Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 04 Apr 2018 23:55 WIB

TRAVEL NEWS

Wawancara Eksklusif: Pria yang Jalan Kaki ke Palestina

Shinta Angriyana
detikTravel
Benjamin Ladraa (WalktoPalestine/Instagram)
Benjamin Ladraa (WalktoPalestine/Instagram)

FOKUS BERITA

Aksi Walk To Palestine
Jakarta - Benjamin Ladraa, seorang pria yang berjalan kaki dari Gothenburg, Swedia menuju Palestina. Aksinya viral dengan akun @walktopalestine.

DetikTravel beberapa waktu lalu juga mendapatkan kesempatan wawancara eksklusif melalui pesan online. Berikut selengkapnya, perbincangan tentang aksi Walk to Palestine dengan Benjamin Ladraa:

D: detikTravel
BL: Benjamin Ladraa

D: Bisakah kamu menceritakan dirimu dan tujuan aksi viral ini kepada pembaca?

BL: Saya percaya bahwa perubahan sosial selalu didorong oleh keinginan yang kuat. Dan kita semua harus menjadi bagian dari ini semua. Sebagai bagian dari perubahan untuk memginspirasi orang lain di dunia serta memberi pengetahuan untuk melawan kekerasan kemanusiaan di palestina dengan aksi Walk to Palestine, serta menyebarkan informasi tentang aksi yang dilakukan.

Saya hanya laki-laki biasa dari Swedia yang berbuat sebaik mungkin, saya juga seorang musisi, serta memutuskan aku harus melakukan lebih dan menjadi bagian dari aksi ini. Kita harus melihat apa yang terjadi karena banyak penderitaan di Palestina sejak 70 tahun yang lalu dan itu buruk sekali.

D: Kapan kamu memulai aksi 'Walk to Palestine'? Di manakah posisimu saat ini?

BL: Aku memulainya di Swedia, Gothenburg, 15 Agustus 2017. Aku telah berjalan sepanjang 3.000 kilometer, 8 setengah bulan yang lalu, sekarang aku berada di Instabul (Turki), aku harus menempuh 2.000 kilometer lagi untuk mencapai Palestina.

Wawancara Eksklusif: Pria yang Jalan Kaki ke PalestinaBenjamin yang berjalan kaki dari Swedia ke Palestina (WalktoPalestine/Instagram)


D: Di sepanjang perjalananmu, apakah kamu menemui keseulitan?

BL: Ini adalah perjalanan yang panjang, berjalan kaki setiap hari. Banyak tantangan, ketika aku lapar dan lelah, serta membutuhkan tempat untuk tidur. Aku sering tidur di tendaku, aku juga banyak bertemu dengan polisi, hampir setiap hari aku diberhentikan oleh polisi. Hampir setiap hari aku menerima tantangan. Tetapi selalu ada jalan untuk melewati itu semua, aku percaya setiap usaha bisa menjadi bagian dari aksi ini jika dilakukan dengan konsisten.

BACA JUGA: Perjuangan Benjamin Jalan Kaki dari Swedia untuk Palestina

D: Selain itu, apakah ada momen-momen indah dan spesial yang kamu temui di sepanjang perjalanan?

BL: Semua orang-orang hebat yang aku temui disetiap negara dan tempat lainnya. Untuk minggu terakhir, aku berjalan bersama dua orang hebat di Turki. Aku bertemu banyak orang hebat yang menunjukkan kebaikan, mereka sangat baik, mengundang untuk menginap, memberikan makanan, senyuman, dan dukungan. Aku berteman dengan banyak orang untuk selamanya.

D: Karena aksimu ini viral di dunia, adakah pesan yang ingin kamu sampaikan baik untuk Palestina atau dunia?

BL: Yang pertama, untuk Palestina, kamu tidak sendiri untuk memerjuangkan mereka untuk mendapatkan keadilan dan kebebasan serta penyetaraan. Dan Saya percaya kita bisa membantunya, kita tidak bisa menunggu politisi atau pemimpin lain untuk membenahi semuanya. Jika memang ya, itu membutuhkan banyak waktu. Sudah terlalu banyak penderitaan yang di dapatkan mereka. Terlalu banyak hal negatif, korupsi, keserakahan, serta kita membutuhkan banyak orang baik di sana.

Wawancara Eksklusif: Pria yang Jalan Kaki ke PalestinaAksinya mengundang simpatik (WalktoPalestine/Instagram)
D: Tetapi, jika sudah di Palestina, adakah hal yang ingin kamu lakukan?

BL: Sebenarnya saya tidak optimis untuk dapat memasuki wilayah Palestina. Karena Israel mengontrol suanya, mereka tidak suka aktivis atau jurnalis. Mungkin aku tidak dapat masuk, tapi memang jika bisa, aku akan membantu orang-orang di sana dan berkeliling Palestina.

D: Saya lihat kamu membawa sebuah stroller bayi, apa saja isi di dalamnya?

BL: Aku tidak membawa banyak barang, aku membawa pakaian tentunya, tenda untuk istirahat, laptop, kamera, drone, kamera GoPro, serta pengisi daya. Banyak powerbank serta alat-alat survival.

BACA JUGA: Kisah Benjamin Karena Aksi Walk to Palestine, Dicegat Polisi & Ditodong Pistol

D: Mungkin ini sedikit personal, tetapi semenjak konflik ini dekat kaitannya dengan kepercayaan dan agama, adakah alasan kepercayaan yang memengaruhimu untuk melakukan tindakan ini?

BL: Saya tidak religius sama sekali. Aku tahu banyak media menulis bahwa saya seorang Yahudi, aneh sekali. Aku bukan Yahudi, tidk religius, bukan Kristen, bukan. Kamu bisa menulisnya karena aku memang bukan seorang Yahudi, ini bukan masalah kepribadian, tidak ada alasan kepercayaan untuk melakukan aksi ini.

D: Berapa uang atau persiapan apa sajakah yang kamu bawa sebelum melakukan aksi ini?

BL: Aku menabung selama setahun, aku menjual beberapa barang untuk memenuhi kebutuhan ini. Aku mempunyai sekitar seribu eruo, ketika pergi, mungkin 1.200 Euro, namun orang-orang sangat murah hari. Beberapa kali mereka memberiku uang, aku juga punya penggalangan dana pribadi yang sukses. Sebenarnya aksi ini tidak mahal, mungkin hanya biaya makanan saja, jalan kaki gratis, begitupun dengan tenda tempat aku tidur.

Wawancara Eksklusif: Pria yang Jalan Kaki ke PalestinaSemangat terus, Benjamin! (WalktoPalestine/Instagram)


D: Di sepanjang perjalanan, apakah kamu menemukan hal yang paling menyeramkan?

BL: Aku bukan orang yang penakut, aku tidak sering takut. Aku tidak tahu hal yang aku takuti selama ini, mungkin, hal yang pertama kali terpikirkan adalah ketika aku sedang berada di Austria dan menikmati kopi di sebuah kafe. Tiba-tiba, banyak polisi dengan pistol berdiri di dekat barang-barangku di luar kafe, serta mengecek semuanya. Aku memberikan penjelasan bahwa ini semua adalah barang-barangku, namun kemudian ia berteriak dengan bahasa Jerman dan menodongku dengan pistol. Mereka meminta aku menunjukkan paspor. Aku belum pernah ditodong pistol sebelumnya, mungkin inilah hal yang paling menakutkan.

*Wawancara dilakukan dalam Bahasa Inggris untuk mempermudah komunikasi. Seluruh jawaban telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia agar mempermudah pembaca.

BACA JUGA: Bikin Sopir Betah, Ada Kamar Rasa Apartemen di Truk Ini


(sna/aff)

FOKUS BERITA

Aksi Walk To Palestine
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED