Museum seluas 900 meter persegi ini berada di Jalan Gajahmada atau sebelah timur Balai Kota Malang. Di dalamnya tersaji rekam jejak berdirinya Kota Malang, dari zaman paleolitik masa arkeologi, hingga pasca kemerdekaan.
Anda bisa membaca cerita Kendedes dan Ken Arok yang hidup di masa Kerajaan Singosari mengawali sejarah kelahiran Kota Malang, dan diteruskan pada lorong sejarah di masa kolonial.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Momentum peresmian Tugu di tahun 1953 oleh Presiden Soekarno, yang saat ini berada di depan Balaikota Malang juga diabadikan dalam miniatur di lorong sejarah. Tak ketinggalan ketika wilayah Malang dibumihanguskan pada masa penjajahan sekitar tahun 1914 juga menghiasi sudut lorong sejarah.
"Bisa dikatakan rekam jejak sejarah Malang, kita bawa ke sini," terang Dwi Cahyono.
Untuk membawa pengunjung di zaman paleolitik masa arkeologi, Cahyono membawa 1,5 juta batu tua peninggalan di masa itu. "Kita ingin semua bukti sejarah bisa dikenali masyarakat, sebagai edukasi sejarah," jelas pemerhati sejarah Kota Malang ini.
Untuk membangun museum ini, Cahyono harus merogoh kocek hingga Rp 1,5 miliar. Dana sebesar itu dikeluarkan untuk mengumpulkan data sejarah bagi museumnya itu. Nantinya setiap pengunjung akan dikenakan tarif sebesar Rp 25 ribu untuk melihat langsung bukti sejarah Kota Malang. Museum ini buka dari pukul 08.00-17.00 WIB.
"Harapannya museum ini bisa menjadi tambahan pengetahuan tentang sejarah Kota Malang," beber Dwi.
(aff/fay)












































Komentar Terbanyak
Bule yang Ngamuk Dengar Warga Tadarusan di Gili Trawangan Ternyata Overstay
Viral 'Tembok Ratapan Solo', Politisi PSI: Bukti Jokowi Dicintai
Memalukan! Turis Turun dari Kapal Pesiar di Lombok Malah Disambut Tumpukan Sampah