Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 09 Jul 2021 18:50 WIB

INTERNATIONAL DESTINATIONS

Lebanon, Negara dengan 18 Sekte Agama yang Kerap Dilanda Konflik

Putu Intan
detikTravel
Pandemi Corona tidak menyurutkan wisatawan untuk berlibur. Meski pandemi belum usai, warga lokal tetap meramaikan destinasi wisata di negara konflik tersebut.
Negara Lebanon. Foto: AP Photo
Jakarta -

Lebanon dikenal sebagai negara yang mengakui banyak agama. Sayangnya, keputusan mulia itu dinilai banyak kalangan malah membuat Lebanon susah mengatasi konflik dan krisis.

Lebanon merupakan negara kecil di Asia Barat yang luasnya hanya 10.452 kilometer persegi. Luas negara ini sama seperti luas beberapa kabupaten di Indonesia, seperti Kabupaten Morowali Utara di Sulawesi Tengah atau Kabupaten Kotawaringin Barat di Kalimantan Tengah.

Di negara kecil itu, hidup sekitar 6 juta penduduk yang mayoritas menganut agama Kristen dan Islam. Akan tetapi selain kedua agama tadi, ada 18 sekte agama yang juga diakui Lebanon yang terbagi menjadi 4 Muslim, 12 Kristen, Druze, dan Yudaisme.

Untuk menjaga stabilitas di negara tersebut, negara yang merdeka pada 22 November 1943 dari Prancis itu membagi kekuasaan berdasarkan sekte-sekte tadi. Meskipun negara itu memiliki sistem pemerintahan parlementer, pada praktiknya sistem yang dijalankan lebih mengarah pada konvensionalisme.

Aksi Solidaritas Negara di Dunia Untuk LebanonAksi Solidaritas Negara di Dunia Untuk Lebanon. Foto: AP Photo/Michel Euler



Konvensionalisme ini membagi kekuasaan pemerintahan pada kelompok-kelompok agama yang ada di Lebanon. Pembagian itu meliputi presiden yang harus dijabat seorang Katolik Maronit, perdana menteri dijabat seorang Muslim Suni, wakil perdana menteri dari Kristen Ortodoks, ketua parlemen seorang Syiah, dan wakil ketua parlemen dari Kristen Ortodoks.

Tak hanya di pemerintahan, di parlemen pun, pembagian tetap dilakukan. Lebanon memiliki 128 kursi parlemen yang rasio pembagiannya mewakili kelompok Islam dan Kristen.

Seperti telah disinggung di bagian atas, tujuan dibentuknya sistem konvensionalisme ini adalah untuk mencegah konflik sektarian. Selain itu dimaksudkan untuk memberikan keadilan secara demografis bagi 18 sekte agama di Lebanon.

Sayangnya, cita-cita mulia itu tak bertahan lama karena terjadi oligarki politik dan monopoli ekonomi dari setiap kelompok. Kondisi tersebut diperparah dengan adanya kepentingan masing-masing kelompok yang juga berafiliasi dengan kekuatan asing, seperti Israel, Palestina, Amerika Serikat, Arab Saudi, Iran, dan Prancis.

Selanjutnya: perang saudara yang menghancurkan Lebanon

Selanjutnya
Halaman
1 2
BERITA TERKAIT
BACA JUGA