Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 27 Jun 2019 14:56 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Suku Anak Dalam, Sang Penjaga Rimba

lenny
d'travelers
Foto 1 dari 5
Penulis dan Suku Anak Dalam
Penulis dan Suku Anak Dalam
detikTravel Community - Suku Anak Dalam masih bertahan hidup dengan cara tradisional dalam belantara Sumatera di tengah gempuran modernitas. Kita harus bisa menyambangi mereka, apapun jalannya.

A man travels the world over in search of what he needs and returns home to find it (George A Moore).

Quote di atas sejalan dengan apa yang saya rasakan. Jauh-jauh mengeksplor dan bahkan tinggal di benua Amerika, Australia dan beberapa negara lainnya,nyatanya, petualangan paling hakiki yang dirasakan justru tak jauh dari kampung saya, Jambi.

Suku asli Provinsi Jambi adalah Suku Anak Dalam (SAD) atau yang dikenal juga dengan Orang Rimba. Awal mulanya, Orang Rimba diperkirakan berasal dari Orang Minang. Keseharian mereka yang tinggal di hutan adalah dengan tidak menggunakan pakaian, palingan hanya kulit kayu untuk menutupi kemaluannya. Namun karena dirasa ribet, tak nyaman dan kadang suka ada kutu kayunya, lama-lama mereka menggantinya dengan kain.

Yang cewek menggunakan kain layaknya kemben untuk atasan dan satu lagi untuk bawahan. Sementara yang cowok menggunakan cawat, yakni kain yang dililit-lilit menutupi selangkangan. Selain menjadi pakaian, kain juga berguna sebagai mahar pernikahan dan untuk membayar denda adat. Jika melakukan kesalahan, maka harus membayar denda adat dengan kain. Misalnya jika kedapatan mencuri kain, maka harus membayarnya dengan 6 kain. Yang paling berat adalah 100 kain karena menebang pohon sembarangan. See how good they treat nature?

Karena penasaran dengan suku ini, ketika pulang kampung dalam rangka Imlek, saya menyempatkan diri ikut open trip yang jarang-jarang ada dan kebetulan pas sekali dengan jadwal. Sepertinya semesta sangat mendukung untuk berjumpa mereka.

Dari Kota Jambi, saya berkendara selama 6 jam untuk tiba di Kabupaten Sarolangun dan melapor dulu ke pihak pengelola taman nasional. Ketika itu hari sudah pukul 22.00 WIB malam dan saya tetap melanjutkan perjalanan menuju tempat meeting point berikutnya di mana para Suku Anak Dalam telah menunggu untuk mengantarkan kami masuk ke belantara hutan. Perjalanan pun dimulai pada tengah malam yang mencekam dengan kondisi jalan becek, berlumpur dan akses yang cukup sulit.

Ketika tiba di kampung, saya dan rombongan langsung tidur karena memang sudah sangat letih di perjalanan. Esok harinya saya terbangun dan melihat para Suku Anak Dalam yang sudah mulai beraktivitas. Kebetulan hari itu tidak ada jadwal guru yang masuk ke hutan dan mengajari anak-anak. Oleh karena itu, saya diajak untuk mengambil ubi di sekitar hutan yang nantinya akan direbus untuk menjadi sumber karbohidrat mereka. Ada juga berbagai jenis sayur-sayuran liar yang tumbuh di sekitar serta aneka buah-buah tropis yang akan menjadi makanan pelengkapnya.

Di sinilah terlihat bahwa Suku Anak Dalam hidup berdampingan, jika tak ingin disebut bergantung sepenuhnya pada alam. Untuk makanan yang lainnya, para prialah yang bertugas untuk berburu. Mereka juga lihai dalam membuat perangkap agar bisa lebih mudah menangkap hewan buruan. Target mereka adalah babi, rusa, labi-labi hingga hewan liar lainnya karena mereka pantang makan hewan yang diternakan. Bahkan seperti telur pun, tidak mereka makan karena masih turunan dari hewan yang diternakan.

Saya juga diajak untuk melihat tanaman obat seperti Pasak Bumi. Peserta open trip yang cowok begitu tahu tumbuhan kecil itu adalah pasak bumi langsung tersenyum mesem, karena dikiranya untuk obat kuat. Namun bagi SAD Pasak Bumi berfugsi sebagai obat batuk dan demam. Nantinya yang diambil hanya akarnya saja lalu direbus dan diminum. Dari pengakuan SAD sendiri, rasanya bakal pahit banget. Hmm... baiklah saya pakai paracetamol aja deh kalau sakit...

Meski mereka punya pengetahuan dalam meracik bahan-bahan dari alam, namun saya agak mencemaskan kesehatan mereka terutama para wanita yang menikah di bawah umur. Rata-rata keluarga SAD yang aku lihat masih remaja namun sudah menenteng paling tidak satu bayi. Kehamilan muda ini karena tidak diawasi, sangatlah berisiko. Contohnya si nenek, dia tidak ingat lagi tepatnya sudah belasan anak yang pernah ia lahirkan. Beberapa meninggal, beberapa hidup. Begitupun anak perempuannya, ketika telah akil balig, melahirkan banyak namun yang bertahan tinggal 8 saja. Sulam, sang cucu, yang kuperkirakan usianya tak lebih dari 17 tahun, telah melahirkan seorang bayi namun juga meninggal. Aku cukup miris karena ini seperti lingkaran setan yang tak berujung.

Akses yang sulit untuk menjangkau mereka ini memang membuatnya nyaris tak tersentuh dengan fasilitas kesehatan. Beberapa anak yang saya lihat juga punya luka yang memang kadang dialami oleh anak-anak pada umumnya seperti koreng, atau terjatuh atau tergores sesuatu karena mereka tidak menggunakan sandal. Namun karena mereka tidak mendapatkan pengobatan secara cepat dan tepat, sepertinya proses penyembuhan berlangsung lebih lama yang bikin saya takut luka tersebut bakal mengakibatkan infeksi yang lebih parah.

Saya jadi menyesal andai saja tidak hanya membawa kain atau permen untuk membuat mereka senang, namun juga membawa beberapa obat-obat ringan untuk membantu mereka. Saya tak bisa membayangkan kalau adik-adik ini sampai sakit gigi, namun harus berjalan berjam-jam keluar hutan sambil menahan perih di pipi hanya untuk berobat ke puskesmas terdekat yang jaraknya sangat tidak dekat. Semoga kalian sehat-sehat selalu yah dek.

Di akhir trip, saya merasa langkah kakiku teramat berat ketika berpamitan. Padahal di sana tak sampai 12 jam, namun hati ini seperti sudah tertambat pada tatapan anak-anak rimba yang begitu polos namun kuat dan tidak takut pada orang asing yang baru dilihatnya. Begitupun sensasi bisa merasakan tinggal di tengah belantara tanpa akses listrik, sinyal dan bahkan air minum, membuat sadar betapa beruntung dan kayanya hidup saya sehari-hari yang kerap kali saya kesali.

Saya juga takut ini bakal menjadi momen terakhirku bisa melihat kehidupan mereka secara alami seperti ini. Akankah budaya mereka masih dapat bertahan meski diterpa modernitas?

Sejatinya peradaban manusia akan terus berubah. Budaya akan mengikuti pola hidup manusia. Sebisa mungkin, secepat mungkin melihat langsung suatu tempat dan menjelajahinya adalah kesempatan terbaik. Begitupun dengan ambisi saya untuk menjelajahi Dubai.

Dulu, Dubai hanya sebuah kota kecil di tengah gurun. Sekarang, tentu tak ada satu pun manusia yang percaya akan hal itu ketika mereka diperlihatkan foto-foto gemerlap bangunan tinggi dan lanskap perkotaan kelas dunia. Dubai kini menjelma tidak hanya sebagai tempat transit, tetapi sebagai salah satu tujuan wisata yang paling mengagumkan. Apapun imajinasi saya yang terliar, Dubai dapat mewujudkannya. Tinggal di hotel paling mewah atau tinggal di tengah padang pasir bak Putri Jasmine, semuanya terkabul. Merasakan berselancar di laut atau bermain salju hingga menggigil sementara di luar sana panas terik matahari memanggang kulit, tak ada yang tak mungkin bagi Dubai.

Dubai adalah mimpi saya yang tak berkesudahan.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA