Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 22 Apr 2020 11:49 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Piknik Kok ke Pemakaman?

arief kas
d'travelers
Foto 1 dari 5
monumen kuburan massal
monumen kuburan massal
detikTravel Community -

Mungkin terdengar aneh, tapi ada kok orang-orang yang piknik ke pemakaman. Begini kisahnya...

Begitu menepi di dermaga marina Ancol, panas dan teriknya udara Jakarta menyambut saya. Taman hiburan Ancol yang merupakan salah satu taman hiburan tertua dan terluas di Indonesia, tidak terlalu ramai di Senin siang.

Pepohonan yang hijau menjadi oase tersendiri dan mengurangi dampak rumah kaca serta panasnya udara pesisir Jakarta. Setelah puas berkeliling dan setiap sudut Ancol sudah didatangi, ada satu tempat yang belum pernah yang saya kunjungi seumur hidup.

Tepat di sisi timur taman hiburan Ancol, sebuah pintu gerbang dengan tulisan Ereveld Ancol memikat saya untuk masuk dan berkunjung. Setelah memarkir kendaraan di tempat parkir yg telah disediakan, saya berjalan kaki memasuki gerbang utama.

Sebuah lonceng besar yg mengkilat menjadi penanda bagi para tamu yang masuk, waktu berkunjung dimulai dari pukul 07.00 - 18.00 setiap hari. Memasuki jalan masuknya yg sangat rapi dan bersih, saya kemudian membaca sejarah Ereveld Ancol yang terpampang di dinding dalam tiga bahasa yaitu Indonesia, Inggris dan Belanda.

Ereveld atau makan kehormatan Belanda Ancol, di komplek pemakaman ini telah dimakamkan 2.000 korban perang yang gugur selama Perang Dunia II dalam melawan penjajahan Jepang di Indonesia.

Kemudian saya didampingi oleh pengawas komplek pemakaman ini yang sangat santun dan ramah serta informatif, Pak Hadi Susilo menjelaskan mengenai sejarah pemakaman Belanda yang sangat sapi dan bersih ini. Sejenak kami berbincang di gazebo setelah saya mengisi buku tamu yang telah disediakan. Angin semilir menerpa kami berdua di gazebo sambil berbincang-bincang mengenai sejarahnya.

Makam kehormatan Belanda ini diresmikan pada tanggal 14 September 1946 dan dirawat oleh Yayasan Makam Kehormatan Belanda di Indonesia yang menaungi 7 komplek pemakaman Belanda di Indonesia. Dikomplek ini, terkubur jasad para korban perang baik pria maupun wanita yang dieksekusi atau dipenggal oleh tentara Jepang.

Kawasan utara Jakarta ini dulunya merupakan tanah rawa yang cukup luas dan ketika eksekusi berlangsung, banyak jenasah yang tidak bisa diidentufikasikan sehingga nisan para korban ada yg hanya bertuliskan Geexecuteerd (dieksekusi) atau Onbekend (tidak dikenal). Disini ada makam dengan nisan Muslim, Kristen dan Budhist.

Cerita demi cerita mengalir dari beliau yang bertugas menjaga komplek pemakaman ini, rasa pilu dan sedih akibat kekejian perang membuat saya terharu dan mendoakan para korban yang ada dikawasan ini agar mereka hidup tenang bersama Tuhan YME.

Ketika matahari sudah bersahabat, saya minta ditemani beliau untuk berkeliling makam. Bagi rekan-rekan yang ingin berkunjung kekawasan makam ini, harap menjaga sopan santun dan yang penting tidak menampilkan foto nisan dari bagian depan yg bertuliskan nama korban perang-untuk menghormati para korban dan keluarga mereka.

Ambil foto nisan yang berjejer rapi dari bagian belakang agar tidak nampak nama yang tertera dan minta ijinlah terlebih dahulu. Tepat dibagian pojok makam, terdapat sebuah pohon tua yang sudah diawetkan.

Di pohon inilah, para korban perang baik pria atau wanita dieksekusi oleh Jepang. Hemelnboom atau pohon surga, menjadi saksi biksu kekejian tentara Jepang. Ada rasa miris buat saya ketika flashback tentang kekejian yang terjadi waktu itu.

Jasad para korban yang sudah dieksekusi dikumpulkan disebuah titik yang kini dijadikan sebuah monumen - Algemeen Monument. Tertulis "Hun Geest Heeft Overwonnen: 1942 - 1945", Semangat Mereka telah menang". Dimonumen ini dulunya, jasad korban eksekusi dikuburkan dan kemudian digali kembali setelah perang usai berdasarkan informasi yang dikumpulkan. Kembali saya mengirimkan doa untuk para korban dalam hati agar mereka hidup tenang di surga bersama Tuhan YME.

Sebuah makam kecil tidak jauh dari pohon surgawi, disanalah terkubur jasad Luchien Ubels, seorang gadis cantik berumur 24 tahun waktu itu dan berkebangsaan Belanda. Almarhum merupakan korban salah tangkap oleh tentara jepang waktu itu.

Alm. ditangkap karena sebenarnya jepang mencari adik laki-lakinya yang bernama Lambert Sam Ubels, tetapi gadis cantik itu menyerahkan diri serta mengorbankan dirinya demi sang adik. Bulan september 1943, almarhum dieksekusi oleh Jepang ditempat ini dan sang adik selamat dari perang. Cinta sang kakak yang begitu besar terhadap keluarga dan adiknya, membuat saya terharu dan atas permintaan keluarga besarnya, makam alm dipisahkan dari korban yang lain.

Bukan hanya warga Belanda yang dimakamkan di komplek ini, ada juga WNI yang dimakamkan disini dan salahsatunya yaitu makam Prof. Dr. Achmad Mochtar. Almarhum merupakan salahsatu martir sains di Indonesia, beliau dulunya direktur Lembaga Eijkman. Sebuah lembaga biologi molekuler yang masih eksis hingga kini, atas jasa beliau para ilmuwan Indonesia telah diselamatkan dari eksekusi tentara Jepang.

Alm menjadi "tumbal" akibat kecerobohan tentara jepang yang mencoba vaksin anti tetanus kepada para tawanan romusha, beliau dituduh oleh jepang telah menyabotase ujicoba proyek vaksin yang gagal tersebut. Akibatnya, almarhum dijebloskan kepenjara bersama ilmuwan, dan untuk menyelamatkan para ilmuwan tersebut, beliau bersedia menjadi martir bagi rekan-rekannya.

Alhasil pada tanggal 3 Juli 1945, almarhum dieksekusi oleh Jepang, jasadnya pun digilas oleh mesin uap dan dibuang kekuburan massal disini. Posisi makam beliau baru diketahui dibulan Juni 2010, setelah 2 ilmuwan yaitu Prof J Kevin Baird dan Prof Sangkot Marzuki mencari dari beragam sumber termasuk dari arsip tertulis Belanda. Kisah almarhum diabadikan dalam buku "War Crimes in Japan-Occupied Indonesia: A Case of Murder by Medicine". Alfatihah untuk almarhum.

Selama di sini, pak Hadi menjelaskan mengenai proses perawatan nisan yang sangat rinci dan harus segera diperbaiki. Kawasan makam seluas 3 hektar ini pernah banjir rob setinggi hampir 1 meter, tetapi tahun 2007 mulai diperbaiki dan dibuatkan tanggul oleh pemerintah Belanda yang bisa bertahan hingga 30 tahun berikutnya.

Di tahun 2009, proses pembuatan tanggul telah selesai dan kita bisa melihat tanggul yang cukup tinggi dari sebuah gazebo yang terletak disisi tanggul dengan pemandangan pantai ancol yang indah diwaktu sore. Hampir 2 jam saya berada di kawasan makam ini dan mendapatkan banyak kisah sejarah yang menarik serta beragam hal, pak Hadi dengan setia menemani saya hingga kembali ke pintu gerbang.

Selamat sore untuk Om dan Tante di Ereveled Ancol. Berkah Ndalem buat Pak Hadi yang dengan passionya merawat dan menjaga makam ini.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA