Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 16 Mar 2019 10:25 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Liburan ke Maldives 7 Jutaan, BIsa!

Monica Suparta
d'travelers
Foto 1 dari 5
Snorkeling di lautan bebas
Snorkeling di lautan bebas
detikTravel Community - Sekarang bertualang ke Maldives tak harus mahal. Bisa kok liburan ke Maldives gaya ransel. Ini caranya.

Sering membaca artikel Maldives yang terlihat mewah nan mahal di majalah-majalah? Memandangi pantai dan lautan lepas berwarna tosca cuma melalui halaman iklan? Hanya menelan ludah menyaksikan foto dan video keindahan pulau terpencil ini? Sekarang ke Maldives yang juga dikenal sebagai Maladewa, bukan cuma mimpi, karena telah tersedia penerbangan low cost menuju kota ibukota Maldives, yaitu Male.

Total perjalanan tidak termasuk transit sekitar 6 jam. Untuk masuk ke negara Maldives, akan diberikan visa kunjungan turis 30 hari dan diberikan di Bandara pada saat kita tiba. Maldives merupakan negara kepulauan, dimana semua akomodasi berada di pulau-pulau.

Mulai dari yang disebut luxury resort nan mewah berharga 4 juta sd 50 juta per malam tergantung jenis kamar dan musim, hingga pulau yang memiliki akomodasi hotel bintang 4 ke bawah alias kelas melati seharga Rp 300.000.- hingga Rp 2 juta per malam, semua disesuaikan dengan kantong kamu.

Akomodasi yang saya maksud cocok untuk kantong budget traveller ada di Pulau Maafushi. Pulau ini lebih hidup karena merupakan lintasan feri dari bandara Male, yang memiliki aneka pilihan penginapan serta layanan tour dan transportasi feri.

Semua perjalanan di Maldives dilakukan menggunakan kapal feri, yang terdiri dari feri umum/publik yang harganya murah tapi perjalanannya lama dan terjadwal, atau bisa dengan speed ferry yang relatif lebih mahal tapi cukup cepat namun terjadwal, serta private speed ferry yang cepat dan jamnya fleksibel.

Untuk budget traveler tidak direkomendasikan dengan private speed ferry karena harganya cukup fantastis untuk ukuran orang Indonesia, yakni USD 100-200 (Rp 1,4 - 2,8) sekali jalan per orang. Mata uang Maldives adalah Rufiyaa, dan disarankan pengunjung menukarkan secukupnya saja, karena nyaris semua pengeluaran dilakukan dalam mata uang US Dollar.

Penukaran juga hanya bisa dilakukan di bandara atau kota Male, tidak ada ATM atau money changer di pulau-pulaunya, sekalipun di hotel. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Inggris. Perlu diingat bahwa Maldives adalah negara muslim yang taat, jadi penggunaan pakaian minim tidak diperbolehkan di pulau kecuali resor saja.

Saya berkunjung ke Maldives pada minggu ke-2 bulan Maret 2019, dimana cuaca saat itu sedang terik sekali kisaran 30-33 derajat Celcius. Namun, saat terik inilah maka air laut berwarna semakin jernih, hingga terjadi warna gradasi tosca kebiruan yang sangat indah jika diabadikan. Jangan lupa menggunakan tabir surya yang cukup dan banyak minum air putih selama di sana.

Berhubung negara Maldives terdiri dari kumpulan atol suatu pulau koral yang mengelilingi laguna, maka hampir bisa dipastikan yang dijual adalah keindahan lautan beserta isinya. Petualangan saya mulai dengan mengambil paket satu hari excursion seharga USD 50/orang (Rp 711 ribu) .

Berawal pukul 10.00 pagi dengan kunjungan ke Dolphin Lagoons, saya berenang mengejar lumba-lumba yang sangat banyak dan lucu. Semakin didekati mereka malah lari. Petualangan paling seru dan tidak pernah terbayangkan sebelumnya, adalah berenang bersama ikan hiu (nurse shark) di laut lepas, karena ikan hiu itu amat sangat dekat dengan kita. Bahkan terkadang seperti sengaja mendekati dengan wajah ganasnya.

Namun, hiu-hiu itu bukan jenis pemangsa manusia. Jadi jangan khawatir, mereka terlihat gembira juga dikunjungi kita! Setelah puas bermain di laut lepas, saya berkunjung ke Pulau Fulidhoo. Ada kenangan yang tak bisa dilupakan, ketika kapal kami berlabuh di pantai, gerombolan manta/stingrays menyambut kami dengan wajah sangat imut dan mengajak bermain.

Waah.. mereka jinak dan bukan jenis berbahaya. Benar-benar fantastis, mereka bermanja-manja di sekitar betis kita mencari perhatian. Pengalaman ini benar-benar sulit ditemukan di tempat lain.

Sore hari petualangan dilanjutkan ke pantai timbul yang hanya ada jika laut surut. Saat itu air laut sedikit pasang, sehingga kami mengambil foto kenangan dan berenang-renang sebentar di hamparan air hijau muda nan bening. Malam harinya, saya mengambil paket tambahan night fishing (memancing ikan di malam hari) seharga USD 25/orang (Rp 355 ribu), menggunakan kapal cukup besar. Sebuah pengalaman unik, karena setelah itu ikannya dimasak dan disajikan untuk peserta.

Keesokan harinya saya memutuskan mengunjungi salah satu resor karena keingintahuan saya saja. Ini sebenarnya tidak murah, tapi rasanya sayang sekali sudah jauh-jauh ke sini jika tidak ke resor kan? Apalagi tidak perlu menginap karena harga yang tidak terjangkau.

Resor bintang 4 untuk kunjungan sehari dari pukul 10.00 s/d 17.00 dikenakan biaya USD 105 (Rp 1,4 juta) per orang, biaya itu sudah termasuk transport antar jemput dengan speed ferry, makan siang prasmanan, minuman sepuasnya selama di pulau, handuk, dan menikmati fasilitas resor kecuali kamarnya.

Nah, foto-foto yang kekinian nan instagramable itu rata-rata diambil di resor-resor seperti ini. Jadi boleh lah kunjungan satu kali saja, hanya untuk sekedar mengabadikan kemewahan dan kecantikan bungalow/villanya, sekalipun hanya dari kejauhan.

Di resor ini kita bebas memilih kursi pantai untuk sekedar berjemur, berleyeh-leyeh, snorkeling, berenang, atau berfoto-foto. Ada banyak pilihan resor, masing-masing memasang tarif harga sesuai bintangnya, dan memiliki aturan mainnya masing-masing.

Intinya pengunjung harian yang tidak menginap seperti saya, jumlahnya juga dibatasi tiap hari untuk menjaga privasi dan tidak boleh masuk ke area kamar. Kamar-kamarnya sendiri beraneka rupa, ada yang standar hotel biasa, ada yang berupa water villa, ada yang menggunakan jacuzzi dengan pemandangan laut lepas.

Saya sempat snorkeling di pantai sekitar resor, yang konon terkenal dengan terumbu karangnya. Ikan lautnya bervariasi dan cantik, dan saya termasuk beruntung bisa bertemu baby shark yang jinak dan bisa difoto dari atas permukaan air di bibir pantai karena sangat jernih.

Setelah lelah bermain air, kemudian saya menikmati santap siang cukup mewah secara prasmanan. Dari segi variasi makanan, boleh lah, tapi untuk rasa sepertinya tidak terlalu istimewa. Bisa dipahami semua serba mahal di resor ini, karena transportasi hanya menggunakan kapal feri, bayangkan mereka harus mengantar logistik harian untuk tamu dan supply kebutuhan sehari-hari.

Karena saya hanya memiliki 4 Hari 3 malam di Maldives, maka hari terakhir saya manfaatkan untuk mengambil paket setengah hari seharga USD 25 per orang. Kali ini acara tour adalah snorkeling dengan kura-kura, menyaksikan lagi lumba-lumba menari di laut lepas, dan yang benar-benar menyenangkan, menyaksikan dasar laut dimana saya bertemu ikan Nemo dan ikan dori, nama-nama karakter film terkenal, yang nampak secantik di film tersebut.

Aneka hewan laut penuh warna dan atraksi, menjadi kenangan sangat indah bagi pecinta lautan seperti saya. Kunjungan hari itu ditutup dengan sandbank lunch, makan siang sederhana di pantai berpasir putih. Setelah makan kita bisa berenang dan berfoto-foto sepuasnya.

Paket tour semacam ini tersedia di banyak lokasi kios seputar pulau dan biasanya disarankan sedikitnya memesan satu hari di muka. Harga dijual relatif sama, dan yang harus diperhatikan hanya jadwal detail kunjungan kemana saja supaya sesuai dengan selera kita.

Bagi teman-teman yang ingin tahu berapa budget untuk paket 4 Hari di Maldives, semua biaya sangat tergantung dari penerbangan, hotel yang dipakai dan musim kunjungan turis. Jika memungkinkan, pesanlah tiket 4-5 bulan sebelum keberangkatan dan ambilah penginapan secukupnya di Pulau Maafushi.

Karena hanya untuk tidur saja, cukup yang bintang 2 atau 3 seharga Rp 400-500 ribu per kamar per malam. Biasanya sudah termasuk sarapan pagi. Kedai makan dan resto tersedia di Pulau Maafushi. Jadi untuk makan, cadangkan budget USD 7-10 untuk sekali makan.

Jika sudah ikut paket tour, makan siang ala kadarnya disediakan. Total budget saya dengan pengalaman fantastis di bawah Rp 9 juta. Budget ini saya yakin bisa ditekan lagi, karena waktu itu saya membeli tiket satu bulan menjelang keberangkatan dan sedang long weekend di Jakarta. Jadi sudah pasti lebih mahal karena high season.

Estimasi budget untuk backpackers menurut saya bisa ditekan di Rp 7 juta per orang dengan pengalaman sama seperti saya di laman ini. Ayo mulai nabung, dan jangan cuma bermimpi, Maldives bisa jadi kenyataan kok!

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED