Dung..dung..dung..dung! Ting..ting..ting.. ting! Suara ritmis rancak nan dinamis itu menggema dari sekitar 5 jenis perkusi di Mihala Bunka Kaikan (Gedung Kebudayaan Mihala), Sakai, Jepang. Sekitar 7 orang, sebagian besar masih muda terlihat memukul-mukul perkusi. Beberapa terlihat menikmati memukul perkusi dengan gerakan seperti menari.
Ada perkusi yang berbentuk seperti bedug di masjid, suaranya agak berat 'dug dug dug'. Ada perkusi yang suaranya agak ringan dan diikat dengan tali, suaranya seperti snare drum, 'trutuk tuktuk, trutuk tuktuk'. Ada pula yang suaranya besar bak bass, 'dum dum dum dum'. Ada pula yang berfungsi seperti simbal atau triangle, yang dipukul dan suaranya berdenting 'ting ting ting ting'.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keenam anak muda yang berkeringat setelah bersemangat memainkan komposisi dengan Wadaiko itu lantas memperkenalkan diri sebagai kelompok perkusi kesenian drum Jepang, Wadaiko Miyako. Mereka terdiri dari Tatsui (27), yang berkepala plontos dan bertubuh subur, Haze Shota (29) sang pemimpin grup dan komposer, Yoko Takaoka (27) yang sedang hamil 8 bulan, Mai Kobayashi (24) dan Achiko Abe (21) perempuan muda berambut pendek dan panjang, Shohei Mima (24) pemuda yang energik menari-nari saat memukul perkusi. Sedangkan Gaku Yano, sang guru pelatih, pria yang terlihat lebih muda dan energik di usianya yang sudah menginjak 61 tahun.
Mereka berkumpul dan berlatih Wadaiko tiap 2 kali seminggu, Rabu dan Minggu. Sabtu itu mereka sengaja berlatih untuk menyambut para jurnalis dari Media Sakai ASEAN Week. Haze sang pemimpin bercerita kelompok perkusi ini dibentuk 6 tahun lalu. Rata-rata, para anggota sudah mulai aktif bermain perkusi sejak SMA dan bergabung menjadi satu komunitas ini sejak lulus SMA.
"Ini adalah cara kami berkontribusi kepada komunitas kami. Saya merasa kecenderungan anak muda di Jepang kurang peduli tradisi. Beberapa anak muda melestarikan. Saya akan bermain Wadaiko sampai tak bisa memukul lagi," kata Haze yang sudah menciptakan 5 komposisi Wadaiko ini.
Selain melestarikan perkusi tradisional yang sudah ada sejak Zaman Edo (sekitar abad ke-17) ini, Haze mengatakan bermain Wadaiko ini relatif mudah. Bermain Wadaiko juga adalah cara mereka berkomunikasi dengan orang lain.
"Ini adalah salah satu cara berkomunikasi dengan orang lain. Tidak ada nada do-re-mi. Kami bisa berkomunikasi lewat musik. Wadaiko itu mudah, tidak perlu melihat tapi mendengar sesuatu, yang universal. Yang paling penting adalah energi dan kekuatan," imbuhnya.
Haze juga merasakan dua hal baik saat dia bermain Wadaiko bersama teman-temannya.
"Pertama lebih sehat. Kedua, merasa membuat orang lain lebih bahagia. Wadaiko ini memainkannya harus dengan rasa dan hati, sehingga bisa dirasakan melalui hati orang lain," tutur Haze.
Sedangkan Yoko Takaoka yang sedang hamil 8 bulan mengatakan dirinya tetap bermain Wadaiko meski dirinya sudah hamil besar. Namun karena hamil, Yoko yang dulu juga kerap memukul-mukul salah satu 'bedug' ini kini memilih bermain atarigane, semacam gong kecil seukuran telapak tangan yang nada suaranya berdenting seperti triangle.
"Hamil tetap main, tapi main alat yang kecil, dulu saya juga memukul drum. Anak saya mungkin kaget, tapi mudah-mudahan bisa membuat anak saya bisa bermain musik nantinya. Kalau anak saya lahir mungkin saya akan mengajarinya bermain musik," kata Yoko yang sudah sekitar 10 tahun lalu mulai bermain Wadaiko ini.
Karena kecintaannya kepada seni perkusi tradisional Jepang, para anggota kelompok ini tak ragu bergotong royong membeli seperangkat alat perkusi Wadaiko. Padahal kalau ditotal nilainya 72 juta Yen atau sekitar Rp 7,2 miliar.
"Tentu saja alat ini sangat mahal. Tapi sekarang sudah ada alat-alat yang lebih murah, sehingga semua orang bisa memainkannya," tutur Haze.
Bergabung dengan kelompok inipun, mereka iuran patungan sekitar 3.000 Yen (sekitar Rp 3 juta) per orang per bulan karena mereka terkadang menyewa tempat untuk latihan. Didorong sayangnya pada tradisi pula mereka menyisihkan penghasilan agar bisa menjalankan hobi mereka di sela-sela kehidupan profesional, seperti yang Haze katakan, berkontribusi bagi komunitasnya.
(aff/aff)












































Komentar Terbanyak
Viral Bule Sebut Bali 'Neraka Dunia', Dispar Badung Bereaksi
Cair! Desa Wunut Bagikan THR untuk Seluruh Warga, Termasuk Bayi Baru Lahir
Garuda Indonesia Tidak Lagi Berstatus Bintang 5