Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 09 Jan 2020 09:14 WIB

TRAVEL NEWS

Mengenal Kimono dari Masa ke Masa

Putu Intan Raka Cinti
detikTravel
Ilustrasi kimono di Jepang. (Foto: iStock)
Jakarta - Kimono yang kita kenal saat ini ternyata mengalami serangkaian perkembangan yang membuatnya semakin terlihat cantik.

Traveler pasti tak asing dengan kimono. Ya, salah satu pakaian tradisional Jepang ini dapat dengan mudah traveler jumpai saat plesiran ke Jepang atau traveler lihat dari produk media Jepang.

Kimono berasal dari kata Jepang yaitu ki yang berarti pakai dan mono yang berarti barang. Sehingga kimono dapat diartikan sebagai sesuatu yang dikenakan atau pakaian. Saat ini kimono lebih dikenal sebagai pakaian tradisional Jepang.

Foto: (iStock)

Pakaian ini terbilang unik karena dalam pembuatannya menggunakan teknik straight line cut yaitu memotong kain dalam garis lurus kemudian menjahitnya secara bersamaan. Ketika memproduksi kimono, orang tidak harus memperhatikan bentuk tubuh pemakainya.

Selain itu, kimono ini juga digemari karena sifatnya yang serbaguna. Pakaian ini dapat dengan mudah ditambah sehingga berlapis atau dikurangi lapisannya sesuai dengan musim dan cuaca.


Nah, bila melihat perkembangan Kimono, pakaian ini mulai digunakan pada masa Heian (794-1185). Dilansir dari Culture Trip, Selasa (7/1/2020), pakaian ini terinspirasi dari pakaian khas China yang disebut hakama. Hakama adalah baju panjang dengan atau tanpa pemisah di bagian kaki yang mirip dengan celana. Selain itu konon kimono juga terinspirasi dari mo, pakaian sejenis apron.

Kemudian agar kimono terlihat lebih fashionable, gaya kimono ini tak lagi melibatkan hakama. Dengan begitu, penggunanya harus mengenakan sesuatu untuk menahan jubah. Dari situ munculah obi atau ikat pinggang lebar yang semakin mempercantik kimono.

Dalam mengenakan kimono terdapat aturan kerah depan bagian kanan harus berada di bawah kerah bagian kiri. Setelah itu, penggunanya disarankan untuk mengenalan alas kaki berupa sandal dari kayu yang disebut zori atau geta.

Foto: (iStock)


Berlanjut ke masa Kamakura (1185-1333), kimono telah menjadi pakaian sehari-hari. Pada masa inilah kimono mulai mengenal mode layering. Saat itu kimono digunakan berlapis dan memunculkan tren kombinasi warna tradisional di Jepang.

Di masa Kamakura dan Muromachi, baik perempuan maupun laki-laki mengenakan kimono berwarna cerah. Warna ini juga biasanya dipengaruhi musim, gender, ikatan politik hingga keluarga.

Seni dalam membuat kimono mulai muncul pada masa Edo. Kimono dianggap sebagai karya seni asli yang harganya bisa melebihi harga sebuah rumah keluarga. Karena itu, orang-orang akan menyimpan kimono-nya secara turun temurun dari generasi ke generasi.


Kimono yang terbuat dari sutra berat biasanya digunakan pada musim gugur dan dingin, sedangkan yang terbuat dari linen dan katun atau yang disebut yukata akan digunakan saat musim panas. Yukata juga umumnya digunakan selama festival musim panas dan penampilan kembang api (miyabi).

Sejak masa Edo (1603-1868), fesyen laki-laki dan perempuan relatif tidak berubah. Pada masa itu juga Jepang tengah dipimpin klan prajurit Tokugawa. Hal ini berimplikasi pada samurai dari setiap daerah kekuasaan yang akan punya warna dan pola kimono yang serupa.

Pakaian mereka ini terdiri atas tiga bagian yaitu sebuah kimono, pakaian tanpa lengan yang disebut kamishimo akan dikenakan di atas kimono, dan hakama yang merupakan rok seperti celana. Kalau traveler pernah menonton serial Samurai X pasti tak asing dengan tampilan ini.


Namun, akhirnya kerumitan mengenakan kimono dan sandal zori yang berat menjadi penghalang mobilitas masyarakat Jepang.

Kimono mulai ditinggalkan pada masa Meiji (1868-1912) ketika pemerintah mendorong orang-orang untuk mengadopsi gaya berpakaian barat. Saat itu pejabat pemerintah dan personil militer bahkan diwajibkan undang-undang untuk mengenakan pakaian barat. Kebijakan ini juga mengatur warga biasa untuk menghias kimono sesuai latar belakang keluarga setiap mereka menghadiri acara formal.

Saat ini kimono masih terus digunakan masyarakat Jepang terutama pada acara atau perayaan tertentu. Tak hanya orang Jepang yang suka mengenakan kimono, masyarakat internasional juga mengagumi pakaian tersebut. Maka tak jarang salah satu hal yang wajib dilakukan traveler saat ke Jepang adalah mencoba mengenakan kimono langsung dari tempat asalnya.




Simak Video "dYouthizen: A New Basecamp for YOU!"
[Gambas:Video 20detik]
(elk/elk)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA