Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 12 Sep 2018 17:30 WIB

TRAVEL NEWS

Sekarang Namanya Geopark Gunung Sewu Minus 5

Afif Farhan
detikTravel
Pembangunan peternakan ayam di Geopark Gunung Sewu yang membabat bukit karst (Istimewa/Cahyo)
Pembangunan peternakan ayam di Geopark Gunung Sewu yang membabat bukit karst (Istimewa/Cahyo)
Gunungkidul - Pembangunan peternakan ayam di kawasan Geopark Gunung Sewu bukan hanya ditakutkan soal limbah. Namun pembangunannya sendiri, sudah membabat 5 bukit karst.

Hal itu disampaikan oleh Cahyo Alkantana. Seorang pengelola Gua Jomblang dan kawasan Geopark Gunung Sewu di Gunungkidul, DI Yogyakarta, sekaligus Ketua Asosiasi Wisata Goa Indonesia (ASTAGA).

"Saya sudah datang ke sana dan survei langsung. 5 Conical karst sudah dipenggal menjadi lahan rata," katanya kepada detikTravel, Rabu (12/9/2018).

BACA JUGA: Jangan Dirusak! Geopark Gunung Sewu Sudah Hidupkan Banyak Orang

Menurut Cahyo, conical karst merupakan lanskap bentang karst yang berbukit-bukit dengan jumlah yang sangat banyak. Bentang alam seperti seperti itu tidak banyak di dunia, menurutnya hanya ada di Slovenia dan di Indonesia yakni Geopark Gunung Sewu. Geopark Gunung Sewu pun mencakup dalam 3 wilayah di Pulau Jawa yakni Jawa Tengah, DI Yogyakarta dan Jawa Timur.

"Salah satu parameter Geopark Gunung Sewu diakui UNESCO adalah karena adanya conical karst. Ya sekarang namanya berarti Geopark Gunung Sewu Minus 5," geram Cahyo.

Sekarang Namanya Geopark Gunung Sewu Minus 5Foto: (Istimewa/Cahyo)


Menurut Cahyo, hal tersebut sudah melanggar aturan. Jelas-jelas, tidak boleh untuk mengubah bentang alam apalagi sampai merusaknya di dalam kawasan geopark.

"Itu ada peraturannya dan ada undang-undang tertulis. Siapapun yang mengubah bentang alam kawasan karst sudah termasuk ranah hukum pidana," tegasnya.

BACA JUGA: Ini Penjelasan Pengelola Peternakan Ayam di Geopark Gunung Sewu

Kini, Pemkab Gunungkidul rencananya akan melayangkan surat peringatan kedua (SP II) ke pengelola peternakan ayam atas nama PT Widodo Makmur Unggas tersebut. Diketahui, pembangunan peternakan ayamnya belum memiliki izin Amdal (Analisis mengenai dampak lingkungan).

"Betul memang Desa Pacarejo adalah kawasan untuk peternakan unggas. Tapi tidak semena-mena, dibangun di dekat kawasan gua apalagi sampai merusak bukit karst," pungkas Cahyo yang juga menjabat sebagai President Indonesia Adventure Travel and Trade Association (IATTA). (aff/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED