Hal ini disampaikan oleh CEO WWF Indonesia, Efransjah kepada detikTravel setelah penandatangan MoU dengan WWF Indonesia, Dewan Nasional Perubahan Iklim dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia di Lantai 16, Gedung Sapta Pesona, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, Kamis (26/9/2013).
"Koral atau terumbu karang itu juga hidup juga bernafas," kata Efransjah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di balik itu, rupanya ada dampak negatif dari kegiatan diving. Bagaikan musuh dalam selimut, dampak negatif tersebut belum banyak diketahui oleh banyak wisatawan dan pengelola operator tur selam.
"Terumbu karang bisa stres kalau banyak penyelam yang datang ke sana bersamaan, bisa mati juga" tegas Efransjah.
Hal itulah yang menjadi masalah. Efransjah mengumpamakan permasalahan ini seperti kebun binatang. Jika suatu kebun binatang ramai oleh pengunjung, maka binatang-binatang di sana pasti makin stres. Nah, terumbu karang juga seperti itu yang bisa stres kalau banyak penyelam yang berenang-renang di sekitarnya.
"Permasalahan ini harus dikelola bersama-sama," ujar Efransjah.
Untuk itu, baiknya pihak operator tur yang menawarkan kegiatan selam membuat jadwal diving yang teratur. Mereka harus bisa membuat jeda waktu yang cukup panjang, agar tak banyak wisatawan yang nyebur ke laut. Wisatawan juga harus sadar, mereka tak bisa seenaknya menyelam bersama-sama dalam jangka waktu lama.
"Diving itu sebenarnya bagus, wisatawan bisa melihat dan mempromosikan keindahan bawah laut. Daripada menangkap ikan-ikan laut yang kecil-kecil, lebih baik diving saja untuk melihatnya dari dekat," pungkas Efransjah.
(aff/aff)












































Komentar Terbanyak
Bandara Mencekam, Penumpang Panik-Ketakutan Saat Bos Kartel Tewas
Masjid Jamkaran dan Bendera Merah Balas Dendam
Daftar Negara Teraman Andai Terjadi Perang Dunia III, Ada Indonesia?