengan menaiki kereta api Sri Tanjung (lagi), di mana kami harus pasrah selama 13 jam duduk dengan tegap.

3 Hari di Banyuwangi meninggalkan kesan mendalam untuk kami ber-6, indahnya tempat wisata yang kami kunjungi menjadi pengalaman baru untuk kami, juga keramahan masyarakatnya membuat kami betah selama 3 hari ini. Banyak pengalaman, ilmu, dan pelajaran baru yang kami dapatkan di Banyuwangi, perjalanan yang tidak akan terlupakan dan akan terus kami kenang. Semoga tempat-tempat wisatanya semakin indah, terjaga dan tetap bersih hingga bisa dinikmati oleh beberapa generasi ke depan.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED