Nias, 'Harta Karun' yang Belum Digali
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Nias, 'Harta Karun' yang Belum Digali

- detikTravel
Selasa, 17 Jun 2014 13:22 WIB
Nias, Harta Karun yang Belum Digali
Suasana Lokakarya (Afif/detikTravel)
Gunungsitoli - Salah satu pulau yang tersohor di Sumatera adalah Nias. Di sinilah tempatnya peselancar dunia menguji nyali dengan ombak dan tempat melihat tradisi lompat batu yang terkenal. Sayangnya, 'harta karun' ini belum digali.

Hal ini disampaikan oleh Wamen Parekraf, Sapta Nirwandar saat pembukaan Lokakarya Pengembangan Kepariwisataan Kepulauan Nias di Kantor Bupati Nias, Jl Pelud Binaka Km 9, Ononamolo 1 Lot, Gunungsitoli Selatan, Nias, Selasa (17/6/2014). Sapta mempaparkan, Nias memang punya suguhan alam dan budaya yang sangat indah.

"Nias hanya dikenal dengan dua hal, surfing dan tradisi lompat batu. Tapi selain itu, masih banyak keindahan Nias baik dari alam dan budaya," ucap Sapta.

Pulau Asu di Kabupaten Nias Barat punya ombak setinggi 7-9 meter yang sangat menantang peselancar. Pantai Falate di Nias Barat pun memiliki bentangan pasir putih. Ada lagi Pantai Pasir Merah, Pantai Berbisik dan Pantai Toyolala yang ada perkebunan kelapa kuning di Nias bagian utara. Pantai Hoya juga tak kalah cantik.

Soal budaya, selain lompat batu setinggi 2,4 meter di Desa Bawamataluo, ada Desa Timouli yang masih terdapat rumah adat asli Nias. Rumah adat yang cukup unik, karena bisa tahan gempa. Menurut Sapta, semua potensi wisata di Nias itu belum dikelola secara maksimal.

"Baru 1.300 turis mancanegara yang berkunjung ke Nias. Ini karena belum ada penerbangan langsung, yang harus transit dulu di Kualanamu. Harusnya bisa penerbangan langsung, karena dekat dengan Malaysia dan Singapura," papar Sapta.

Sapta pun menyinggung soal promosi pariwisata Nias. Nias dikatakannya, belum punya event yang mencuri perhatian wisatawan domestik atau mancanegara.

"Di tahun 2014, sebelum akhir tahun inilah. Nias harus punya 1 event dulu, baik event budaya atau olahraga. Aduh, apalagi sebenarnya banyak budaya bagus di Nias," cetus Sapta.

Sapta kemudian memberi masukan mengenai sumber daya manusia. Dirinya berharap guide di Nias adalah guide profesional yang kalau bercerita mengenai alam dan budaya tidak 10 menit, justru bisa setengah hari. Seorang guide harus menguasai suatu tempat sampai ke hal yang detil dan menjelaskan dengan menarik serta atraktif.

"Sedih banget Nias sebenarnya punya harta karun yang begitu besar. Ini harus ditingkatkan, dimaksimalkan," pungkas Sapta.

(shf/shf)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads