Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 05 Sep 2020 12:21 WIB

TRAVEL NEWS

Perhimpunan Taman Rekreasi Minta Kemenparekraf Alirkan Insentif

Johanes Randy Prakoso
detikTravel
Taman Safari Prigen simulasi new normal
Taman Safari Indonesia (Foto: Muhajir Arifin/detikcom)
Jakarta -

Pandemi corona turut berdampak pada keberlangsungan taman rekreasi di Indonesia. Kemenparekraf pun diminta aktif bergerak.

Hal itu diungkapkan oleh Ketua Umum Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI), Bambang Soetanto dalam webinar Kampanye Indonesia Care & Panduan Protokol Kesehatan untuk Daya Tarik Wisata, Jumat (4/8/2020), yang diselenggarakan Kemenparekraf dan Voxpp Shout.

Diungkapkan oleh Bambang, tak sedikit taman rekreasi di Indonesia yang kini berada dalam situasi sulit. Taman rekreasi yang telah kembali buka di masa adaptasi kebiasaan baru ini banyak yang masih menderita kerugian.

"Ongkos operasional tak akan cocok dengan penerimaan hari. Jangan sampai sudah buka terus minus, ini fakta di lapangan. Secara umum objek wisata sudah bangkit, tapi kalau tidak ditolong bantu semangat bisa lengser," urai Bambang.

Mewakili para pengelola taman rekreasi, Bambang menyebut kalau sudah banyak anggotanya yang taat dan menjalankan protokol kesehatan di tempat masing-masing sesuai syarat pemerintah.

"Kalau protokol kesehatan kita sudah sebar ke DPD, 20 di seluruh Indonesia untuk mengikuti kebijakan pemerintah untuk kita laksanakan," urai Bambang.

Namun, Bambang juga menuntut bantuan dari Pemerintah khususnya Kemenparekraf yang menaungi sektor pariwisata. Stimulus ekonomi saat ini sangat dibutuhkan untuk keberlangsungan hidup anggotanya.

"Sekarang semua stimulus itu belum dirasakan oleh objek wisata, itu yg harus dikawal bapak-bapak yang di atas. Apa benar karyawan yang gajinya di bawah 5 juta dapat bantuan? Belum itu. Ini yang harus dikawal," ujarnya.

Senada dengan Bambang, salah satu pendiri Taman Safari Indonesia (TSI) Tony Sumampau, juga menjelaskan kondisi operasional kebun binatang miliknya yang sedang sulit saat ini.

"Cukup berat untuk objek wisata, terutama setelah kita tutup 3 bulan. Dari pemerintah pusat (Kemenparekraf) mungkin sudah dapat keringanan, tapi setempat belum. Padahal PAD kami bayar lebih kurang 56 M tiap tahun, tapi dengan adanya COVID kami belum diberikan sesuatu," ujar Tony.

Saat ini, pihak TSI telah dikunjungi sekitar 1.000 pengunjung dari total kapasitas normal sebanyak 3.500 pengunjung per hari atau sekitar 45%.

"Lebih dari 45% saat ini, dan kami merasakan sudah bersyukur mudah-mudahan ini berjalan terus," tambah Tony.

Menjawab pertanyaan Bambang dan Tony, Frans Teguh selaku Staf Ahli Bidang Pembangunan Keberlanjutan dan Konservasi Kemenparekraf RI ikut maklum. Disebutnya, Pemerintah telah berusaha sebaik mungkin untuk menyalurkan stimulus pada para pelaku yang membutuhkan.

"Pemerintah hari ini memang tengah menyiapkan stimulus. Kami di Kemenparekraf sudah sangat serius. Pertanyaannya, kapan hari ini mekanisme tersedia. Itu butuh data yang tepat, mekanismenya kordinasi dengan daerah. Hari ini pariwisata harus membangun sinergi itu. saya kira itu yang sedang kami kerjakan hari-hari ini dengan kementerian terkait," urai Frans.

Bicara stimulus ekonomi, memang tak eksklusif diurus satu kementerian saja, Kemenparekraf saja. Sinergi antara kementerian memang dibutuhkan untuk mengalirkan stimulus agar tepat sasaran. Semoga para pelaku pariwisata bisa segera mendapatkannya.



Simak Video "Pemprov DKI: Tes PCR Sudah Lampaui 4 Kali Lipat Standar WHO"
[Gambas:Video 20detik]
(rdy/msl)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA