Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 23 Jun 2020 18:00 WIB

TRAVEL NEWS

Ini Cerita Orca Bisa Dapat Julukan Paus Pembunuh

Tim detikcom
detikTravel
A pod of orcas, including a juvenile, swim beneath us in the warm waters of the Solomon Islands.
Ilustrasi (Getty Images/Michael Zeigler)
Jakarta -

Paus pembunuh atau orca kembali muncul di perairan Indonesia, kali ini di Biak Numfor setelah sebelumnya terlihat di perairan Anambas. Yuk kenal lebih dekat dengan 'pembunuh imut' ini.

Jagad maya dihebohkan dengan video penampakan paus pembunuh atau orca di perairan Biak Numfor, Provinsi Papua. Sebelumnya paus pembunuh juga muncul di perairan Anambas pada bulan April lalu.

Dirangkum detikcom, kemunculan paus di Indonesia ini termasuk fenomena yang langka. Karena itu mari kita kenalan dengan mamalia raksasa ini yuk.

Asal Nama Paus Pembunuh

Orca atau paus pembunuh memiliki nama latin Ornicus Orca. Hewan ini bukanlah ikan apalagi paus. Orca adalah mamalia keluarga lumba-lumba.

Nama paus yang diberikan sebenarnya memiliki kisah. Konon, ketika masa perburuan paus di Australia, orca membantu manusia.


Orca bisa dengan mudah menemukan paus-paus. Sehingga orca diberi julukan whale killer atau pembunuh paus. Namun julukan tersebut malah berubah menjadi killer whale atau paus pembunuh.

Makanan Utama Paus Pembunuh


Mamalia ini hidup bergerombol hingga 40 ekor dengan gaya hidup sangat suka berburu. Makanan utama mereka adalah ikan, gurita, cumi-cumi hingga burung laut. Mereka hanya memakan binatang yang berukuran lebih kecil.

Walau suka makanan kecil, orca memiliki tubuh yang besar dan gigi panjang yang tajam. Menjadi predator tingkat satu, orca mampu untuk menyerang hiu putih atau white shark yang ganas lho.

Meski demikian, belum pernah ada sejarah yang mencatat bahwa orca memangsa manusia. Karena sejatinya orca adalah lumba-lumba.

Pola Migrasi Paus Pembunuh



Habitat hidup orca atau paus pembunuh dimulai dari tempat yang sangat dingin seperti kutub sampai perairan hangat. Maka kemunculannya di Indonesia yang condong hangat menjadi momen yang sangat langka.

"Migrasi orca tidak mengikuti pola musim. Ketika migrasi orca menggunakan sonar untuk memancarkan gelombang akustik yang dimilikinya untuk memandunya mencari mangsa dan menuju lokasi yang ditujunya," ujar Peneliti Madya Bidang Oseanografi Terapan Laboratorium Data Laut dan Pesisir, Pusat Riset Kelautan,Badan Riset & SDM, Kementerian Kelautan dan Perikanan Dr Widodo Pranowo, saat dihubungi detikcom saat kemunculan orca di Perairan Anambas.


Penjalaran gelombang akustik di kolom massa air laut sangatlah tergantung oleh suhu laut dan densitas massa air laut. Densitas massa air laut dipengaruhi dari konsentrasi partikel-partikel yang terlarut di dalam air laut tersebut, seperti kadar garam dan konsentrasi terlarut lainnya.

"Ketika ada suatu anomali massa air laut, maka kecepatan penjalaran gelombang akustik yang dipancarkan oleh orca juga bisa terganggu atau terbelokkan sehingga orca pun tersesat," tambahnya.

Sonar navigasi orca atau paus pembunuh yang terlihat di Anambas dan Biak Numfor juga bisa dipengaruhi oleh faktor ekstrem lainnya seperti sinyal seismik yang digunakan oleh manusia dalam survei mencari potensi sumber-sumber minyak di bawah dasar laut. Percobaan-percobaan militer atau ledakan di bawah air juga bisa menghasilkan sinyal akustik ekstrim.



Simak Video "Paus Pembunuh Terlihat di Biak, Susi Pudjiastuti Sampaikan Harapan"
[Gambas:Video 20detik]
(sym/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA