Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 04 Agu 2018 17:35 WIB

TRAVEL NEWS

Meriahnya Festival Sangiang Api di NTB

Harianto Nukman
Redaksi Travel
Kemeriahan Festival Sangiang Api di Bima, Sumbawa, NTB (Ayang Saifullah/istimewa)
Kemeriahan Festival Sangiang Api di Bima, Sumbawa, NTB (Ayang Saifullah/istimewa)
Bima - Destinasi wisata Nusa Tenggara Barat (NTB) tak hanya terpusat di Pulau Lombok, tapi juga Pulau Sumbawa. Malah, tengah dilangsungkan Festival Sangiang Api.

Gunung Sangiang Api merupakan gunung berapi yang bertempat di sudut timur laut Pulau Sumbawa Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Secara administratif menjadi bagian dari wilayah Kabupaten Bima.

Sangiang Api berada di tengah daratan Pulau Sangiang, sebuah pulau vulkanis yang seolah-olah posisi keberadaannya menyembul di tengah ketenangan Laut Flores yang permai.

Dibandingkan dengan gunung berapi lainnya, ukuran Sangiang Api ini tampak lebih kecil daripada gunjng berapi yang ada di Indonesia. Makanya tak heran jika belum banyak traveler mengenalnya.

Meriahnya Festival Sangiang Api di NTBFestival ini berlokasi dekat Gunung Sangiang Api (Ayang Saifullah/istimewa)
Jika traveler berencana untuk berwisata ke NTB, sempatkanlah waktu berkunjung ke Desa Sangiang. Tahun ini, Karang Taruna Desa Sangiang menjadi panitia utama dalam gelaran Festival Sangiang Api 2018.

Festival ini dihelat sejak 28 Juli dan puncaknya berakhir pada 17 Agustus 2018 nanti. Event Festival Sangiang Api ini sangat sayang jika dilewatkan, karena sejumlah gelaran disuguhkan dalam rangkaian Festival.

Salah satu gelaran agenda tahunan yang rutin dilakukan sejak tabun 2014 lalu yaitu Lomba Sampan Layar Tradisional.

Ayang Saifullah, ketua panitia dari Festival Sangiang Api 2018 membeberkan kepada detikTravel, Jumat (3/8/2018) tentang jenis lomba sampan tradisonal tersebut.

Lomba sampan tradisionalLomba sampan tradisional (Ayang Saifullah/istimewa)
Untuk jenis lomba sampan layar tradisional itu sendiri, beber Ayang, mengambil titik star dari Pulau Sangiang kemudian finish di Desa Sangiang.

"Lintasan yang dilewati dalam lomba ini berjarak sekitar 7 mil atau kurang lebih 12 kilometer, yang melewati ganasnya Lautan Flores. Peserta lomba sampan biasanya terdiri dari 2 kelas, kelas A kategori VIP yang sampannya berukuran 5 meter dan kelas B kategori ekonomi yang sampannya ukuran sedang dan kecil sekitar 4-5 meter," jelasnya kepada detikTravel.

Sejak pertama kali digelar, lomba sampan ini diikuti oleh 35 sampan peserta. Sampan yang digunakan pun memang dipersiapkan untuk mengikuti lomba dan hanya menggunakan kekuatan angin tanpa pakai mesin motor.

"Tahun ini, jumlah peserta sebanyak 30 sampan layar, dia tidak menggunakan sistem tim, tapi langsung per individu yang punya sampan. Dalam satu Sampan biasanya terdiri dari 7 - 8 Orang, 2 Orang pengendali. Nggak pakai mesin ini, pakai layar mengandalkan angin. Yah, sekitar 6-7 orang, penyeimbang 5-6 Orang, nahkoda 1 orang, sisanya sebagai penyeimbang yang berdiri di Cadik sampan," jelas Ayang.

Selain menggelar lomba sampan tradisional, Karang Taruna Desa Sangiang menggelar Expo Kerajinan Rakyat. Acara ini dikemas dalam bentuk bazar dan diikuti oleh para pengerajin industri rumah tangga dengan menampilkan berbagai macam produk seperti sarung tenun atau Tembe Nggoli dalam bahasa lokal setempat, tikar pandan, dan panganan Dodol Wera.

Rangkaian event yang tak kalah menarik, panitia juga mengadakan jelajah Gunung Sangiang Api. Kegiatan ini bertujuan untuk pemetaan potensi bencana dan sekaligus pemetaan potensi pariwisata, selain pendataan satwa dan keanekaragaman hayati.

Bukan hanya itu, salah satu tradisi leluhur Orang Sangiang yang masih dipelihara secara turun-temurun hingga saat ini diadakan juga Nggalo Ruhu atau tradisi berburu massal. Hewan buruan biasanya kijang dan rusa.

Acara ini merupakan bagian dari tradisi leluhurAcara ini merupakan menampilkan tradisi leluhur ( Ayang Saifullah/istimewa)
Seperti yang dikatakan Ayang Saifullah, tradisi ini hanya dilakukan setahun sekali dalam rangka acara sambutan bagi petinggi dan pejabat di daerah.

"Sebelum Nggalu Ruhu dilaksanakan, pemimpin kampung menunjuk panglima berburu. Oleh warga Sangiang disebut Dallu," tuturnya.

Dengan adanya Festival Sangiang Api ini Desa Sangiang akan menjadi magnet bagi banyak wisatawan untuk menyaksikan kebudayaan Bima.

Sisi lainnya, tentu saja ini akan berdampak pada lahirnya karya-karya inovatif dan kreatif dalam menyongsong pangsa pasar pariwisata yang ada di NTB.

Nah, tunggu apalagi, traveler yang senang bertualang menikmati keindahan wisata alam bisa datang ke Pulau Sangiang.

Rutenya jika bertolak dari Terminal Dara yang berfungsi sebagai terminal antarprovinsi yang ada di Kota Bima, traveler kemudian menuju Terminal Tawali dengan jarak tempuh sekitar 1 jam lebih terus ke Desa Sangiang sekitar 10 menit menggunakan motor ojek. (rdy/rdy)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED