Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 01 Feb 2018 16:15 WIB

INTERNATIONAL DESTINATIONS

Istanbul: Antara Eropa, Asia dan Islam

Kurnia Yustiana
Redaksi Travel
Foto: Masjid Suleymaniye di Istanbul (Kurnia/detikTravel)
Foto: Masjid Suleymaniye di Istanbul (Kurnia/detikTravel)

FOKUS BERITA

Muslim Traveler
Istanbul - Istanbul di Turki tak hanya menyajikan keunikan dua benua, Eropa dan Asia. Traveler bisa sekaligus napak tilas kejayaan Islam masa Kekhalifahan Utsmaniyah di sini.

Istanbul menjadi kota terpadat di Turki, yang juga menjadi favorit traveler dari berbagai belahan dunia. Berlokasi di antara Laut Hitam dan Laut Marmara, serta letaknya yang ada di dua benua, menjadikan Istanbul punya ragam budaya dan sejarah panjang yang menarik buat diselami.

Dirangkum detikTravel dari berbagai sumber, Kamis (1/2/2018), dahulu tahun 660 sebelum Masehi kota ini didirikan dengan nama Byzantium. Kemudian tahun 330 Masehi, berubah nama menjadi Konstantinopel, yang kemudian terus berkembang pesat.

Setelah penaklukan Konstatinopel sekitar tahun 1453, Konstantinopel beralih dari kekaisaran Romawi menjadi kesultanan. Pada abad ke-16 dan 17, Kesultanan Utsmaniyah mencapai masa kejayaannya di bawah pimpinan Suleiman the Magnificent atau Sulaiman Agung.

Kekuasaannya mencakup sebagian besar kawasan Eropa tenggara, sebagian Eropa tengah, Asia Barat hingga bagian utara Afrika. Peradaban Islam begitu maju di Konstantinopel. Hingga akhirnya sekitar abad ke-18 kekuasaan Utsmaniyah mulai meredup dan runtuh setelah Perang Dunia I. Republik Turki kemudian berdiri di bawah kepemimpinan Mustafa Kemal Ataturk. Nama Konstantinopel tak lagi digunakan dan diganti menjadi Istanbul hingga sekarang.

Menara Galata yang pada era Ottoman digunakan sebagai penjara dan menara pengintai (Kurnia/detikTravel)Menara Galata yang pada era Ottoman digunakan sebagai penjara dan menara pengintai (Kurnia/detikTravel)
Pusat Kota Istanbul luasnya sekitar 1.539 km2, namun wilayah metropolitan Istanbul lebih besar lagi, mencapai 5.343 km2. Istanbul menjadi kota yang terpadat di Turki. Berdasarkan data Turkish Statistical Institute jumlah populasinya mencapai 14.657.434 penduduk tahun 2015, sedangkan ibu kota Turki, Ankara, populasinya sebesar 5.270.575 orang. Mayoritas penduduknya memeluk agama Islam, untuk minoritasnya meliputi Kristen dan Yahudi.

Pesona Istanbul dengan sejarah panjangnya begitu memikat turis dari berbagai belahan dunia. Pada 2016 lalu, turis yang berkunjung ke Istanbul mencapai sekitar 9,2 juta. Traveler Indonesia sendiri tampaknya banyak juga yang ingin berkunjung ke Istanbul. Travel agent dari Indonesia pun banyak yang menjual paket umroh plus Turki, di mana destinasinya termasuk ke Istanbul.

Bagi saya sendiri, Istanbul masuk dalam bucket list destinasi traveling impian. Alhamdulillah, saya berkesempatan berkunjung ke Istanbul pada Januari 2018 kemarin. Perjalanan dari Bandara Soekarno Hatta menuju Bandara Ataturk Istanbul memakan waktu sekitar 12 jam.

Suasana Istanbul (Kurnia/detikTravel)Suasana Istanbul (Kurnia/detikTravel)
Istanbul punya empat musim, dan Januari masih masuk dalam musim dingin dengan suhu berkisar 3 hingga 8 derajat Celsius. Keluar dari Bandara Ataturk, saya disambut dingin yang menusuk, juga hujan gerimis. Tak apa, udara dingin tak menyurutkan semangat untuk jelajah Istanbul.

Selama di Istanbul saya mengunjung sejumlah destinasi wisata seperti Masjid Suleymaniye, Taman Ulus hingga Grand Bazaar. Ada pula Masjid Biru yang begitu ikonik.

Wisata di Istanbul memang bisa sekaligus napak tilas kejayaan Islam era Ottoman. Ada Masjid Sultan Ahmed alias Masjid Biru, Hagia Sophia dan Istana Topkapi yang menyimpan peninggalan Rasulullah SAW seperti gigi, janggut, jubah, pedang, dan jejak telapak kaki Rasulullah yang dipahat di batu.

Begitu pula bangunan bersejarah nan megah lainnya seperti Istana Dolmabahce dan Istana Beylerbeyi. Saya berkesempatan masuk ke dalam Istana Beylerbeyi yang letaknya di sisi Asia Istanbul, dekat dengan Jembatan Bosphorus.

Jembatan Bosphorus (Kurnia/detikTravel)Jembatan Bosphorus (Kurnia/detikTravel)
"Ini merupakan istana musim panas para sultan, yang didirikan oleh Sultan Abdulaziz," kata Hakan, pemandu wisata yang menemani tur satu hari di Istanbul.

Bicara soal Jembatan Bosphorus, inilah penghubung Benua Asia dan Eropa. Totalnya memang ada 3 jembatan yang melintang di atas Selat Bosphorus. Seperti yang saya sebutkan di atas, Istanbul memang ada di dua benua. Keren ya!

Menurut pemandu wisata, Istanbul yang masuk wilayah Eropa bisa dibilang menjadi pusat bisnis dan perdagangan. Beragam destinasi wisata terkenal Istanbul termasuk Masjid Biru juga berada di sisi Eropa. Sementara wilayah Asia kebanyakan untuk tempat tinggal penduduk. Pemandu wisata saya pun sebenarnya tinggal di wilayah Asia, namun banyak bekerja di wilayah Eropa.

"Saya setiap hari melintasi dua benua lho," candanya.

Beruntung, saya sempat menjejakkan kaki di sisi Eropa maupun Asia, walaupun hanya sebentar di sisi Asianya. Ceritanya begini, saya menginap di sisi Eropa. Hotel saya terletak di dekat bandara, dengan suasananya tidak terlalu ramai karena jauh dari pusat kota.

Suasana ramai di sisi Eropa baru terasa saat diajak ke destinasi wisata. Menuju ke Taksim Square, tempat gaulnya anak muda Istanbul, terlihat bangunan khas Eropa, bangunan modern dan bangunan kuno. Semua berpadu dengan begitu indahnya, ditambah pemandangan Laut Marmara di tepi jalan. Wah kalau pemandangannya indah begini rasanya mau roadtrip berjam-jam pun bakalan betah.

(Kurnia/detikTravel)(Kurnia/detikTravel)
Sampai di Taksim, ramai banget turisnya. Baik turis lokal maupun mancanegara pada senang jalan-jalan di sini, soalnya banyak banget toko-toko suvenir hingga barang branded yang asyik buat belanja. Ada pula bangunan kuno nan bersejarah di sekitar Taksim yaitu Menara Galata.

Pastinya setelah berkeliling sekitar kota, gambaran sisi Eropa Istanbul menurut saya sesuai seperti apa yang dikatakan pemandu wisata, pusat bisnis dan perdagangan. Nah sementara untuk wilayah Asia juga seperti apa yang dikatakan pemandu, kebanyakan menjadi tempat tinggal penduduk. Tapi ada juga sejumlah objek wisata yang sayang dilewatkan.

Istana Beylerbeyi (Kurnia/detikTravel)Istana Beylerbeyi (Kurnia/detikTravel)
Saya menyeberang ke Asia lewat Jembatan Bosphorus waktu itu untuk mengunjungi Istana Beylerbeyi. Dari arah Eropa menuju ke Asia, perhatikan di ujung jembatannya, ada papan kuning bertuliskan selamat datang di Asia dalam bahasa Turki dan Inggris. Sekembalinya dari Beylerbeyi, saya kembali lewat Jembatan Bosphorus.

Hakan mengatakan kalau tadinya ada juga papan bertuliskan selamat datang ke Eropa di ujung jembatan. Namun saat kami melintas, papan tersebut tidak terlihat. Mungkin sudah dipindahkan ke tempat lain. Kalau penasaran mau melihat pemandangan sekaligus dua sisi benua ini, di mana Selat Bosphorus mengalir, datang saja ke Ulus Garden. Pemandangan cantik banget dari sana.

Sudah ke sisi Eropa dan Asia, wisata ke Istanbul tentunya masih kurang lengkap tanpa icip-icip kulinernya. Selama di Istanbul, saya mencicipi kebab, kalau yang ini sih wajib, juga masakan khas Turki lainnya seperti lahmacun, pizza ala Turki. Selain makan di restoran, saya diajak juga bersantap siang di rumah warga Istanbul, jadi mencicipi masakan rumahan. Mantap!

Yang menjadi perhatian, hampir semua masakan ada yoghurtnya. Baik itu makanan pembuka maupun makanan utama. Minumannya pun begitu, ada minuman khas namanya Ayran yang terbuat dari campuran yoghurt, air dan garam.

Lebih lanjut soal minuman, orang Turki rupanya suka minum teh. Budaya minum teh ini berlangsung sejak lama. Biasanya teh akan disajikan setelah makan, bersama dengan pencuci mulut manis. Teh Turki tergolong dalam teh hitam, dikenal dengan sebutan Cay.

Teko teh yang unik (Kurnia/detikTravel)Teko teh yang unik (Kurnia/detikTravel)
Teh ditaruh dalam teko khas setempat yang bertumpuk. Satu untuk cairan tehnya, satu lagu untuk air panas. Cay begitu pekat jadi untuk menyajikannya pun tak bisa sembarangan, kalau mau rasanya enak.

Dalam satu gelas teh, cairan rebusan teh dituang sedikit saja, mungkin sepertiga gelas. Setelah itu baru gelas diisi penuh dengan air panas. Buat yang suka manis boleh ditambah gula.

Kalau doyan tanpa gula, bisa langsung diseruput saja. Saya sendiri penikmat teh tanpa gula. Teh yang terasa agak pahit ini pas sekali memang kalau dimakan bersama dessert yang sudah manis seperti Turkish Delight maupun Sekerpare.

Pastinya masih banyak hal menarik yang bisa dijelajahi di Istanbul. Mungkin seminggu ya baru puas keliling destinasi yang bersejarah ini. Semoga bisa kembali ke Istanbul suatu saat nanti.

(Kurnia/detikTravel)(Kurnia/detikTravel)
(krn/fay)

FOKUS BERITA

Muslim Traveler
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED

Foto: Penjara di Bawah Air

Sabtu, 19 Mei 2018 22:05 WIB

Pernah terbayang penjara underwater? Di Estonia ada bekas penjara yang dulunya tambang kapur dan terendam air bersih yang dipompa. Pemandangannya cantik.