"Di sini, arti hujan adalah berkah itu betul-betul benar," ujar Kepala Taman Nasional Takabonerate, Yusman kepada saya saat berkunjung ke Pulau Tinabo Besar, Takabonerate, Minggu (5/4/2015) kemarin.
Ketika itu, waktu menunjukan sekitar pukul 14.00 WITA dan hujan deras mengguyur Takabonerate. Saya dan beberapa wartawan serta rombongan Pelni sedikit kecewa, karena tidak bisa melanjutkan kegiatan seperti main kayak atau berenang. Saya yang sempat menyalahkan hujan, langsung malu mendengar ucapan Yusman itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Takabonerate memiliki 18 pulau, yang 7 pulaunya dihuni oleh penduduk yang berasal dari suku Bajo dan Bugis. Sedangkan Pulau Tinabo Besar yang saya singgahi, merupakan tempatnya polisi hutan dan pintu masuk bagi wisatawan untuk menjelajahi Takabonerate.
"Di Pulau Tinabo Besar, kami menampung air hujan. Lihat saja drum besar itu. Mengapa sampai seperti ini, sebab pihak taman nasional belum mampu membeli alat penyulingan air," papar Yusman.
Alat penyulingan air, lanjut Yusman, harganya tidaklah murah. Dia pun sering merasa malu, kala yacht milik turis asing sedang berlabuh di Takabonerate. Mereka punya alat penyulingan air sendiri, tinggal masukan air laut lalu jadilah air tawar.
"Andai ada penyulingan air, wisatawan makin nyaman datang ke sini dan penduduk di Takabonerate hidupnya juga makin baik," tutupnya sambil berkeluh kesah.
(aff/fay)












































Komentar Terbanyak
Aturan Bagasi Gratis Garuda Indonesia Berubah Mulai 1 September 2026
Viral Turis Lokal Diusir dari Pantai Bali, Pemilik Warung Klarifikasi
Curhatan Wisatawan Situ Bagendit: Tempatnya Nyaman, tapi Apa-apa Bayar