Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 23 Jul 2018 16:13 WIB

TRAVEL NEWS

Open Trip yang Murah Banget Itu Tidak Masuk Akal

Fitraya Ramadhanny
detikTravel
Foto: Ilustrasi traveler (Thinkstock)
Jakarta - Jangan tergiur dengan open trip yang harganya murah banget. Coba dipikir, yang bikin open trip mau untung dari mana? Bisa-bisa wisatawan dikorbankan.

Banyak traveler yang menjadi korban open trip murah. Yang bikin open trip terkadang merangkap tour leader juga. Masalah yang muncul bermacam-macam. Ada yang gagal berangkat, wanpretasi atau tidak sesuai janji, ada yang ditinggal di luar negeri. Yang paling sering terjadi adalah masalah utang kepada wisatawan atau pihak rekanan.

"Mereka ini bisa menawarkan harga tiket tidak masuk akal murahnya," ujar pakar pariwisata Universitas Indonesia, Diaz Pranita, kepada detikTravel, Senin (23/7/2018).



Dosen Program Studi Pariwisata Vokasi UI ini mengatakan, pelaku usaha open trip ada di komunitas traveling atau ikutan bisnis travel agent mandiri. Sambil kerja dari rumah pun mereka bisa jualan tiket atau mereka buat paket open trip.

Di sinilah para traveler dituntut kritis. Yang namanya orang jualan pasti mau cari untung, itu wajar. Tapi coba deh teliti dengan penawaran paket open trip murah. Harganya berapa, dapatnya apa saja dan coba hitung sendiri. Kalau marginnya tipis banget atau justru negatif, traveler mesti curiga.

"Iya (tidak masuk akal-red), apalagi di dalam grup besar," imbuhnya.



Menurut Diaz, pelaku usaha open trip bisa mendapatkan tiket dengan harga sangat miring. Mereka bisa pakai point rewards yang diperjualbelikan. Namun semua ini berisiko. Sedangkan travel agent profesional punya batas bawah harga paket yang dijual.

"Kalau harga travel agent beneran sudah tertakar soalnya. Nggak mungkin bisa jual paket di bawah harga wholesale," kata Diaz.



Banyak perusahaan travel menjual paket-paket liburan murah. Tapi harga murah yang mereka tawarkan masih masuk akal. Masih jelas margin keuntungannya untuk perusahaan travel.

"Seringkali mereka konsorsium menawarkan paket-paket yang murah tetapi tidak sangat murah seperti open trip yang berkembang di masyarakat," tutupnya. (fay/wsw)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA